Sukses

Cara Mencegah Infeksi Akibat Pembalut

Infeksi pada area vagina dapat dipicu oleh pembalut. Bagaimana cara menghindarinya?

Klikdokter.com, Jakarta Pembalut mungkin bisa diibaratkan sebagai musuh dalam selimut. Ia dapat membuat Anda merasa aman dan terlindungi saat menstruasi. Tapi di lain waktu, Anda juga bisa dibuat iritasi dan gatal-gatal karenanya.

Seperti yang dialami oleh Mina (27). Dulu area organ intimnya mudah kemerahan saat memakai pembalut. Kemudian, setelah bertanya sana-sini, Mina pun beralih menggunakan pembalut yang berbahan katun organik. Hasilnya, ia sangat cocok dan nyaman. “Penting sekali ternyata untuk lebih memperhatikan bahan pada pembalut kita,” katanya.

Ada beberapa hal yang dapat membuat pembalut memicu infeksi atau iritasi. Salah satunya bisa diakibatkan oleh bahan-bahan dari pembalut tersebut. Dilansir Huffington Post, banyak produk kewanitaan saat ini mengandung rayon dan viskose. Keduanya berpotensi berbahaya karena serat penyerapnya yang sangat kuat sehingga dapat menempel pada dinding vagina.

Jika itu belum cukup mengerikan, ada beberapa fakta lagi yang perlu Anda ketahui. Rayon merupakan serat buatan atau sintetis yang terbuat dari serbuk gergaji dan sampingannya adalah dioksin. Menurut Enviromental Protection Agency (EPA), dioksin ini kemungkinan bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker.

Dikutip dari CNN, dioksin akan diserap langsung melalui vagina, kemudian masuk ke dalam darah. Bayangkan, apa yang terjadi pada tubuh Anda jika terpapar dengan zat ini seumur hidup?

Agar pembalut Anda tidak berbalik jadi frenemy, sebaiknya pilih yang memang sudah teruji dan terbukti aman. “Memilih pembalut sekali pakai yang terbuat dari bahan-bahan yang sudah melalui proses panjang dan disetujui untuk diproduksi adalah salah satu solusi untuk mencegah infeksi,” ungkap dr. Ellen Theodora kepada Klikdokter.

Selain itu, Dr. Rachna Pande, seorang spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Ruhengeri, mengatakan kepada The New Times, “Pembalut yang dijual di pasaran tidak sepenuhnya aman, kecuali terbuat dari katun murni.” Apalagi, tambahnya, sebagian besar pembalut yang mengklaim dirinya sangat menyerap ternyata dapat menyimpan dioksin.

Pande juga menjelaskan bahwa apa pun yang diaplikasikan pada kulit pada akhirnya akan terserap dan masuk ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan kulit merupakan penutup tubuh yang sangat halus, dan kulit vagina jauh lebih tipis dan rapuh. Karena seorang wanita bisa menggunakan pembalut selama bertahun-tahun, ada risiko kandungan pada produk kewanitaan tersebut tercerup berulang kali dan menyebabkan masalah kesehatan.

Untuk mencegah infeksi yang lebih jauh lagi, selain dengan menyeleksi pembalut yang aman, mencuci vagina secara teratur juga tak kalah vital. Lakukanlah satu kali sehari menggunakan air, demikian anjuran Dr. Sangeeta Agnihotri, seorang ahli ginekologi, dilansir Telegraph.

Jika Anda ingin membilasnya dengan sabun pembersih kewanitaan, silakan saja. Namun, pastikan sabun tersebut aman dan cocok untuk organ intim Anda. Bila perlu, pilihlah yang berbahan alami untuk meminimalkan efek samping, seperti yang mengandung godokan daun sirih. Tanaman ini telah terbukti memiliki manfaat sebagai antiseptik, antibakteri, dan anti-jamur.

Penting juga untuk memilih sabun pembersih kewanitaan yang memiliki pH (kadar keasaman) sama dengan area kewanitaan Anda, sehingga dapat mempertahankan bakteri ‘baik’ di dalamnya. “Ingat juga untuk selalu mengganti pembalut 3–4 jam sekali, terutama saat haid sedang deras agar terhindar dari infeksi yang mengganggu,” tandas Ellen.

(RS/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar