Sukses

Sudah Tepatkah Cara Anda Membersihkan Area Kewanitaan?

Setiap wanita pasti peduli terhadap kebersihan area kewanitaannya. Namun, apakah cara Anda membersihkannya sudah benar?

Klikdokter.com, Jakarta Area kewanitaan wanita itu bisa dibilang rumit. Mulai dari bau yang tak biasa atau memiliki kelembapan berlebih, apa pun yang terjadi di ‘bawah’ sana banyak membuat wanita khawatir. Meski tidak sering dibicarakan, tapi cara membersihkan area kewanitaan merupakan salah satu perhatian utama para wanita.

Pada dasarnya, area kewanitaan Anda, khususnya vagina, memiliki kemampuan untuk melindungi dan membersihkan dirinya sendiri. Vagina memiliki banyak pembuluh darah dan menghasilkan mucus (lendir vagina) yang dapat melindungi dari serangan kuman penyebab penyakit. Oleh karena itu, dalam keadaan normal, para ahli menganjurkan agar para wanita membersihkan area kewanitaannya cukup dengan air saja.

Tidak dianjurkan: membersihkan vagina dengan sabun mandi biasa

Sabun mandi biasa mengandung alkaline yang dapat menganggu keseimbangan pH pada vulva dan vagina, serta dapat berisiko menghilangkan bakteri baik. Jika bakteri baik hilang, bakteri jahat akan dengan senang hati tumbuh dan berkembang.

Perlu Anda ketahui, sabun mandi biasa yang umumnya memiliki pH basa sekitar 8, dapat berpotensi merusak keseimbangan bakteri baik dalam vagina. Apabila keseimbangan pH dan bakteri baik dalam vagina terganggu, masalah seperti keputihan dan infeksi dapat muncul.

Selain itu, Anda juga tidak dianjurkan untuk menggunakan douche, yaitu menyemprotkan cairan pembersih ke dalam vagina. Hal tersebut dapat mendorong masuk bakteri jahat masuk ke dalam organ kewanitaan Anda. Selain itu, penggunaan douche dapat meningkatkan risiko infeksi vagina, radang panggul, hingga kanker serviks.

Butuh waktu 24 jam bagi vagina dan vulva untuk dapat mengembalikan keseimbangan pH alami. Karena itu, jika Anda membersihkan area kewanitaan dengan sabun mandi biasa setiap hari, area kewanitaan tak akan pernah mencapai keseimbangannya secara optimal.

1 dari 3 halaman

Boleh pakai cairan pembersih, tapi...

Pada kondisi tertentu seperti saat menstruasi, terlampau lembap, banyak berkeringat, atau sedang mengalami keputihan, risiko kontaminasi bakteri menjadi lebih tinggi. Karena itu, ada baiknya jika Anda membersihkan area kewanitaan dengan bantuan cairan pembersih atau antiseptik khusus kewanitaan untuk membantu melawan risiko infeksi bakteri, jamur, atau virus.

Misalnya pada saat Anda menstruasi, pH vagina cenderung meningkat sehingga flora pada vagina dapat terganggu. Jika tidak dibersihkan dengan baik, maka akan timbul gejala seperti merah dan gatal. Nah, pada saat ini cairan pembersih kewanitaan bisa digunakan, dengan catatan jangan asal pilih.

Pilih cairan pembersih kewanitaan yang memiliki pH yang sesuai dengan pH pada daerah kewanitaan, yaitu berkisar antara 3,5–4,5. Jika pH kurang dari 3,5, biasanya jamur akan tumbuh, dan apabila pH lebih dari 4,5 maka akan tumbuh bakteri dan kuman penyebab infeksi.

Untuk yang lebih aman, pilih pembersih yang terbuat dari bahan alami. Misalnya ekstrak daun sirih yang sekarang sudah banyak tersedia di toko ritel dan apotek terdekat.

Sebagai pencegahan, cairan pembersih kewanitaan dianjurkan digunakan dua kali seminggu, yaitu pagi dan sore hari. Untuk pengobatan, bisa digunakan dua kali sehari selama lima hari berturut-turut. Namun sebelum melakukan ini, ada baiknya Anda berkonsultasi terlebih dulu ke dokter.

2 dari 3 halaman

Ingat, bersihkan hanya bagian luarnya saja

Banyak wanita yang berusaha untuk membersihkan area luar sekaligus area dalam vaginanya. Padahal, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, vagina memiliki mekanisme pembersihan diri secara otomatis. Meski demikian, area luar seperti vulva dan labia, tetap perlu dibersihkan supaya keringat dan sekresi tidak menumpuk. Pada kondisi vagina normal, basuh dengan air hangat atau air bersih.

Bersihkan secara cermat

Selain cara membersihkan area kewanitaan yang sudah disampaikan di atas, berikut cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menjaga organ kewanitaan tetap bersih:

  • Setelah berkemih atau buang air besar, basuh dengan air bersih dari arah depan ke belakang supaya tidak ada bakteri dari anus yang masuk ke dalam vagina. Keringkan dengan handuk agar area tersebut tidak lembap.
  • Jika handuk tak tersedia, pilih tisu yang lembut. Hindari tisu makan yang kasar karena dapat berpotensi menyebabkan iritasi. Perhatikan juga agar serat tisu tidak menempel pada permukaan vagina. Hal ini dapat menyebabkan gatal dan menjadi sarana tumbuh dan berkembangnya bakteri dan jamur.
  • Pilih pakaian dalam yang terbuat dari katun agar dapat menyerap keringat. Hindari pakaian dalam seperti thong atau G-string karena biasanya jenis tersebut tidak memiliki daya serap keringat yang baik. Hindari juga pakaian dalam yang terlalu ketat supaya sirkulasi udara di area kewanitaan tidak terganggu.

Mari mulai lakukan cara-cara membersihkan area kewanitaan di atas untuk menjaga kebersihan sekaligus keseimbangan pH secara optimal. Jika Anda memiliki keluhan seperti terdapat perubahan warna, bau, dan peningkatan cairan vagina (terutama disertai demam), kemerahan, gatal, dan iritasi, perdarahan atau flek di antara siklus menstruasi atau setelah berhubungan seksual, atau terdapat massa atau tonjolan yang tidak wajar, segera periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar