Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ini yang Terjadi pada Wanita Straight yang Berubah Jadi Lesbian

Ini yang Terjadi pada Wanita Straight yang Berubah Jadi Lesbian

Meski dulunya straight, ada beberapa wanita yang berubah menjadi lesbian. Apa penyebab perubahan orientasi seksual wanita jadi menyukai sesama jenis ini?

Mungkin, Anda heran terhadap teman atau mungkin terhadap diri sendiri. Ya, yang dulunya suka lawan jenis, tapi kini jadi suka sesama jenis alias homoseksual. Misalnya, wanita yang dulunya straight lalu berubah jadi lesbian. Di balik perubahan orientasi seks itu, ternyata ada penjelasan medisnya!

Memangnya Jumlah Lesbian Makin Banyak?

Data yang dirilis dari Independent pada 2017 ini mungkin akan menggaet Anda. Data yang dirilis Kantor Statistik Nasional (ONS) menunjukkan bahwa jumlah orang yang mengidentifikasi diri sebagai gay atau lesbian atau biseksual ada sekitar 1.026.000 pada 2016.

Jumlah ini, menurut lembaga yang sama, naik 11,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini tercatat sebagai peningkatan terbesar sejak survei ONS dilakukan. Apakah data ini bisa berarti bahwa lesbian makin banyak?

Ternyata tidak berarti demikian. Peningkatan jumlah ini lebih disebabkan oleh cara pandang masyarakat di masa ini yang sudah berubah. Masyarakat kini lebih terbuka dan bersikap toleran dengan mereka yang memiliki orientasi seks berbeda.

Bila dibandingkan dengan beberapa generasi lalu, perilaku lesbian sangat sulit diterima masyarakat. Mereka yang sebenarnya lesbian pada akhirnya menutupi orientasi seksual mereka, lalu menikah dan menjalani hidup normal sesuai nilai masyarakat di masa itu.

Nah, kini, dengan makin diterimanya lesbian dan sikap masyarakat yang lebih toleran, seorang lesbian bisa lebih nyaman untuk terbuka terkait seksualitasnya. Keterbukaan itulah yang akhirnya membuat jumlah lesbian “tampak” lebih banyak di masa sekarang.

Artikel lainnya: Cinta Sesama Jenis, Benarkah Bisa Menular?

Selain itu, karena sering membaca pesan berantai di grup aplikasi pesan atau kabar yang tak didasari fakta dan data, banyak orang percaya bahwa jumlah gay atau lesbian makin bertambah.

Hal itu pun disetujui oleh dr. Sara Elise Wijono, MRes dari KlikDokter. Menurutnya, bukan jumlahnya yang terus meningkat atau semakin “menular”. Hanya saja, semakin banyak orang yang mengakui atau tak lagi malu mendeklarasikan orientasi seks-nya yang tak seperti mayoritas. 

Perlu diingat bahwa gay, lesbian, biseksual, panseksual, atau orientasi seksual lainnya selain heteroseksual sudah ada sejak dulu. 

Dulu, belum ada internet dan media sosial yang menggaungkan kampanye terkait LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer). Ditambah lagi dengan banyaknya serangan terhadap kaum minoritas tersebut, sehingga tak banyak yang berani mengaku. 

Beda sekali kondisinya dengan sekarang, figur publik dunia atau influencer tak malu mengakui dirinya gay atau lesbian. Bahkan, tak sedikit pula yang melangsungkan pernikahan sesama jenis.

Misalnya, Cynthia Nixon (bintang Sex and the City), Jane Lynch (anggota Glee), Ruby Rose (artis Orange is the New Black), Cara Delevingne (model), dan Ellen DeGeneres (pembawa acara).

Jadi sekali lagi, jumlah gay, lesbian, atau orientasi seksual lain tidak bertambah. Kondisi ini terjadi karena adanya peningkatan kesadaran, pemahamanan, hingga toleransi bahwa orientasi “lain” bukan penyakit sosial. 

Artikel lainnya: Apakah Homoseksualitas Bawaan Sejak Lahir?

1 dari 2 halaman

Penyebab Wanita yang Tadinya Straight Menjadi Lesbian

Salah satu contoh sederhana wanita yang tadinya straight berubah menjadi lesbian adalah aktris Amerika Serikat (AS), Amber Heard dan Cynthia Nixon. Mereka dikabarkan pernah berpacaran atau menikah dengan wanita setelah bertahun-tahun punya hubungan dengan pria.

Nah, proses “peralihan” orientasi seksual wanita dari heteroseksual menjadi lesbian ini ternyata pernah diteliti North American Menopause Society (NAMS).

Menurut hasil penelitian, wanita heteroseksual yang berubah menjadi penyuka sesama jenis dipengaruhi oleh fluiditas seksual. Kata “fluid” berarti cair dan berubah-ubah.

Lisa Diamond, PhD, seorang Profesor Psikologi Perkembangan dan Psikologi Kesehatan di Universitas Utah, AS, menjelaskan, kondisi fluiditas seksual bisa disebabkan dinamika rumit antara perubahan hormon, pengalaman fisik, dan hasrat seksual.

Selain itu, Sheryl Kingsberg, PhD, Kepala Divisi Kedokteran Perilaku OB-GYN dari University Hospitals Cleveland Medical Center, AS, mengungkapkan bahwa orang yang memiliki fluiditas seksual bisa tertarik kepada jenis kelamin mana pun, tergantung situasi dan kondisi. 

Artikel lainnya: Siapa yang Lebih Sering Orgasme, Pria atau Wanita?

Dari straight berubah menjadi lesbian, atau selanjutnya kembali lagi menjadi straight, itu bisa bergantung pada situasi dan kondisi.

Dikatakan juga, seseorang dengan kepribadian fluid tidak sepenuhnya straight. Namun, bukan lantas mereka bisa dikategorikan sebagai biseksual atau homoseksual. Ini juga berlaku pada pria. 

Semuanya bergantung pada kondisi dan pengalaman yang dimiliki. Bisa saja seseorang yang fluid tetap memilih satu pasangan lawan jenis hingga tua.

Sementara itu, wanita memang lebih mudah dibentuk alias fleksibel. Jika wanita dekat dengan wanita lain, dan saling suka lalu merasa nyaman, mereka lebih mungkin untuk menjadi sepasang lesbian. 

Sebuah studi pada 2004 menemukan, baik wanita straight maupun lesbi dapat terangsang saat menyaksikan film erotis pasangan heteroseksual ataupun lesbian. 

Sedangkan, pria heteroseksual hanya terangsang melihat pasangan heteroseksual dan lelaki gay hanya terangsang saat melihat pasangan gay. Jadi, wanita memang lebih fleksibel. 

Pria disebut-sebut pula menjadi faktor penyebab makin banyaknya wanita yang mengaku lesbian. Ya, pria sering menganggap wanita sebagai objek seksual.

Pada akhirnya, wanita akan mencari kedekatan emosi dan spiritual dari wanita lainnya (karena merasa tidak dihargai pria). Ujung-ujungnya, keduanya bisa saling suka!

Terlepas dari apa pun penyebab wanita suka sesama jenis, tak perlu menghakimi. Sebab, kondisi jatuh cinta sesama jenis dapat disebabkan berbagai faktor, termasuk medis. Jika ada pertanyaan seputar orientasi seksual atau kesehatan mental, tanya langsung dengan psikolog lewat fitur Live Chat di aplikasi atau laman KlikDokter.

(HNS/RPA)

1 Komentar