Sukses

Banjir Jakarta, Waspadai 8 Penyakit Ini

Selain menyisakan kotoran dan lumpur, banjir Jakarta juga membuat penduduk sekitar tempat kejadian berisiko terkena penyakit ini.

Klikdokter.com, Jakarta Bendung Katulampa, Bogor, sudah tak mampu menampung jumlah air yang terus meningkat dari hari ke hari. Mau tak mau, Jakarta harus kembali menjadi ‘penampung’ sejumlah air tersebut. Akibatnya, apalagi kalau bukan banjir Jakarta.

Melansir liputan6.com, Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan bahwa wilayah-wilayah yang terkena dampak banjir Jakarta meliputi Srengseng Sawah, Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Pejaten Timur, dan Kebon Baru. Demikian pula Bukit Duri, Balekambang, Cililitan, Cawang, Bidara Cina, dan Kampung Melayu.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan bahwa setidaknya terdapat delapan faktor yang berperan pada terjadinya banjir Jakarta. Faktor-faktor tersebut, yakni:

  • Perubahan iklim
  • Ombak tinggi
  • Limpasan air dari Bogor
  • Limpasan air dari Depok
  • Kurangnya waduk
  • Penurunan muka tanah
  • Rawa yang tak lagi dapat menyerap air
  • Sampah
1 dari 3 halaman

Tak hanya kedatangan air

Banjir Jakarta tentu tak hanya membuat sejumlah rumah tergenang air. Penduduk yang mengalami musibah ini juga berisiko tinggi untuk terkena berbagai macam penyakit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa penyakit yang terjadi akibat banjir bisa berasal dari air banjir itu sendiri (water-borne disesase), juga dari serangga (vector-borne disease).

Penyakit yang berasal dari air banjir (water-borne disease) meliputi:

1.    Demam tifoid

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Bakteri ini dapat bertahan di dalam air selama berminggu-minggu, sehingga korban banjir Jakarta, termasuk mereka yang tinggal di dekat sungai maupun selokan, atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, dapat terkena penyakit ini.

Menurut dr. Karin Wiradarma, demam tifoid umumnya mengakibatkan gejala demam pada malam hari yang akan menurun pada pagi dan siang hari. Tak hanya itu, penyakit ini juga memberikan gejala berupa sakit kepala, diare atau sembelit (konstipasi), lemas, penurunan nafsu makan, serta pegal pada otot dan sendi.

2.    Kolera

Kolera merupakan penyakit infeksi usus kecil, yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini bisa menyebar melalui tinja atau air yang mengandung bakteri tersebut.

Sebagian penderita kolera tidak mengalami gejala secara langsung. Meski begitu, penyakit ini juga dapat menimbulkan gejala berupa mual, diare, dan dehidrasi.

3.    Leptospirosis

Leptospirosis banyak timbul pada musim hujan, khususnya pada daerah yang terkena dampak banjir Jakarta. Menurut dr. Alvin Nursalim, leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri lepstospira yang terdapat di dalam air seni hewan yang terinfeksi.

Leptospirosis tidak memiliki gejala yang spesifik. Penderita hanya merasakan gejala yang mirip dengan flu pada umumnya, yaitu demam, nyeri otot, dan pusing. Namun demikian, tak menutup kemungkinan penderita leptospirosis juga mengalami gejala mual, muntah, diare, ruam, batuk dan kehilangan nafsu makan.

4.    Hepatitis A

Salah satu penyakit yang juga dapat terjadi pada korban banjir Jakarta adalah hepatitis A. Ini adalah penyakit infeksi pada hati (liver) yang disebabkan oleh virus hepatitis.

Berdasarkan keterangan dari dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, hepatitis A ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh virus hepatitis A. Gejala dari penyakit ini meliputi lemas, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri perut kanan atas, dan nyeri sendi.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Sementara itu, penyakit yang berasal dari serangga (vector-borne disease), di antaranya:

1.    Malaria

Merupakan penyakit infeksi akut, malaria disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium. Penyakit ini menyebar melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi oleh parasit tersebut.

Gejala malaria meliputi demam, berkeringat, menggigil, muntah, sakit kepala, diare dan nyeri otot. Gejala-gejala ini biasanya muncul satu atau dua minggu setelah tubuh terinfeksi.

2.    Infeksi dengue

Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua nyamuk tersebut diketahui berkembang pesat saat musim banjir. Gejala dari infeksi dengue, termasuk sakit kepala, mata merah dan nyeri, keringat berlebih, serta nyeri otot dan tulang.

Menurut dr. Citra Roseno, infeksi dengue dapat bermanifestasi menjadi Demam Dengue atau Demam Berdarah Dengue (DBD). Pada kondisi ini, penderita akan mengalami gejala serupa dengan infeksi dengue, ditambah dengan timbulnya bintik-bintik merah di kulit. Pada kasus yang parah, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, syok, hingga kematian.

3.    Penyakit kuning

Penyakit kuning alias jaundice adalah kondisi yang menyebabkan perubahan warna pada bagian mata dan kulit, termasuk pada cairan tubuh. Menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BmedSC Hons., kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari penyakit yang memberikan gambaran warna kuning.

Perubahan warna kuning akibat kondisi ini terjadi lantaran kadar bilirubin yang meningkat. Bilirubin itu sendiri adalah pigmen merah kekuningan yang terbentuk secara alami pada pemecahan sel darah merah di peredaran darah dan hati.

4.    Infeksi West Nile

Meski terasa asing di telinga, penyakit ini termasuk ke dalam salah satu kondisi yang dapat dialami oleh korban banjir Jakarta. Infeksi west nile merupakan penyakit yang berasal dari nyamuk pembawa virus.

Infeksi west nile tidak memiliki gejala yang spesifik. Jikapun ada, gejalanya dapat berupa sakit mata, sakit kepala, ruam, kelelahan, mual, dan muntah. Penyakit ini tergolong tidak menular.

Melihat penyakit yang dapat timbul akibat banjir Jakarta sangat beragam, Anda dianjurkan untuk selalu waspada sambil terus menerapkan gaya hidup sehat, khususnya bila sedang mengalami musibah ini. Jika mengalami keluhan-keluhan yang merujuk pada salah-satu penyakit di atas, segera periksa ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan terdekat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar