Sukses

Bagaimana Cara Menolong Teman yang Jadi Korban KDRT?

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar “urusan masing-masing”.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam perkara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), diam bukanlah emas. Pada sebagian besar kasus, umumnya korban KDRT lebih memilih untuk membisu dan enggan untuk mencari bantuan. Hal inilah yang kadang menyulitkan dalam menolong mereka. Pada akhirnya, masalah mereka tak pernah benar-benar tuntas, selamanya tenggelam dalam ranah personal yang tabu untuk dibicarakan maupun diselesaikan.

Melihat teman Anda mengalami KDRT, tentunya ini tidak mudah bagi Anda. Namun, satu hal yang perlu diingat adalah Anda tidak dapat membuatnya serta-merta meninggalkan pasangannya. Dibutuhkan waktu yang mungkin panjang untuk membantunya keluar dari kondisi yang menjerat tersebut. Apalagi jika terdapat perbedaan cara pandang antara Anda dan dirinya terhadap kekerasan itu sendiri.

Dilansir Telegraph, psikolog Dr. Petra Boynton mengatakan, “Kebanyakan orang yang berada dalam hubungan yang abusif mungkin tampak tidak bahagia dan menginginkan adanya perubahan, tetapi mereka tidak melihat situasi mereka sebagai kekerasan.”

Ini mungkin terjadi karena pasangan mereka mengatakan bahwa mereka terlalu sensitif. Atau mereka memaknai “kekerasan” sebatas kebengisan fisik yang sangat ekstrem; jadi bila mereka mengalami kekerasan verbal, emosional, seksual, atau finansial, mereka tidak menganggap dirinya sebagai korban.

Selain itu, mereka mungkin saja khawatir bahwa kekerasan itu terjadi karena salah mereka. Bisa juga takut jika anak-anak mereka ikut menjadi korban atau diambil dari mereka. Ada pula yang cemas membayangkan masa depan mereka bila harus berpisah dengan pasangannya, walaupun mereka disakiti secara fisik dan/atau mental.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Tidak mudah memang untuk membicarakan dan mengatasi masalah kekerasan domestik ini. Dibutuhkan niat, keberanian, dan waktu untuk berhasil melaluinya. Namun, Anda tetap dapat menolong teman Anda dan memberikannya jalan keluar yang tepat. Dilansir berbagai sumber, berikut adalah hal-hal yang dapat Anda lakukan:

  • Mendukung tanpa menghakimi

Jadilah teman yang baik dan tidak menghakimi, yang dapat ia andalkan dalam masa-masa sulitnya. Bila memang sedang sama-sama sibuk, selalu ingatkan teman Anda bahwa ia dicintai dan berharga. Intinya, sediakanlah “ruang” yang aman untuk teman Anda bercerita, bernaung, dan menaruh harapan.

  • Buat jadwal untuk bertemu

Ambillah waktu untuk berbicara empat mata dengan teman Anda. Saat mengobrol dengannya, jangan mengambil kontrol dengan menyuruhnya melakukan apa yang Anda rasa ia harus lakukan. Sebaliknya, tanyakan apa yang ia butuhkan dan inginkan, kemudian bantu dirinya untuk mencari solusi yang aman.

  • Yakinkan dirinya untuk mencari bantuan

Jika teman Anda ragu atau takut mencari pertolongan, yakinkan dirinya. Bantu ia mencari informasi mengenai lembaga-lembaga yang dapat menangani KDRT. Beberapa organisasi pemerhati kasus-kasus kekerasan, antara lain Komnas Perempuan (021-3903963), Koalisi Perempuan Indonesia (021-79183444), dan Lembaga Bantuan Hukum APIK (021-87797289),

  • Berhati-hati

Selalu ada kemungkinan pelaku membaca pesan pribadi, email, bahkan mungkin mendengarkan percakapan. Karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap atau berkata-kata, sampai Anda yakin bahwa tidak ada yang mengganggu. Misalnya saat menelepon, tanyakan kepada teman Anda, “Apakah ini saat yang tepat untuk berbicara?” Jangan sampai Anda malah membahayakan teman Anda serta diri sendiri.

  • Dorong dirinya untuk cukup makan dan istirahat

Berikan teman Anda ruang dan waktu untuk beristirahat, serta dorong ia untuk makan dengan lebih sehat. Ini membantunya untuk memiliki suasana hati yang jernih, sepelik apa pun kondisi yang dihadapinya.

Mengakhiri hubungan yang abusif, seperti KDRT, tidaklah semudah itu. Dibutuhkan waktu bagi setiap korban kekerasan domestik untuk melepaskan diri dari relasi yang “beracun”. Bahkan, mereka bisa saja kembali kepada pasangan lebih dari sekali sebelum benar-benar keluar. Dukunglah setiap langkah yang teman Anda ambil, namun tetap waspada. Yakinkan dirinya bahwa Anda akan selalu berada di sampingnya dan membantunya mencari strategi yang aman.

 [RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar