Sukses

Ini Ciri-ciri Lidah pada Penderita HIV/AIDS

Penyakit HIV/AIDS dapat terdeteksi dari lidah juga. Apa saja tanda-tandanya?

Klikdokter.com, Jakarta Dari sekian banyak tanda dan gejala HIV/AIDS, tak banyak yang mengetahui bahwa lidah juga dapat menjadi organ tubuh yang diserang. Salah satu gangguan kesehatan yang harus diwaspadai adalah leukoplakia. Baca penjelasannya lebih dalam di bawah ini.

Leukoplakia vs. Leukoplakia Berambut

Leukoplakia merupakan bercak-bercak putih dan tebal yang terbentuk dalam mulut. Lokasi kemunculannya meliputi gusi, bagian dalam pipi, bagian bawah mulut, dan lidah. Mereka tidak dapat dihilangkan dengan cara digosok, baik dengan sikat gigi atau alat perawatan mulut lainnya.

Biasanya, bercak-bercak tersebut tidak menimbulkan sakit sehingga mungkin tidak terlalu diperhatikan. Meski demikian, penderita dapat merasa lebih sensitif terhadap sentuhan, sensasi panas, dan makanan pedas.

Ada juga jenis leukoplakia lain yang tidak biasa, yakni leukoplakia berambut (oral hairy leukoplakia) yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Tipe ini banyak terjadi pada orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Ciri-cirinya adalah bercak-bercak putih di lidah yang tampak “bergelombang” dan berambut.

Sama seperti leukoplakia biasa, bercak-bercak pada leukoplakia berambut juga sulit untuk dihapus. Selain itu, penderita kadang merasakan ketidaknyamanan dan perubahan dalam sensasi indera pengecapan.

Secara penampakan, leukoplakia berambut mirip dengan kandidiasis mulut, sebuah infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida yang umumnya dialami oleh orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kandidiasis mulut ini juga bisa menjadi salah satu tanda pertama infeksi virus HIV.

1 dari 2 halaman

Leukopakia Berambut pada HIV

Pada penderita HIV, kemunculan leukoplakia berambut ini dapat menjadi peringatan bahwa HIV yang dialami memburuk. Sehingga, penderita harus melakukan cara-cara untuk meningkatkan imunitasnya atau mengubah pengobatannya saat ini. Pada beberapa kasus, dokter mungkin akan memberikan obat antiviral.  

Untuk mencegah leukoplakia berambut, penderita HIV harus lebih mencermati sistem kekebalan tubuhnya. Ikuti saran dokter mengenai pengobatan HIV Anda dan periksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin. Di samping itu, penting bagi Anda untuk menerapkan atau mempertahankan gaya hidup sehat. Konsumsi makanan sehat, olahraga teratur, dan praktik seks aman adalah hal-hal yang harus menjadi perhatian.   

Apabila Anda merasa memiliki leukoplakia berambut dan belum pernah melakukan tes HIV, perlu diketahui bahwa ini dapat menjadi tanda HIV atau gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya. Karena itu, jangan ragu untuk segera menemui dokter.  

Gangguan rongga mulut lainnya

Selain leukoplakia berambut, ada lagi beberapa gangguan di rongga mulut yang merupakan manifestasi dari infeksi HIV/AIDS. Berikut di antaranya:

· Herpes mulut

Semua orang dapat mengalami herpes mulut, tetapi pada orang dengan HIV atau gangguan kekebalan tubuh lainnya, kondisi ini dapat lebih parah dan bertahan lebih lama.

· Sariawan

Sebenarnya sariawan bukan merupakan gejala HIV, tetapi memiliki HIV dapat meningkatkan risiko Anda mengalami sariawan berulang dan luka yang lebih parah.

· Human papillomavirus (HPV)

Tak hanya mengincar alat kelamin, HPV juga dapat menyerang mulut dan bibir. Bentuknya bisa seperti benjolan atau kembang kol kecil yang memiliki lipatan. Warnanya putih hingga merah jambu dan abu-abu. Bergantung pada lokasinya, HPV pada penderita HIV dapat pecah secara tidak sengaja dan berdarah.

Infeksi pada mulut ini dapat mengganggu pengobatan HIV. Anda dapat sulit menelan, dan pada akhirnya absen minum obat dan makan. Bicarakan dengan dokter Anda jika mengalami kesulitan dalam minum obat akibat infeksi mulut ini.

Untuk menangani sekaligus mencegah infeksi mulut yang berkaitan dengan HIV/AIDS, Anda harus rutin melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. Dokter gigi dapat membantu mendeteksi masalah sedari dini sehingga mencegahnya memburuk. Tak lupa, jika Anda merasa memiliki tanda-tanda leukoplakia berambut pada lidah, segeralah menemui dokter untuk didiagnosis lebih lanjut.

[RS/RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar