Sukses

Dampak Multitasking untuk Otak Anda

Multitasking dinilai mampu menuntaskan seluruh tugas Anda. Namun, hal ini sesungguhnya buruk untuk otak.

Klikdokter.com, Jakarta Seberapa sering Anda multitasking dalam bekerja? Melakukan lebih dari satu tugas, aktivitas, atau kegiatan di waktu yang bersamaan kadang memang dapat menstimulasi kreativitas dan mencegah Anda dari kebosanan.

Namun, bagi sebagian besar orang, multitasking merupakan hal yang sulit untuk diterapkan di segala situasi. Adapun ketika multitasking, seringnya aktivitas-aktivitas tersebut tidak benar-benar berjalan maksimal secara seiringan. Seseorang harus menuntaskan satu hal terlebih dahulu, sebelum mengerjakan yang lainnya.

Dilansir TIME, manusia konon diciptakan sebagai makhluk monotasker alias hanya bisa melakukan satu kegiatan dalam setiap momen. Hanya ada 2,5 persen penduduk di muka bumi yang katanya bisa melakukan multitasking secara efektif.

Itu menjelaskan mengapa melakukan lebih dari satu kegiatan dalam waktu yang bersamaan dapat membahayakan. Misalnya jika Anda membuka ponsel sambil berkendara, karena dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Sama halnya saat Anda mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan tanpa fokus pada satu hal terlebih dahulu, hal itu dapat mengganggu kemampuan Anda dalam berfungsi sebaik mungkin.

Selain itu, ada beberapa hal yang dapat memengaruhi tubuh dan otak Anda saat melakukan multitasking dan memicu sederet kemungkinan buruk. Apa sajakah itu? Perhatikan daftarnya di bawah ini.

1. Perhatian

Multitasking dikaitkan dengan berkurangnya aktivitas di daerah otak yang berperan penting dari segi kemampuan menaruh perhatian terhadap sesuatu. Seperti pada kasus mengemudikan mobil sambil bermain ponsel misalnya, Anda tak akan bisa melakukan kedua hal tersebut secara maksimal.

Studi lain turut membandingkan antara pelaku multitasking yang mengerjakan hal berat serta ringan. Multitasker yang mengerjakan hal berat tampil buruk dalam tes kemampuan pengalihan tugas, penyebabnya karena kesulitan yang lebih besar dan membutuhkan pusat perhatian berlebih pada satu objek.

2. Beban pikiran

Mereka yang fokus terhadap satu hal saja, dinilai mampu melakukan lebih dari sekadar memperhatikan. Lebih dari itu, respons Anda akan lebih baik dalam menanggapi satu hal tersebut. Hal ini berbeda jika Anda tengah melakukan multitasking.

Makin banyak kegiatan multitasking, makin banyak pula beban pikiran dalam otak. Dalam jangka panjang, mereka yang pikirannya terbebani akan menderita depresi, rasa cemas berlebih, penyakit kronis, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.

“Menjauhkan diri sejenak dari multitasking dapat memberikan manfaat pada segala aspek kehidupan, termasuk di tempat bekerja,” ujar Cynthia Kubu, psikolog serta peneliti dari Cleveland Clinic Lerner College of Medicine, dilansir TIME.

3. Proses pembelajaran

Lebih lanjut, Kubu memaparkan bahwa makin sering melakukan aktivitas secara multitasking, Anda akan makin kehilangan kemampuan untuk fokus belajar secara perlahan. Perhatian sangatlah penting untuk dilakukan sebagai upaya menyerap informasi dengan komplet.

“Jika kita berusaha multitasking terus-menerus sejak dini, kita pun tidak terbiasa untuk terlibat dalam pemrosesan dan pembelajaran yang lebih dalam. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa multitasking dengan teknologi (seperti mengirim SMS, mendengarkan musik, mengecek email) dapat berdampak buruk terhadap kegiatan belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, belajar, serta menilai sesuatu,” tambah Kubu.

Percayalah, memahami dan mengerjakan sesuatu secara lebih detail dapat membuat hasilnya lebih berkualitas ketimbang multitasking. Otak pun bisa lebih optimal dalam menjalankan fungsinya alias tidak kebingungan sendiri. Karena itu, jika Anda sering melakukan multitasking, mungkin ini saatnya untuk berpikir ulang dan mengubah kebiasaan tersebut.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar