Sukses

Mecin Sebabkan Keputihan, Mitos atau Fakta?

Mecin sering dianggap sebagai penyebab berbagai keluhan gangguan kesehatan, termasuk keputihan. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Mecin adalah garam natrium dari asam glutamat yang biasa digunakan sebagai penguat rasa yang kerap dibubuhkan ke dalam berbagai masakan. Bahkan, banyak orang menganggap makanan tanpa mecin terasa hambar dan kurang nikmat. Kandungan pada mecin sebetulnya tidak berbahaya bagi kesehatan, tapi nyatanya mecin sering dianggap sebagai biang kerok terjadinya berbagai keluhan seperti sakit kepala, nyeri leher, hingga keputihan.

Meskipun mecin masih menjadi andalan sebagai penyedap makanan secara instan, tapi perlahan semakin banyak orang yang lebih sadar kesehatan, dalam arti memiliki kesadaran untuk menerapkan pola hidup lebih sehat yang salah satunya adalah dengan mengurangi, bahkan menghentikan, penggunaan mecin dalam makanan yang dikonsumsi. Untuk mengikuti tren ini, banyak restoran dan layanan katering yang mengklaim bahwa makanan yang mereka buat tidak mengandung mecin atau MSG.

Pembatasan dan peniadaan mecin ini semakin ramai dikakukan bukan tanpa sebab. Sebetulnya sudah menjadi rahasia umum bahwa mecin dapat menyebabkan berbagai efek samping terhadap kesehatan. Di antara berbagai efek samping mecin terhadap kesehatan, memang ada yang sudah berupa fakta yang didukung penelitian. Namun, banyak juga yang masih ‘berstatus’ mitos. Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa mecin dapat menimbulkan keputihan?

Seputar keputihan

Keputihan adalah keluarnya cairan dari vagina. Cairan tersebut diproduksi oleh kelenjar yang terdapat baik di rahim maupun di vagina. Ketika mendengar kata “keputihan”, umumnya kesan yang muncul di benak seorang wanita adalah sesuatu yang negatif, dalam arti keputihan dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal. Padahal, tidak semua keputihan berarti penyakit.

Cairan yang keluar dari vagina bisa jadi adalah pertanda normal dan merupakan hal yang wajar terjadi. Cairan yang diproduksi oleh organ kewanitaan tersebut berfungsi untuk membersihkan sel mati dan bakteri yang dapat “mengotori” vagina.

Keputihan yang normal (atau disebut keputihan fisiologis) dapat terjadi ketika wanita sedang berada dalam masa subur (ovulasi), terangsang secara seksual, mendekati masa haid, hamil, dan menyusui. Umumnya keputihan yang normal ini berwarna bening, tidak berbau, dan tidak menyebabkan keluhan lain seperti gatal atau nyeri.

Waspada keputihan yang tidak normal

Keputihan memang bisa menjadi sesuatu yang normal, tapi waspada juga terhadap keputihan patologis, yaitu keputihan yang terjadi akibat adanya penyakit yang menyerang organ kewanitaan Anda. Beberapa penyebab yang bisa menimbulkan keputihan patologis adalah kurangnya menjaga kebersihan area intim wanita, infeksi jamur Candida, infeksi bakteri (seperti pada gonore dan vaginosis bakterialis), infeksi klamidia, dan infeksi parasit (trikomoniasis).

Keputihan patologis umumnya memberikan gejala keputihan yang berwarna kuning atau hijau, berbau, gatal, atau menimbulkan nyeri, terutama saat berhubungan intim. Apabila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, yang paling bijak adalah segera berkonsultasi dengan dokter untuk diperiksa secara saksama.

Kaitan antara mecin dan keputihan

Secara kimiawi, mecin terdiri dari sodium dan glutamat, yang keduanya secara umum tidak membahayakan tubuh. Berbagai studi membuktikan bahwa konsumsi mecin hingga 3 gram per hari tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan.

Jadi, secara umum mecin aman digunakan. Namun, ada orang-orang tertentu yang memiliki hipersensitivitas terhadap mecin. Efek samping yang muncul bisa berupa gatal, kemerahan di kulit, sesak napas, atau reaksi alergi lainnya saat mengonsumsi mecin.

Mengenai anggapan bahwa mecin dapat menyebabkan keputihan, sampai saat ini belum ada satu penelitian pun yang dapat membuktikan bahwa keputihan dipengaruhi oleh konsumsi mecin. Meski demikian, bukan berarti Anda boleh mengonsumsi mecin hingga lupa batas. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jadi konsumsilah mecin dengan bijak. Jika Anda mengalami keluhan-keluhan seperti gatal, kemerahan di kulit, sesak napas, atau reaksi alergi lainnya setelah mengonsumsi mecin, lebih baik periksakan diri ke dokter karena bisa jadi Anda memiliki hipersensitivitas terhadap mecin.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar