Sukses

Dapatkah Fetal Surgery Mengancam Nyawa Ibu dan Anak?

Calon ibu perlu tahu bahaya yang mengancam dari prosedur fetal surgery. Kenali risikonya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Pada Selasa (13/2) lalu, dunia hiburan berduka karena artis cantik Marissa Nasution kehilangan salah satu dari janin kembarnya, Moana, setelah menjalankan prosedur fetal surgery. Berangkat dari kejadian ini, Anda perlu tahu apakah prosedur ini mengancam nyawa Ibu dan anak yang menjalankannya. 

Prosedur untuk menangani kehamilan kembar

Fetal surgery atau bedah janin merupakan tindakan yang dilakukan oleh dokter bedah untuk bertindak lebih awal bila janin terdeteksi mengalami kelainan bawaan tertentu. Kelainan ini diharapkan dapat dikoreksi dengan tindakan pembedahan.

Meskipun istilah fetal surgery jarang terdengar, nyatanya prosedur ini bukanlah hal baru. Tindakan ini cukup sering dilakukan oleh dokter kebidanan dan kandungan yang telah mengambil sub-spesialisasi feto-maternal atau ahli dalam hal kesejahteraan ibu dan janin.

Data yang dihimpun oleh Encyclopedia of Surgery menunjukkan bahwa sekitar tiga persen anak yang lahir di Amerika Serikat setiap tahun, memiliki cacat lahir yang kompleks. Salah satunya disebabkan oleh kesehatan janin yang kurang baik.

Teknik bedah janin fetal surgery ini pun biasa digunakan untuk mengobati risiko cacat tersebut sebelum kondisinya menjadi semakin serius.

Dokter Fiona Amelia menyampaikan pada Klikdokter, kasus kehamilan kembar seperti yang dialami oleh Marissa Nasution biasanya ditangani dengan melakukan prosedur fetal surgery untuk mengatasi Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS). Hal ini untuk menghindari aliran darah dan nutrisi pada salah satu janin lebih banyak dari janin yang lain.

Operasi fetal surgery ini juga dapat dilakukan untuk mengoreksi kelainan pembuluh darah yang menyebabkan salah satu janin memiliki berat lebih besar daripada saudara kembarnya.

“Pada kasus TTTS tidak ada batasan khusus mengenai waktu yang tepat untuk melakukan fetal surgery. Namun pada umumnya, tindakan ini dilakukan pada trimester dua kehamilan,” jelas dr. Fiona.

Bahaya yang mengancam di balik fetal surgery

Tak berbeda dari operasi pada umumnya, menurut dr. Fiona, prosedur fetal surgery juga memiliki banyak risiko, baik pada janin maupun ibu. Sebab, tindakan bermanfaat untuk janin, bisa saja membahayakan ibu. Begitu juga sebaliknya, tindakan yang bermanfaat bagi sang ibu, juga dapat berdampak negatif terhadap proses kehamilan dan janin.

“Prosedur fetal surgery tidak selalu dapat memperbaiki kualitas hidup janin. Risiko yang akan terjadi dari prosedur ini pun cukup besar bagi para ibu,” tambah dr. Fiona.

Seperti dilansir oleh US National Institutes of Health, risiko pada ibu yang melakukan fetal surgery dapat berupa ketuban pecah lebih awal, kelahiran prematur, infeksi pada luka operasi infeksi selaput ketuban, pendarahan, dan lepasnya plasenta. Selain itu juga dapat menimbulkan komplikasi yang menyebabkan pengangkatan rahim, kerusakan organ sekitar rahim, hingga kematian.

Oleh sebab itu, para ibu hamil yang akan memutuskan untuk melakukan fetal surgery, perlu benar-benar mempertimbangkan antara risiko dan manfaatnya.

Prosedur fetal surgery memang dapat membantu mendeteksi dan mengatasi kelainan bawaan tertentu pada janin. Meski demikian, tindakan ini juga memiliki risiko baik pada janin maupun sang iu. Oleh sebab itu, perlu ada pemikiran yang matang sebelum tindakan dilakukan.

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar