Sukses

6 Pertanyaan Penting Seputar Celana Dalam

Bolehkah memakai celana dalam dua hari berturut-turut? Apakan celana dalam antibakteri diperlukan? Semua dijawab di sini!

Klikdokter.com, Jakarta Apa pun jenis celana dalam yang Anda pakai bokser, thong, hipster, brief atau model segitiga – merupakan bagian penting dari isi lemari pakaian Anda. Jika pria cenderung tak peduli dengan berapa banyak celana dalam yang dimiliki, wanita justru sebaliknya. Seperti dilansir di laman Elite Daily, sebuah penelitian di Inggris menemukan rata-rata wanita memiliki 34 celana dalam: 20 untuk pemakaian sehari-hari dan 14 untuk berbagai momen spesial. Termasuk Anda?  

Di luar dari berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli celana dalam, jenis celana dalam yang dibeli, dan fakta bahwa memang Anda harus menaruh perhatian lebih demi kesehatan organ intim Anda (sekaligus tetap tampak seksi!), ada beberapa pertanyaan seputar celana dalam dari aspek kesehatan yang mungkin pernah terlintas di benak dan belum Anda temukan jawabannya.

1. Bolehkah mengenakan celana dalam selama dua hari berturut-turut?  

Menurut Dr. J. Scott Kasteler, M.D., dermatolog dan rekan profesor kedokteran klinis dermatologi dari Universitas Louisville, Amerika Serikat, yang dikutip di laman Everyday Health, tidak mengganti celana dalam selama dua hari tidak membahayakan kesehatan, asalkan tetap bersih tanpa “jejak” seperti urine atau tinja.

Meski demikian, sebelum memakai lagi celana dalam yang Anda pakai kemarin, ada dua poin penting yang harus Anda perhatikan:

  • Pertama, jika Anda memiliki goresan, luka, atau ruam kulit di area organ intim, jangan menggaruknya dari luar celana dalam karena Anda dapat berisiko mengalami infeksi.
  • Kedua, jika hari itu Anda banyak berkeringat, lebih baik menggantinya dengan celana dalam yang bersih. Khususnya pada wanita, peningkatan kelembapan di area kewanitaan dapat menyebabkan jamur Candida berkembang biak, sehingga Anda pun rentan terkena infeksi jamur. Meski pria tidak memiliki risiko yang sama, tapi alangkah baiknya untuk menjaga area penis tetap kering.  

Menurut sebuah studi di Iran yang diterbitkan di jurnal Badan Kesehatan Dunia (WHO), semakin sering mengganti celana dalam dikaitkan dengan penurunan tingkat infeksi saluran kemih pada wanita hamil. Meski demikian, sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Gynecology & Obstetrics mencatat bahwa tidak ada kaitan langsung antara infeksi vagina dan seberapa sering siswi universitas—yang menjadi objek studi—mengganti celana dalam.  

Untuk kebersihan dan kenyamanan, memang yang paling baik adalah mengganti pakaian dalam paling tidak sehari sekali, atau lebih sering, jika aktivitas pada hari itu sangat padat dan menyebabkan area organ intim ‘banjir’ keringat.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

2. Apakah bahan celana dalam benar-benar penting?  

Tentu saja! Dari sudut pandang kesehatan, bahan celana dalam punya pengaruh penting. Untuk mencegah timbulnya berbagai masalah pada organ intim, seperti vulvovaginitis (infeksi atau peradangan pada vulva dan vagina) atau tinea cruris (infeksi jamur yang menjangkiti kulit di bagian paha dalam, sekitar kelamin, dan bokong), banyak para ahli yang menyarankan penggunaan celana dalam yang bersih, tidak ketat, serta berbahan katun. Hal ini penting demi sirkulasi udara yang baik dan menyerap kelembapan yang bisa menjadi katalisator infeksi di area organ intim.

Hal ini juga disetujui oleh dr. Kartika Mayasari, yang mengatakan bahwa celana dalam berbahan nilon (termasuk celana jeans ketat) meningkatkan risiko tumbuhnya jamur pada vagina. Keluhan yang biasanya terjadi adalah keputihan yang terasa mengganggu.

3. Apakah boleh berolahraga menggunakan thong? 

Sebetulnya belum ada studi yang mempelajari kaitan antara pemakaian thong saat sedang berolahraga dan konsekuensi kesehatannya. Meski demikian, Anda mungkin harus berhati-hati sebelum berlari di atas treadmill dengan thong di balik celana olahraga Anda. Masalahnya, penggunaan thong bisa berisiko, khususnya jika Anda pernah mengalami masalah pada vagina atau infeksi ragi.

Ketika dipakai, thong sangat mungkin untuk bergeser sehingga bakteri yang menempel pun akan turut berpindah, misalnya perpindahan bakteri dari area dubur ke vagina. Karena minim kain, penggunaan thong juga dapat mengekspos kulit di sekitar area kewanitaan sehingga menempel dan bergesekan langsung dengan celana olahraga yang lembap karena akumulasi keringat. Akibatnya, kelembapan di area kewanitaan meningkat, sehingga infeksi sangat mungkin terjadi. Untuk menghindarinya, pakai jenis celana dalam yang menutupi area bokong dengan baik seperti hipster, high-cut brief, atau boy short saat berolahraga.

4. Untuk pria, mana yang lebih baik: celana dalam tipe bokser atau brief (model segitiga) ?

Perdebatan mengenai dua jenis celana dalam pria ini berpusat pada kaitannya dengan produksi sperma dan peluang pasangan untuk hamil. Menurut dr. Reza Fahlevi, menggunakan celana dalam yang terlalu ketat dapat menyebabkan peningkatan suhu testis, yang pada akhirnya dapat menghambat produksi sel sperma. Selain jumlahnya yang berkurang, peningkatan suhu testis juga  akan membuat bentuk sel sperma yang dihasilkan abnormal, sehingga kualitasnya lebih rendah dibandingkan dengan sperma normal.

Ditambahkan lagi oleh dr. Reza, karena proses pembentukan sel sperma dari awal hingga matang membutuhkan waktu 70 hari, maka diperlukan waktu hingga 3 bulan untuk mengembalikan kualitas dan kuantitas sperma. Nah, bayangkan jika Anda menggunakan celana atau celana dalam yang terlalu ketat setiap hari. Jadi, untuk Anda yang ingin memiliki anak bersama pasangan, lebih baik pilih celana dalam yang nyaman dan tidak ketat. Celana dalam jenis bokser dapat memfasilitasi kebutuhan ini.  

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

5. Kapan sebaiknya tidak memakai celana dalam?

Sementara banyak yang merasa risi saat tak mengenakan celana dalam, tapi banyak juga yang justru merasa nyaman dan lebih ‘sejuk’ tanpa celana dalam, terutama pada hari-hari yang panas dan lembap. Menurut Dr. Jason, celana dalam tidak diperlukan ketika Anda berolahraga dengan mengenakan  celana olahraga yang ketat dan menyerap keringat. Asalkan Anda tidak memiliki masalah pada kulit seperti ruam atau peradangan dan benjolan akibat mencukur bulu (razor burn)—nikmati kebebasan ini! 

Selain itu, banyak orang yang memilih untuk tidak memakai celana dalam saat tidur pada malam hari. Bahkan, ada beberapa laporan yang merekomendasikan para wanita yang memiliki infeksi vagina untuk tidak mengenakan celana dalam saat tidur. Hal ini dipublikasikan di Obstetrical & Gynecological Survey tahun 1992, yang mencatat bahwa dengan atau tanpa celana dalam saat tidur tidak akan membuat perbedaan pada gejala yang dirasakan. Intinya, jika Anda merasa nyaman tanpa celana dalam, silakan saja.

6. Perlukah menggunakan celana dalam antibakteri?  

Terbuat dari tekstil yang mengandung material antibakteri, celana dalam khusus ini dipasarkan untuk mencegah dan mengatasi bau tak sedap. Meski tak selalu tertera pada label, efek antibakteri ini kemungkinan berasal dari kandungan silver atau nanosilver. Ada banyak kekhawatiran bahwa paparan silver, khususnya nanosilver, dapat mengganggu keseimbangan bakteri alami dan potensi efek buruk lainnya.  

Antibakteri lain yang terkandung dalam celana dalam jenis ini adalah triklosan, yaitu bahan kimia yang sering dikaitkan dengan perubahan hormon pada hewan dan bisa berkontribusi pada terjadinya resistensi antibiotik.

Apa pun perdebatan tentang celana dalam antibakteri, efek deodoran yang mungkin dimiliki jenis celana dalam ini tidak signifikan dan hanya bersifat sementara. Dengan kata lain, penggunaan celana dalam jenis ini tidak diperlukan. Yang penting adalah ganti celana dalam secara rutin, khususnya ketika keringat Anda berlebih.

Pemilihan dan penggunaan celana dalam dapat memengaruhi kesehatan organ intim Anda. Sebelum membeli celana dalam, perhatikan hal-hal seperti ukuran, jenis, dan bahan. Pemilihan celana dalam yang tepat dan senantiasa menjaga kebersihannya dapat membantu organ intim Anda bersih, sehat, dan terhindar dari berbagai infeksi.

[RVS]

1 Komentar