Sukses

Mengulik Wisata Bunuh Diri di Swiss

Swiss menjadi salah satu negara yang memberi toleransi pada tindakan bunuh diri berbantuan.

Klikdokter.com, Jakarta Ninth Symphony milik Beethoven mengalun mengisi ruangan di sebuah apartemen di Zurich, Swiss. Mengiringi Craig Ewert, seorang pasien assisted suicide (bunuh diri berbantuan), untuk pergi selamanya. Ia terus berusaha menyeruput minuman mematikan itu. Sementara istrinya, Mary, meletakkan kedua tangannya di kaki sang suami. Rautnya tampak tegar.

Lima bulan sebelumnya, Craig yang kala itu berusia 59 tahun, didiagnosis terkena amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sering disebut penyakit Lou Gehrig. Biasanya penderita ALS dapat bertahan hidup rata-rata dua hingga lima tahun. Akan tetapi, kondisi Craig berkembang dengan sangat cepat, tak seperti yang dibayangkannya.

Memang tak pernah ada yang menyangka. Selama tahun-tahun pernikahan mereka, Craig disibukkan oleh pekerjaannya sebagai profesor ilmu komputer, sementara Mary membesarkan kedua anak mereka di pinggiran Chicago. Lalu Craig pensiun dini dan memutuskan untuk hidup di luar negeri setelah anak-anaknya beranjak dewasa.

Ia pun mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai dosen di Inggris. Pada saat bersamaan, Mary mengambil doktoral di bidang hukum. Segalanya hampir berjalan sempurna hingga pada awal 2006, Craig merasakan lemas yang ganjil pada tubuhnya. Tak lama kemudian, ia menerima vonis ALS itu.

Saat kondisinya makin memburuk, Craig mulai berpikir perihal bunuh diri berbantuan. Ia pun aktif melakukan riset sendiri. Pencarian itu kemudian mempertemukan Craig dengan Dignitas, salah satu organisasi dari Zurich, Swiss, yang menawarkan tindakan bunuh diri berbantuan.

“Saya tidak letih dengan hidup. Saya lelah dengan penyakit ini,” kata Craig, dalam film dokumenter yang didedikasikan untuknya, “The Suicide Tourist” (2007).

Sebelum menyiapkan berkas-berkas dan terbang ke Zurich, Craig dan Mary meminta kedua buah hati mereka datang ke Inggris untuk pertemuan terakhir. Anak-anak itu tampak sedih, namun mereka tetap mendukung keputusan sang ayah.

1 dari 3 halaman

Detik-Detik sebelum Kematian

Craig dijadwalkan menetap di Zurich selama empat hari. Seraya menunggu hari kematiannya, ia dan Mary tak pernah absen mengabarkan anak-anak mereka melalui video call: “Kami tadi pergi ke taman”, “Kami minum kopi”, dan hal-hal remeh yang menyenangkan lainnya

Ia melewati pagi hingga malam dengan keteguhan yang makin kuat. “Jika saya tidak melakukan ini, maka saya akan membuat keluarga saya menderita, lalu mati, mungkin dengan cara yang jauh lebih menyakitkan daripada ini,” ujarnya.

Di hari kematiannya pada bulan September 2006, Craig terlihat begitu tegar. Suasana pun tampak damai, penuh kasih, dan tidak tergesa-gesa. Ia didampingi oleh Mary serta dua staf dari Dignitas.

Craig diwajibkan untuk menjalani beberapa prosedur sebelum diberikan sodium pentobarbital dalam dosis letal. Selain itu, ia juga diberitahu bahwa proses pemberian minum mematikan itu akan direkam, untuk menjadi bukti bahwa bunuh diri berbantuan tersebut bersifat sukarela. Lalu Craig mengangguk, pelan.

I love you so much.  Have a safe journey. I’ll see you sometime,” demikian kata-kata terakhir Mary untuk Craig.

Sesaat usai diberikan minuman mematikan tersebut, Craig sempat mengerang. Namun tak lama kemudian, kedua matanya sayup-sayup sebelum akhirnya mengatup rapat. Diiringi oleh lantunan Beethoven yang ia minta putarkan di hari kematiannya, semuanya berjalan sangat tenang.

Mengikuti aturan hukum Swiss, staf dari Dignitas menelepon kepolisian untuk mengabarkan kematian Craig Ewert. Pihak berwenang kemudian melakukan penyelidikan singkat dan menonton video rekaman tersebut. Setelah mereka memutuskan bahwa bunuh diri Craig bersifat sukarela, tubuhnya dibawa ke sebuah krematorium.

2 dari 3 halaman

Hak untuk Mati

Swiss memiliki posisi yang tidak biasa perihal bunuh diri berbantuan. Secara hukum tindakan ini dimaafkan dan dapat dilakukan oleh nondokter. Sementara eutanasia termasuk ilegal.

Secara formal, ada perbedaan besar antara bunuh diri berbantuan dan eutanasia. Pada bunuh diri berbantuan, dokter hanya membantu pasien, misalnya dengan memberi resep obat mematikan dalam dosis besar. Contohnya dalam kasus Craig, staf Dignitas lah yang akan mengambil obat yang sudah diresepkan dokter di farmasi, dan dokter tidak hadir di kejadian langsung.

Sedangkan pada eutanasia, dokter yang mengambil tindakan mematikan secara langsung. Misalnya, menyuntik mati pasien. Namun menurut filsuf K. Bertens, karena kebanyakan pasien dibunuh atas permintaannya sendiri, maka dari segi moral dua kasus ini tidak terlalu berbeda.

Dignitas, organisasi yang dipilih Craig untuk membantunya mengakhiri hidup, memang salah satu “master” bunuh diri berbantuan yang terkenal di Swiss.

Didirikan pada tahun 1998 oleh Ludwig Minelli, seorang pengacara hak asasi manusia asal Swiss, Dignitas telah membantu sekitar 2,100 orang mengakhiri hidupnya. Mereka menawarkan bunuh diri berbantuan kepada mereka yang menderita penyakit terminal, penyakit fisik dan/ atau mental berat, yang harus memenuhi syarat dari dokter di Swiss.

Dilansir Guardian, syarat dan ketentuan yang diminta Dignitas agar seseorang mendapat ‘lampu hijau’ tidak sembarangan. Pertama, Anda perlu menjadi anggota Dignitas terlebih dulu; siapa pun dapat bergabung jika mereka membayar biaya tahunan. Apabila Anda siap untuk meninggal, Anda perlu mengirimkan salinan catatan medis, sebuah surat yang menjelaskan mengapa penyakit Anda sudah tidak dapat ditoleransi, dan sejumlah uang.

Semua berkas tersebut akan dikirim ke salah satu dokter yang sudah terafiliasi Dignitas sebagai bahan pertimbangan. Jika dokter setuju, maka anggota dapat menghubungi staf di markas Dignitas, yang akan menjadwalkan tanggal dan menawarkan saran mengenai hotel atau apartemen.

Sebagian besar orang yang mendatangi Dignitas adalah mereka yang sudah sakit parah atau yang memiliki penyakit progresif yang tidak dapat disembuhkan. Lalu, ada juga orang-orang yang hanya bosan dengan hidup. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Inggris hingga Italia. 

“Biasanya, jika orang tersebut mengidap kanker stadium akhir, penyakit saraf motorik atau sklerosis ganda dan mereka mengatakan kepada kami ‘Saya tidak ingin hidup lebih lama lagi’, maka itu sudah cukup jelas bagi kami dan kami siap membantu,” ungkap Minelli.

Namun sesungguhnya, visi Minelli lebih radikal daripada itu. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya, bukan hanya mereka yang sedang sekarat.

Pandangan Minelli ini kontroversial di luar Swiss maupun negerinya sendiri. Para pejabat Swiss yang konservatif keberatan dengan Minelli, karena membuat citra negara sebagai tujuan wisata bunuh diri makin meluas.

Walau demikian, Minelli jalan terus. Baginya, Dignitas bukan semata sebuah organisasi, tetapi juga memori masa kecil. Dulu ia menyaksikan neneknya yang sekarat memohon kepada dokter untuk membantunya mati. Pengalaman itu membekas dalam dirinya dan membuatnya sadar bahwa kematian yang bebas dari rasa sakit adalah hak mendasar setiap manusia.

Di balik itu, ada juga kabar tak sedap yang menyeruak dari organisasi ini. Mantan perawat Dignitas, Soraya Wernli, membeberkan bahwa tempat bekerjanya dulu ini sudah seperti mesin uang yang terlalu mementingkan profit, dikutip dari Sunday Morning Herald.

Menurut situs web resmi Dignitas, pada tahun 2017 Dignitas mengecas pasiennya 7.980 dolar AS untuk persiapan dan bantuan bunuh diri, atau 11.970 dolar AS jika termasuk pemakaman, biaya medis, dan biaya resmi. Di bawah Undang-Undang Swiss, Dignitas beroperasi sebagai organisasi nirlaba, tetapi tidak membuka keuangannya secara transparan, dan ini telah menimbulkan kritik dari beberapa kalangan.

Selain Dignitas, ada pula organisasi nirlaba Exit. Dibentuk pada 1982, Exit merupakan salah satu lembaga tertua di dunia yang berperan dalam membantu orang bunuh diri. Kini anggotanya sudah mencapai 105.000 dan terus menanjak.

Sama seperti Dignitas, Exit juga tak luput dari kritik. Menurut tulisan di Time, Exit pernah dikecam karena menambah jasa bunuh diri untuk lansia. Sebab ditakutkan lansia yang sehat juga memiliki tekanan batin untuk mencabut nyawa mereka.

Bagi mereka yang pro, kematian yang baik semestinya bebas rasa sakit, sehingga bunuh diri berbantuan ataupun eutanasia adalah hak setiap manusia. Sebaliknya, mereka yang keberatan percaya bahwa tangan Tuhan tak seharusnya diganggu gugat oleh manusia. Bagaimana dengan Anda? Jika Anda berada dalam posisi Craig, misalnya, akankah memilih mati sebagai pilihan yang masuk akal atau mencoba bertahan?

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar