Sukses

Perlukah Sunat pada Wanita?

Berbeda dengan sunat pada pria yang sudah umum, sunat pada wanita masih mengundang kontroversi. Bagaimana pandangan medis?

Klikdokter.com, Jakarta Sunat pada wanita dikenal pada kurang lebih 30 negara, yaitu di beberapa negara di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Tindakan sunat pada wanita ini umumnya dilakukan pada rentang usia balita hingga 15 tahun.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tindakan sunat pada wanita secara luas dikenal sebagai female genital mutilation (FGM) atau mutilasi genital perempuan. Munculnya kebiasaan ini dapat berbeda pada tiap daerah dan sangat dipengaruhi banyak faktor. Misalnya, tindakan FGM dipercaya merupakan bentuk dari norma sosial, yang penerapannya dipercaya dapat mengurangi libido wanita sehingga menjamin keperawanan dan kesetiaan dalam pernikahan. Ada pula yang percaya bahwa FGM bisa membuat wanita bersih dan cantik. Selain itu, ada juga pihak yang menganggap sunat pada wanita merupakan salah satu ibadah.

Empat tipe sunat pada wanita

Terdapat empat tipe tindakan yang digolongkan ke dalam prosedur FGM, yaitu:

  • Tipe 1

Tipe ini sering dikenal dengan istilah klitoridektomi. Prosedurnya termasuk penghilangan total ataupun parsial (sebagian) dari klitoris wanita, suatu bagian genitalia wanita yang berukuran kecil, sensitif, dan erektil. Sangat jarang sekali hanya preputium klitoris (lipatan kulit di sekitar klitoris) yang dibuang.

  • Tipe 2

Pada tipe yang juga dikenal dengan istilah eksisi ini dilakukan penghilangan total ataupun parsial dari klitoris dan labia minora, dengan atau tanpa eksisi dari labia mayora.

  • Tipe 3

Prosedur yang disebut sebagai infibulasi ini mencakup membuat bukaan vagina menjadi lebih sempit melalui pembuatan “segel” yang menutup. “Segel” tersebut dibuat dengan memotong dan mereposisi labia minora atau labia mayora. Prosedur ini terkadang dilakukan dengan bantuan jahitan, dengan atau tanpa menghilangkan klitoris (klitoridektomi).

  • Tipe 4

Prosedur ini mencakup semua tindakan merugikan terhadap genitalia perempuan dan sama sekali tanpa tujuan medis. Misalnya seperti menusuk, menindik,  menoreh area genitalia perempuan, dan lain-lain.

1 dari 3 halaman

Berbagai risiko tindakan sunat pada wanita

Pada kenyataannya, banyak risiko yang terkait dengan tindakan FGM. Pada jangka pendek, dapat muncul nyeri hebat akibat pemotongan ujung saraf dan jaringan genitalia yang sensitif, perdarahan hebat (terutama jika terpotong arteri klitoris atau pembuluh darah lainnya selama pengerjaan), pembengkakan jaringan genitalia, masalah berkemih (nyeri berkemih dan retensi urine akibat pembengkakan jaringan, nyeri dan kerusakan pada uretra), hingga masalah psikologis.

Dalam jangka panjang, prosedur FGM dapat menimbulkan risiko-risiko sebagai berikut:

-          Nyeri berkepanjangan akibat kerusakan jaringan atau jaringan parut, yang menyebabkan ujung saraf terperangkap atau tidak terlindungi

-          Munculnya infeksi, mulai dari infeksi genital, saluran reproduksi, dan saluran kemih kronis

-          Timbulnya berbagai masalah haid seperti nyeri haid, sulitnya darah haid untuk keluar, dan haid tidak teratur (terutama pada tipe 3 FGM)

-          Keloid atau daging tumbuh

-          Masalah seksual seperti kurangnya keinginan dan kesenangan dalam berhubungan, nyeri saat berhubungan, kesulitan penetrasi, hingga berkurang atau absennya orgasme

-          Masalah selama persalinan. Hal-hal yang dapat timbul antara lain peningkatan perlunya operasi seksio, perdarahan post-partum, persalinan sulit dan lama, dan masih banyak lagi

2 dari 3 halaman

Sunat pada wanita di Indonesia

Di Indonesia sendiri, dulunya ada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 1636/Menkes/Per/XI/2010. Pada peraturan yang permisif terhadap sunat pada wanita ini, disebutkan bahwa sunat pada wanita adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris. Bagian yang dimaksud dalam peraturan ini adalah preputium klitoris. Peraturan ini juga menjabarkan langkah melakukan sunat pada wanita, yang hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu.

Pada tahun 2014, akibat desakan dari berbagai pihak, akhirnya Permenkes tersebut dicabut dengan dikeluarkannya Permenkes Nomor 6 Tahun 2014. Lewat Permenkes ini, dinyatakan  bahwa sunat pada wanita hingga saat ini bukan merupakan tindakan kedokteran karena pelaksanaannya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Disebut juga Permenkes Nomor 1636/Menkes/Per/XI/2010 tentang sunat pada wanita dipandang tak lagi sesuai dengan dinamika perkembangan kebijakan global.

Meski demikian, tertulis juga bahwa berdasarkan aspek budaya dan keyakinan masyarakat Indonesia, hingga saat ini masih terdapat permintaan dilakukannya sunat perempuan, yang pelaksanaannya tetap harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan perempuan yang disunat, serta tidak melakukan mutilasi alat kelamin wanita.

Faktanya memang praktik sunat pada wanita masih terjadi di dalam masyarakat Indonesia. Meski Kemenkes telah mengedukasi pekerja medis bahwa sunat pada wanita tidak akan memberikan manfaat apa pun, dokter atau bidan yang menyunat tak akan diberi sanksi karena tak ada regulasi yang mengatur soal itu.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan UNICEF, salah satu organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang khusus menangani anak, yang dirilis pada Februari 2016 lalu, melaporkan bahwa Indonesia menjadi penyumbang ketiga tingginya angka praktik sunat pada wanita setelah Gambia dan Mauritania. Tahun 2016, tercatat 200 juta wanita dan anak perempuan mengalaminya, naik 60 juta dari data tahun 2014 yang mencatat 140 juga praktik sunat pada wanita di dunia.

Praktik sunat pada wanita masih terjadi hingga kini karena dianggap sebagai tradisi dan kepercayaan. Kenyataannya sunat pada wanita yang tidak dilakukan dengan benar dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan seperti perdarahan, tetanus, sepsis, retensi urine, shock, dan lain-lain. Selain itu, komplikasi jangka panjangnya ketika mereka dewasa di antaranya adalah terbentuknya jaringan parut pada alat kelamin wanita, abses, kista, infeksi berulang, hingga infertilitas. Jika dilihat dari segi medis, dapat disimpulkan tindakan sunat perempuan tidak perlu untuk dilakukan karena belum terbukti manfaat kesehatannya.

[RN/ RVS]

1 Komentar