Sukses

Sabun Pembersih Kewanitaan Bikin Rahim Kering?

Bongkar mitos tentang sabun pembersih kewanitaan yang katanya bikin rahim kering, di sini.

Klikdokter.com, Jakarta “Hati-hati pakai sabun pembersih kewanitaan, nanti rahim kering, lho!” Anda pernah mendengar pernyataan itu? Jika ya, kepala Anda mungkin langsung dijejali oleh banyak pertanyaan. Benarkah produk khusus organ intim dapat membuat rahim kering? Mungkinkah rahim wanita bisa kering? Dan masih banyak pertanyaan lain.

Dalam dunia medis, sebenarnya tidak ada istilah ‘rahim kering’. Ungkapan kiasan tersebut digunakan oleh masyarakat untuk memperhalus ‘kemandulan’. Mereka mengibaratkan rahim yang tidak bisa mengandung sebagai ladang gersang yang tidak bisa menghasilkan panen.

Pada dasarnya, tingkat kesuburan wanita dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari gaya hidup, keturunan, atau bisa juga karena infeksi seperti vaginosis bakterialis. Untuk vaginosis bakterialis, terlalu sering mencuci vagina dengan air atau cairan lain, misalnya sabun pembersih kewanitaan, diduga dapat meningkatkan risiko Anda terkena gangguan ini.

Vaginosis bakterialis dan kesuburan

Vaginosis bakterialis merupakan infeksi ringan dan umum pada vagina yang disebabkan oleh bakteri. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya keseimbangan bakteri di dalam vagina.

Vagina memiliki banyak bakteri ‘baik’ dan beberapa bakteri ‘jahat’. Jenis yang baik ini membantu mengendalikan pertumbuhan jenis yang buruk. Pada wanita dengan vaginosis bakterialis, keseimbangan tersebut terganggu.   

Ketika seorang wanita terlalu sering mencuci vagina dengan air atau cairan lain seperti sabun pembersih kewanitaan, hal ini akan mengacaukan keseimbangan alami bakteri vagina serta pH (kadar keasaman). Ancaman terkena vaginosis bakterialis pun dapat bertambah.

Kendati bukan penyakit serius, vaginosis bakterialis nyatanya dapat menyebabkan kegagalan reproduksi. Hal ini pada gilirannya dapat menghalangi proses pembuahan, memicu aborsi spontan pada wanita hamil, dan meningkatkan risiko kelahiran prematur.

Tanda dan gejala vaginosis bakterialis yang umum adalah keputihan yang berbau. Warnanya pun bisa berubah menjadi putih keabu-abuan atau kuning. Selain itu, dapat juga timbul gatal-gatal pada vagina serta perih saat buang air kecil. Meski demikian, hampir 50% wanita yang terdiagnosis tidak menyadari adanya indikasi tersebut.

Aturan pakai sabun pembersih kewanitaan

Berbagai produk area kewanitaan dapat dengan mudah ditemukan di pasaran. Mulai dari tisu, spray, hingga sabun. Namun, para ahli mengatakan bahwa sebenarnya yang dibutuhkan vagina sederhana saja: basuh dengan air dan keringkan menggunakan handuk bersih. Tidak lebih.  

Jika Anda memang ingin menggunakan sabun, pilih yang aromanya ringan atau tidak mengandung pewangi, pewarna, dan pengawet. Pastikan juga sabun tersebut memiliki pH seimbang, yang sama dengan organ intim Anda, sehingga tetap mampu menjaga bakteri ‘baik’ di dalamnya.  

Disarankan bagi Anda untuk membasuh vagina satu kali saja dalam sehari. Kuncinya, lagi-lagi, adalah simpel dan tidak berlebihan. Tidak perlu juga membilas vagina hingga ke area dalam, cukup bagian luar. Vagina sesungguhnya sangat pintar dan dapat membersihkan dirinya sendiri, sehingga Anda tak perlu terlalu terobsesi untuk menjadikannya ‘sempurna’. 

Selain itu, agar vagina selalu sehat, batasilah penggunaan bubble bath dan gel mandi beraroma yang dapat menyebabkan iritasi. Pemilihan bahan celana dalam juga harus diperhatikan. Lebih baik menggunakan celana dalam berbahan katun yang dapat menyerap keringat ketimbang nilon, dan hindarilah thong. Menggunting bulu kemaluan atau menghilangkannya dengan laser juga lebih dianjurkan ketimbang shaving.  

Apabila Anda mengalami gejala vaginosis bakteralis, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan segera. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi yang lebih jauh lagi. Dan ingat, gunakan sabun pembersih kewanitaan dengan secukupnya agar vagina tak mengalami gangguan.

[RS/ RH]

1 Komentar