Sukses

Pentingnya Mengenal dan Mencegah Resistensi Antibiotik

Antibiotik dikenal sebagai obat yang superior, sehingga pembelian dan konsumsinya jadi tak terkendali. Akibatnya, terjadilah resistensi antibiotik.

Klikdokter.com, Jakarta Antibiotik adalah obat yang diciptakan untuk mengobati penyakit akibat infeksi bakteri. Sejak awal penemuannya oleh Sir Alexander Flemming, antibiotik telah menyelamatkan banyak nyawa.

Dalam berbagai jenis infeksi, antibiotik memiliki peranan penting untuk penyembuhan penyakit. Sejak itu pula, antibiotik terus dikembangkan menjadi berbagai jenis dan semakin spesifik terhadap beragam golongan bakteri. Sayangnya, dalam perkembangannya tersebut timbul masalah baru yang cukup serius, yaitu resistensi antibiotik.

Penting untuk Anda ketahui, resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri untuk bertahan dari efek antibiotik. Bakteri yang seharusnya mati, justru bertambah banyak. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena bahkan penemu antibiotik pun dari awal sudah memprediksinya.

Pandangan masyarakat bahwa antibiotik adalah obat yang superior membuat pembelian dan konsumsi antibiotik semakin tidak terkendali. Akibatnya, terjadilah resistensi. Bagaimana mekanisme terjadinya resistensi antibiotik?

  1. Penggunaan antibiotik secara berlebihan (overuse) maupun penggunaan yang tidak tepat (misuse)

Saat Anda terserang penyakit akibat infeksi bakteri, banyak kuman masuk ke dalam tubuh. Ada bakteri yang masih sensitif terhadap antibiotik, ada pula yang sudah resisten terhadap antibiotik. Bila Anda mengonsumsi antibiotik sembarangan dengan dosis yang tidak sesuai, bakteri yang sensitif serta flora normal (bakteri yang memang secara normal ada dalam tubuh) akan terbunuh.

Sementara itu, bakteri yang resisten akan terus bertambah banyak jumlahnya. Selain itu, bakteri  yang kebal juga akan mengalami perubahan struktur genetik untuk menghadapi antibiotik berikutnya. Akibatnya, bakteri tersebut akan semakin kuat dan kebal.

  1. Penggunaan antibiotik pada hewan-hewan ternak

Dalam sektor peternakan dan produksi makanan, antibiotik telah dipakai secara luas terhadap hewan ternak. Awalnya hal tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi pada hewan ternak. Namun, rupanya hal ini justru memberikan efek bumerang. Kuman yang kebal terhadap antibiotik pada akhirnya tetap bertahan dalam daging hewan tersebut, yang lalu diteruskan ke tubuh manusia saat mengonsumsinya.

Tak hanya dagingnya saja, feses hewan ternak tersebut pun menyimpan bakteri kebal antibiotik. Saat feses digunakan sebagai pupuk penyubur tanah, secara tidak langsung akan memengaruhi tanaman yang tumbuh di atasnya.

  1. Penularan melalui manusia

Saat berbicara, bersalaman, bersin, ataupun batuk, kuman pun ikut berpindah. Bila kuman tersebut kebal terhadap antibiotik, maka orang yang ditularkan akan ikut mengalami resistensi antibiotik.

Banyak orang yang menganggap sepele perihal resistensi antibiotik. Padahal, hal ini adalah masalah besar di Indonesia, bahkan dunia. Bakteri penyakit semakin kebal dan kuat, sehingga perlu obat jenis lain dengan dosis yang lebih tinggi untuk menangani sebuah penyakit.

Akibatnya, penyakit yang ringan bisa mengancam nyawa. Belum lagi biaya kesehatan yang terus membengkak karena produksi dan pembelian obat secara terus-menerus. Karena itu, sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap antibiotik.

Cara mencegah resistensi antibiotik

Anda dapat mencegah resistensi antibiotik dengan tidak membeli ataupun mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter. Selain itu, jangan sembarangan membeli ulang antibiotik yang pernah dikonsumsi tanpa resep dokter, dan konsumsilah antibiotik sesuai dengan dosis yang dianjurkan sampai habis.

Selain cara di atas, cara lain yang sederhana tapi krusial adalah mencegah penularan infeksi dengan rajin mencuci tangan dengan sabun. Sering kali diabaikan, padahal mencuci tangan dengan sabun telah terbukti mampu mencegah penyebaran infeksi dan menurunkan angka kejadian berbagai penyakit.

Cuci tangan Anda menggunakan sabun saat mandi, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan kamar mandi, sebelum mempersiapkan makanan, setelah bepergian dari luar rumah, setelah menyentuh barang-barang yang kotor, atau setelah menyentuh hewan peliharaan dan kotorannya.

Dampak dari resistensi antibiotik memang cukup mengkhawatirkan, tetapi cara sederhana seperti cuci tangan menggunakan sabun dapat mencegahnya. Karena itu, Anda harus bijak menggunakan antibiotik, dan yang tak kalah penting jangan lupa untuk selalu menerapkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun mulai sekarang, ya!

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar