Sukses

Pengaruh Gerakan Janin terhadap Kecerdasan Otak si Kecil

Banyak ibu penasaran apakah gerakan janin akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak si Kecil. Ini jawabannya.

Klikdokter.com, Jakarta Setiap ibu hamil pastinya menanti-nanti tendangan bayinya dari dalam perut. Selama kehamilan, khususnya sejak trimester kedua, ibu mulai bisa merasakan gerakan aktif janin. Namun, apakah gerakan tersebut ada hubungannya dengan kecerdasan otak si Kecil kelak?

Kapan Janin Mulai Bergerak?

Masa kehamilan merupakan saat yang membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi setiap ibu. Setiap waktu, ibu dapat mengetahui dan merasakan janin tumbuh di dalam rahim. Salah satu momen yang sangat mengharukan adalah ketika ibu merasakan adanya gerakan atau tendangan si Kecil.

Seiring dengan makin pekanya ibu dengan gerakan tersebut, ibu merasa makin dekat dengan calon bayi. Selain itu, adanya gerakan-gerakan tersebut meyakinkan ibu bahwa si Kecil tumbuh dengan baik.

Melalui ultrasonografi, berbagai aktivitas janin sejak usia kehamilan muda telah dapat diamati. Umumnya, pada minggu ke-7 bayi mulai menunjukkan gerakan menyamping. Gerakan tangan dan kepala terjadi sekitar minggu ke-9 dan 10. Namun, pada masa-masa ini, gerakan-gerakan tersebut terlalu lemah untuk dapat dirasakan oleh ibu.

Pada umumnya, gerakan bayi mulai dapat ibu rasakan sejak usia kehamilan minggu ke-16 hingga 25. Di kehamilan pertama, biasanya ibu baru merasakannya menjelang minggu ke-25. Ketika ibu sedang duduk atau berbaring tenang, gerakan akan lebih terasa. Seiring waktu, maka ibu akan makin sensitif dalam merasakan adanya gerakan-gerakan janin yang memang bertambah aktif.

Janin tidak selalu bergerak sepanjang waktu. Di dalam kandungan, janin pun beristirahat dan tidur. Jumlah gerakan janin tidak selalu memiliki jumlah yang pasti. Namun, dalam dua jam umumnya sekitar sepuluh kali gerakan dapat dirasakan oleh ibu. Pada trimester ketiga, sekitar tiga puluh gerakan dapat terasa dalam satu jam.

Adakah Kaitannya dengan Kecerdasan si Kecil?

Apakah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh janin berhubungan dengan kecerdasannya kelak?

Hasil pengamatan tim peneliti di Prancis pada tikus, menunjukkan bahwa gerakan-gerakan tungkai yang serupa dengan gerakan janin memiliki hubungan dengan perkembangan otak. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa makin aktif gerakan janin maka makin cerdas otak si Kecil setelah lahir.

Hasil dari beberapa penelitian lain juga belum mencapai keseragaman mengenai anggapan bahwa janin yang aktif bergerak akan tumbuh menjadi bayi yang aktif.

Nah, apa saja yang bisa ibu lakukan untuk memaksimalkan perkembangan otak janin di dalam kandungan? Pertama, tentu ibu harus mencukupi kebutuhan nutrisi. Ini dapat dicapai dengan mengonsumsi diet yang sehat dan berimbang. Kecukupan protein, lemak, serta vitamin dan mineral perlu diperhatikan.

Kedua, aktivitas fisik dengan intensitas sedang juga dapat mendukung pematangan otak janin. Bayi dari ibu yang melakukan latihan kardiovaskuler, seperti berjalan, berenang, bersepeda, atau joging tiga kali seminggu, selama sekitar 20 menit memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengenali suara saat berusia 8–12 hari.

Ketiga, paparan dari zat-zat yang berbahaya harus dihindari. Obat-obatan terlarang, alkohol, serta rokok baik aktif maupun pasif berpotensi menimbulkan gangguan pada perkembangan janin. Makanan dan minuman yang tercemar limbah atau logam berat juga patut diwaspadai.

Hal yang tidak kalah penting adalah memeriksakan kondisi kesehatan ibu. Infeksi beberapa jenis virus, seperti rubela dan herpes simpleks, serta organisme lain seperti toksoplasma, dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan janin dan otaknya. Beberapa virus yang berpotensi membahayakan janin dapat dicegah dengan vaksinasi sebelum kehamilan dimulai.

Setiap ibu tentu menginginkan bayinya tumbuh cerdas dan sehat. Walau gerakan janin belum terbukti berhubungan dengan kecerdasan otak bayi, tetapi jumlah gerakan yang cukup dapat menjadi petunjuk kondisi janin yang baik. Untuk mengoptimalkan perkembangan janin, maka nutrisi yang berimbang dan penghindaran zat-zat serta mikroorganisme berbahaya perlu diperhatikan.

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar