Sukses

Sering Terbangun Saat Tidur, Tanda Alzheimer?

Apakah sering terbangun saat tidur di malam hari menjadi tanda penyakit Alzheimer? Cek penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Tidur yang terfragmentasi ditandai dengan bangun berulang-ulang saat tidur pada malam hari. Seseorang yang mengalami hal itu biasanya akan selalu merasa membutuhkan tidur siang. Kondisi ini bisa jadi adalah gejala awal penyakit Alzheimer.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal JAMA Neurology, mengungkapkan bahwa kondisi orang dewasa dengan daya ingat sehat tetapi siklus tidurnya sering terganggu, sering terbangun pada malam hari dan sering mengantuk di siang hari, akan menyebabkan penumpukan zat amyloid plaque. Ini merupakan kondisi gejala awal Alzheimer.

Terbangun saat tidur

Untuk studi tersebut, periset meneliti siklus tidur dari 189 orang dewasa yang sehat secara kognitif, dengan usia rata-rata 66 tahun. Selain itu, peneliti juga menganalisis otak partisipan untuk mencari amyloid plaque yang terkait dengan Alzheimer.

Sebagian besar peserta memiliki siklus tidur yang relatif normal dan 139 orang tidak memiliki tanda-tanda penumpukan protein amiloid. Beberapa dari mereka memiliki masalah tidur, tapi kebanyakan bisa dijelaskan karena terkait dengan usia, sleep apnea, atau penyebab lainnya.

Akan tetapi, 50 partisipan lain dalam penelitian ini menunjukkan kondisi otak yang memiliki amyloid plaque, protein yang terkait dengan Alzheimer. Kelima puluh orang ini juga melaporkan bahwa ritme sirkadian tubuhnya terganggu.

“Bukan berarti orang-orang dalam penelitian ini kurang tidur,” kata penulis utama penelitian, Dr. Erik Musiek. “Tapi tidur mereka cenderung terbagi-bagi. Tidur selama delapan jam di malam hari sangat berbeda dengan tidur delapan di siang hari,” lanjutnya.

Meski begitu, temuan ini tidak berarti menegaskan bahwa jika Anda mengalami tidur yang buruk sudah pasti menderita Alzheimer. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apakah masalah tidur ini selalu membuat Anda terbangun di tengah malam. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur tampaknya menyebabkan perubahan pada otak. Tidur nyenyak dipercaya dapat membersihkan beberapa plak yang terbentuk di otak. Sementara, jika Anda memiliki kebiasaan tidur yang buruk hal itu membuat otak tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Temuan ini menunjukkan, memperbaiki kualitas tidur adalah usaha yang tepat untuk membantu melindungi kesehatan otak di masa depan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkannya secara jelas. 

1 dari 2 halaman

Faktor risiko pemicu Alzheimer

Meski gangguan tidur dapat dikenali sebagai salah satu tanda penyakit Alzheimer, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya penyakit ini:

    1. Usia

Risiko menderita Alzheimer cukup tinggi pada usia 65 tahun atau lebih, dengan laju gangguan meningkat dua kali lipat setiap dekade setelah usia 60 tahun.

    2. Riwayat keluarga dan genetik

Risiko menderita Alzheimer akan lebih tinggi bila keluarga derajat pertama, yaitu orang tua atau saudara kandung menderita Alzheimer.

   3.  Sindrom Down

Banyak penderita sindrom Down yang mengalami Alzheimer. Bahkan, mereka cenderung terkena Alzheimer 10-20 tahun lebih awal dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita sindrom Down.

   4. Jenis kelamin

Survei menyebutkan bahwa Alzheimer lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini bisa disebabkan karena umur wanita yang cenderung lebih panjang dibandingkan pria.

    5. Gangguan kognitif ringan

Orang dengan gangguan kognitif seperti kepikunan cenderung lebih mudah mengalami Alzheimer.

    6. Riwayat trauma kepala

Orang yang pernah mengalami cedera kepala berat memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita Alzheimer.

    7. Gaya hidup dan kesehatan jantung

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menimbulkan penyakit jantung mungkin dapat meningkatkan risiko Alzheimer, yaitu kurang olahraga, merokok, kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan sebagainya.

    8. Interaksi sosial dan tingkat Pengetahuan

Risiko Alzheimer dapat berkurang jika Anda melakukan aktivitas sosial dan mental yang berkelanjutan hingga usia tua. Misalnya dengan bersosialisasi, main teka-teki silang, dan sebagainya. Tingkat edukasi yang rendah juga dapat meningkatkan risiko Alzheimer.

Selain melihat beberapa faktor di atas, deteksi awal Alzheimer dapat dilakukan melalui wawancara dan beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah untuk menilai kemampuan mengingat, perubahan sikap, derajat gangguan ingatan yang terjadi, hingga penyebab dari keluhan. Jika Anda sering terbangun dari tidur malam, dan khususnya memiliki satu atau beberapa faktor risiko yang disebutkan di atas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter  untuk diagnosis lebih lanjut.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar