Sukses

Gejala HIV Juga Bisa Menyerang Kulit

Infeksi HIV bisa menimbulkan gejala pada berbagai bagian tubuh, termasuk kulit. Kenali berbagai bentuk gejalanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Apabila terinfeksi HIV, maka seseorang menjadi rentan terkena berbagai penyakit akibat kurangnya perlawanan dari sistem imunitas tubuh. Akibatnya, seseorang dengan infeksi HIV mudah terkena penyakit infeksius (baik karena bakteri, jamur, atau parasit), hingga kanker.

Gejala berbagai infeksi HIV dapat dikenali, termasuk dari kulit. Sering kali, gejala-gejala yang terlihat pada kulit merupakan tanda pertama adanya infeksi HIV. Berikut ini adalah gejala-gejala infeksi HIV pada kulit.

  1. Sarkoma Kaposi (Kaposi’s sarcoma)

Di seluruh dunia, prevalensi terjadinya sarkoma Kaposi, yaitu tumor yang disebabkan oleh virus human herpesvirus 8, pada penderita AIDS dapat mencapai 34 persen. Sarkoma Kaposi adalah suatu bentuk keganasan (kanker) yang muncul pada kulit dan membran mukosa.

Gejala Kaposi sarkoma berupa lesi berwarna gelap, kecokelatan, atau keunguan pada kulit. (Lesi merupakan istilah kedokteran yang merujuk pada keadaan jaringan yang abnormal pada tubuh akibat proses beberapa penyakit seperti trauma fisik, kimiawi, dan elektis, infeksi, masalah metabolisme, dan autoimun) Pada awal penyakit, lesi cenderung datar setinggi permukaan kulit. Namun, lama-kelamaan cenderung akan meninggi melebihi permukaan kulit. Sarkoma Kaposi dapat berjumlah satu hingga ratusan buah, berukuran beberapa milimeter hingga 10 cm, tersebar jauh, dan berkelompok atau zosteriform.

  1. Herpes

Terdapat dua jenis virus herpes yang dikenal, yaitu virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) yang sering kali muncul pada area mulut dan virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) yang sering kali muncul pada area kelamin.

Lesi pada infeksi ini tampak seperti benjolan berisi cairan yang berkelompok, lalu pecah dan berkerak, dan kemudian sembuh dalam waktu 7-10 hari. Pada kasus imunosupresi (penekanan reaksi imun) yang buruk, dapat muncul lesi kronik yang melebar dan membentuk erosi kerak berdiameter 2-10 cm. Lesi ini dapat menimbulkan nyeri pada lokasi tertentu, misalnya apabila muncul di sekitar anus atau mulut.

Setelah terinfeksi virus herpes, seseorang tidak akan sembuh total. Virus ini akan berdiam dalam sistem saraf manusia, dan dapat aktif kembali apabila terpicu. Dapat juga muncul gejala herpes zoster (dikenal juga sebagai cacar api), yaitu lesi berupa benjolan berisi cairan yang terasa sangat menyakitkan, dan biasa muncul pada satu sisi tubuh.

  1. Moluskum kontagiosum

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus. Lesi yang ditemukan umumnya berupa benjolan berukuran 2–3 mm, berwarna seperti kulit, dapat berwarna putih pada area pusatnya. Infeksi ini pada anak sering kali ditemukan pada area wajah, lengan, dan batang tubuh atau torso. Pada orang dewasa, sering kali infeksi muncul pada area selangkangan dan pubis akibat transmisi secara seksual.

  1. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik adalah peradangan pada kulit yang terdapat kelenjar sebasea atau area kulit yang berminyak, umumnya terjadi di area kepala, wajah, dada, punggung atas, dan selangkangan. Lesi yang muncul biasanya berupa ruam berwarna merah muda dengan batas yang tidak tegas dan bersisik.

Selain penyakit-penyakit yang disebutkan di atas, masih banyak lagi manifestasi kulit dari infeksi HIV. Pada kebanyakan kasus, terdapat berbagai cara penanganan penyakit yang perlu disesuaikan dengan penyebab penyakitnya. Namun, menangani infeksi HIV dengan memperhatikan keadaan sistem kekebalan tubuh yang baik juga menjadi kunci penanganan berbagai manifestasi kulit ini.

Oleh karena itu, jika terdapat kecurigaan infeksi HIV baik yang terlihat pada kulit maupun gejala-gejala lainnya, Anda perlu segera menemui dokter. Apabila memang terbukti HIV positif, Anda akan diberikan obat antiretroviral (ARV) yang dapat dikonsumsi untuk membantu menangani infeksi ini. Dengan diagnosis dini dan konsumsi ARV sejak awal penyakit, maka seseorang dengan infeksi HIV diharapkan bisa memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar