Sukses

Serba-serbi Radang Gusi yang Perlu Anda Tahu

Pahami serba-serbi radang gusi berikut ini untuk meminimalkan risiko terjadinya gangguan kesehatan pada gigi dan rongga mulut.

Klikdokter.com, Jakarta Kesehatan mulut dan gigi bisa mencerminkan kesehatan Anda. Terkadang Anda menyangka sudah merawat gigi dengan baik. Penilaian tersebut biasanya hanya dengan melihat bahwa tidak ada gigi yang berlubang, serta tidak terasa keluhan apapun di dalam mulut, termasuk pada gusi.

Di dalam mulut, jaringan tempat gigi berada disebut juga jaringan periodontal. Jaringan periodontal ini meliputi gusi, tulang alveolar dan ligamennya. Ketika jaringan periodontal mengalami masalah, banyak orang tidak menyadarinya. Sebab, rasa sakit atau keluhan yang terjadi biasanya tidak tajam dan rasa sakit yang terasa mirip dengan sakit gigi.

Dalam kondisi normal, gusi yang sehat berwarna merah muda dan memiliki sulkus atau bagian yang melekat pada gusi  dengan kedalaman 0-3 mm pada bagian tepinya.

Biasanya seseorang mulai menyadari adanya radang gusi ketika pada bagian tepi ini keluar darah saat menyikat gigi, atau ada juga rasa tidak nyaman, tapi tidak berupa sakit yang signifikan. Saat terjadi radang gusi, bagian tepi tersebut akan berubah warna menjadi kemerahan, dan pada tahap selanjutnya akan disertai pembengkakan.

Radang gusi ini terjadi ketika mekanisme pertahanan tubuh  bereaksi sebagai respon atas adanya bakteri pada rongga mulut. Hal ini terjadi karena mekanisme pertahanan tubuh berusaha melawan bakteri yang hinggap di area gigi dan mulut.

Risiko lain penyebab radang gusi

Biasanya kotoran pada gigi dapat memicu terbentuknya plak yang tertinggal, serta karang gigi yang akan menstimulasi munculnya  radang gusi. Meskipun  Anda telah memperhatikan kebersihan mulut – termasuk rutin melakukan pembersihan karang gigi setiap 6 bulan sekali – namun radang gusi kadang masih muncul.

Oleh karena itu, Anda perlu memperhatikan sejumlah risiko lain yang dapat menjadi penyebab timbulnya radang gusi. Beberapa risiko tersebut antara lain:

  1. Kebiasaan merokok.  Kebiasaan buruk ini akan menimbulkan panas dan menyebabkan jaringan gusi sulit untuk beregenerasi.
  2. Gigi palsu. Ketika Anda menggunakan gigi palsu yang ukurannya tidak sesuai, gigi palsu tersebut dapat menyebabkan trauma pada jaringan yang menyangganya.
  3. Defisensi nutrisi atau kekurangan vitamin. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya radang gusi sebab nutrisi dan vitamin merupakan faktor pendukung vitalitas tubuh secara keseluruhan.
  4. Gula darah yang tidak terkontrol. Penyakit diabetes yang timbul akibat dari gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko infeksi pada radang gusi.
  5. Usia. Nyatanya, usia dapat memengaruhi perubahan hormonal dan perubahan fisiologi seseorang.
  6. Jamur dan virus. Infeksi akibat jamur dan virus tertentu dapat memperparah kondisi radang gusi yang diderita seseorang.
  7. Sistem kekebalan tubuh yang menurun. Kondisi sistemik dan pengobatan pada penyakit tertentu seperti AIDS serta perawatan kemoterapi juga dapat memperparah radang gusi.
  8. Masa kehamilan. Ketika hamil, terjadi perubahan hormonal berupa meningkatnya hormon steroid pada cairan gusi. Sehingga, radang gusi dapat berkembang menjadi gusi berdarah dan sakit kepala yang secara medis disebut sebagai pregnancy-associated gingivitis.
  9. Reaksi alergi karena penggunaan obat tertentu. Berhati-hatilah jika Anda memiliki alergi terhadap obat tertentu, karena menimbulkan risiko radang gusi.
  10. Penyalahgunaan obat dan penggunaan obat terlarang. Kesalahan atau ketidaksesuaian penggunaan obat dapat memperparah kondisi radang gusi yang sedang diderita.

Seperti sudah dijelaskan di atas, jaringan periodontal  terdiri dari gusi, tulang alveolar dan ligamennya. Ketika kondisi radang gusi dibiarkan dan tidak segera ditangani, dapat berlanjut pada kerusakan tulang alveolar. Tulang alveolar merupakan tulang penyangga pada gigi yang tertanam. Maka ketika radang gusi ini dibiarkan, kerusakan akan berlanjut hingga ke dalam.  Kondisi ini menyebabkan terjadinya kerusakan yang cukup parah pada tulang alveolar dan ligamennya, sehingga dapat menyebabkan gigi goyang, hingga tanggal atau lepas dengan sendirinya.

Tahapan pengobatan

Melalui pemeriksaan fisik, dokter gigi dapat menemukan gambaran klinis dari keadaan gusi seseorang untuk kemudian menentukan diagnosa. Dokter gigi akan melakukan dental probing untuk menentukan kedalaman sulkus gusi dan melihat bagaimana keadaan jaringan periodontal.

Umumnya tidak ada pemeriksaan laboratorium maupun radiologis yang dibutuhkan. Namun apabila ada kecurigaan lain terhadap masalah radang gusi yang terjadi, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium akan dilakukan untuk menegakkan diagnosis penyebab terjadinya radang gusi, sehingga dokter gigi mampu memberikan solusi yang tepat bagi Anda.

Kini Anda telah mengetahui serba-serbi tentang radang gusi. Pastikan Anda tetap merawat gigi dan mulut secara berkala. Lakukan pemeriksaan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali. Selain untuk menjaga kebersihan secara optimal, hal ini dapat membantu Anda agar lebih cepat mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulut saat terjadi masalah. Dengan demikian, Anda bisa segera periksa ke dokter gigi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar