Sukses

Pentingnya Skrining Pendengaran pada Bayi Baru Lahir

Skrining pendengaran pada bayi baru lahir merupakan salah satu upaya untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Klikdokter.com, Jakarta Skrining pendengaran pada bayi baru lahir biasa dilakukan untuk menemukan adanya gangguan pendengaran sejak lahir. Metode ini mudah dilakukan, tidak memakan waktu dan tidak menimbulkan nyeri. Bahkan, bayi dapat sambil tidur ketika dilakukan skrining.

Menurut dr. Ronny Suwento, Sp. THT-KL (K), pada acara konferensi pers dalam memperingati Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) tanggal 28 Februari 2018,  skrining perlu dilakukan untuk memastikan sejak awal agar generasi penerus bangsa memiliki pendengaran yang baik.

“Dengan metode ini anak juga akan memiliki kemampuan berbicara dan berkomunikasi dengan baik agar bisa melanjutkan kegiatan belajar di sekolah normal bukan sekolah khusus, serta dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas,” ucapnya.

Pendengaran berperan sangat penting pada beberapa tahun pertama kehidupan anak. Adanya gangguan pendengaran sejak bayi dapat mengakibatkan anak tidak dapat mengikuti pendidikan formal dan kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan pada saat dewasa. Kondisi tuli ringan atau sebagian saja dapat memengaruhi kemampuan bicara dan bahasa anak.

Sebagian orang tua baru datang ke dokter ketika anak mereka mengalami gangguan bicara atau telat bicara. Sayangnya, setelah diperiksa, terdapat gangguan pendengaran. Hal ini sebenarnya dapat dicegah jika sejak awal dilakukan pemeriksaan skrining pendengaran pada anak.

Saat ini di Indonesia, skrining pendengaran baru dilakukan pada bayi-bayi beresiko tinggi atau disebut sebagai Targeted Newborn Hearing Screening. Menurut dr. Ronny, penyebab paling sering ketulian pada bayi baru lahir di Indonesia ialah infeksi virus TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes simpleks virus) dan bayi lahir prematur.

Tak heran setiap hari banyak sekali pasien datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan keluhan tuli akibat infeksi rubella.

Selain itu  dr. Ronny juga menambahkan, “Pada bayi baru lahir yang mengalami sakit kuning atau hiperbilirubinemia, kemampuan hati untuk memetabolisme sisa pemecahan darah yaitu bilirubin tidak diolah dengan baik, sehingga dapat pergi ke otak menjadi radang otak dan dapat menyebabkan risiko terjadinya gangguan pendengaran.”

Waktu yang tepat melakukan skrining

Pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari dua jenis, yaitu otoacoustic emissions (OAE) dan auditory brain stem response (ABR). Jika hanya dilakukan salah satu pemeriksaan saja – bukan skrining pendengaran – OAE dilakukan dengan menaruh sponge earphone  di dalam lubang telinga untuk memastikan respon telinga terhadap suara.

Sedangkan ABR merupakan pemeriksaan yang lebih kompleks untuk melihat ada tidaknya reaksi batang otak terhadap bunyi atau suara. Skrining pendengaran idealnya dilakukan dalam 48 jam setelah lahir atau sebelum pulang dari rumah sakit dengan pemeriksaan OAE. Jika tidak memungkinkan atau bila tidak adanya fasilitas yang tersedia, skrining dapat dilakukan saat bayi berusia satu bulan. Pada usia tiga bulan, dapat dilakukan pemeriksaan BERA.

Bila kedua tes hasilnya baik, pendengaran anak dinyatakan nomal. Meskipun demikian, bayi tetap harus dipantau fungsi pendengarannya karena dikhawatirkan memiliki faktor risiko gangguan pendengaran. Sedangkan bila tidak baik hasilnya, belum tentu ada ketulian pada bayi.

Karena kotoran atau cairan di dalam telinga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan, sehingga pemeriksaan dapat diulang kembali setelah 3 bulan kemudian.

Selanjutnya dr. Ronny juga mengatakan, “Bila skrining dilakukan sebelum usia satu bulan, diagnosis ditentukan saat usia tiga bulan. Dan saat usia enam bulan sudah dilakukan upaya habilitasi seperti pemasangan alat bantu dengar  dan latihan bicara, diharapkan pada usia 36 bulan anak sudah memiliki kemampuan bicara seperti anak normal.”

Gangguan pendengaran dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup anak di masa mendatang. Karena itu skrining pendengaran bayi baru lahir berperan sangat penting sebagai langkah awal untuk mendeteksi ketulian yang bersifat congenital (didapatkan sejak lahir).

Jadi, gangguan pendengaran pada bayi dapat diatasi dan ditangani lebih baik jika diketahui sebelum usia tiga bulan. Oleh sebab itu, penting sekali bagi orang tua untuk melakukan skrining pendengaran dan pemeriksaan pendengaran si Kecil secara reguler. Hal ini perlu dilakukan demi tumbuh kembang optimal anak Anda nantinya.

[NP/ RVS]

1 Komentar