Sukses

Benarkah Supermoon Berdampak pada Pasien Autoimun?

Saat orang ramai menyaksikan supermoon, sebagian pasien autoimun justru khawatir akan kesehatannya.

Klikdokter.com, Jakarta Di tengah hebohnya orang-orang menyaksikan dan mengabadikan fenomena supermoon yang muncul setiap 150 tahun, para pasien autoimun ternyata merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan, menjelang dan selama gerhana bulan ini muncul.

Penjelasan dari Live Science menyatakan bahwa super blue blood moon (gerhana bulan total) pada Rabu (31/1/2018) lalu merupakan fenomena langka yang telah dinanti banyak orang. Serunya lagi, kemunculan fenomena alam ini bersamaan dengan supermoon (purnama perige).

Dijelaskan juga bahwa saat gerhana bulan total, sinar matahari yang dipantulkan oleh bulan menjadi terhalang oleh bumi. Saat supermoon, bulan berada paling dekat dengan bumi, sehingga bulan terlihat 30% lebih terang dan 14% lebih besar dari biasanya.

Gerhana bulan pengaruhi kekebalan tubuh?

Seperti dilansir oleh WebMD, penyakit autoimun merupakan kelainan pada sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan aktivitas tidak normal yang rendah, atau lebih dari aktivitas sistem kekebalan tubuh seharusnya.

Ketika seseorang terkena autoimun, maka tubuh akan merusak jaringannya sendiri. Dengan begitu, tubuh akan secara otomatis menurunkan kemampuannya untuk melawan kondisi tersebut. Penyakit autoimun ini dapat menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.

Beberapa pengidap autoimun mengaku mengalami flare up, yakni munculnya gejala penyakit yang diyakini merupakan dampak dari pengaruh gravitasi.

Salah satunya adalah yang namanya sempat ramai beredar di media sosial, yakni seorang pengidap Antiphospolipid Syndrome (APS) dan Sjorgen’s Syndrome (SS) bernama Fatimah Berliana Monika Purba. Ia sempat mengunggah sebuah status yang menjelaskan tentang apa yang dialaminya menjelang fenomena supermoon.

“Tiga hari lalu saat buka mata dini hari, badan sakit sekali, sulit digerakkan, sesak napas, sakit kepala dan fatigue lebih berat dari hari-hari lainnya,” tulis wanita yang akrab disapa Monik ini, dalam akun facebook miliknya.

Menurutnya, jurnal yang ia laporkan ke dokter, menunjukkan gejala tersebut selalu ia rasakan menjelang bulan purnama. Pengaruh gravitasi saat bulan purnama tiba pun membuat sistem hormonalnya berubah.

1 dari 2 halaman

Perlu penelitian lebih lanjut

Melihat fenomena ini, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid menyatakan pada Klik Dokter bahwa hal tersebut sebenarnya belum bisa dibuktikan. “Kejadian flare up ini memang sering terjadi pada beberapa pasien pengidap autoimun. Namun, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut,” ucap dr. Resthie.

Terjadinya flare up pada pasien autoimun tersebut menurut dr. Resthie juga diduga terjadi karena adanya pengaruh gravitasi saat bulan purnama tiba yang dapat mengganggu kelenjar adrenal sebagai pengatur sistem imun. “Meskipun demikian, kesimpulan ini masih berdasarkan pengalaman individual beberapa pasien autoimun. Jadi, tak perlu dikhawatirkan,” tambahnya.

Untuk menghindari terjadi flare up, dr. Resthie menyarankan agar para pasien autoimun sebaiknya jangan terlalu stres, perbanyak istirahat, kurangi penggunaan gawai dan banyak konsumsi air mineral.

“Kelola stres dengan baik untuk menghindari serangan flare up. Dan apabila flare up yang dirasakan terjadi lebih dari tiga hari, segeralah memeriksakan diri ke doter agar segera mendapatkan pengobatan yang sesuai,” dr. Resthie berpesan di akhir wawancara.

Fenomena gerhana bulan supermoon ini memang menarik perhatian masyarakat, termasuk dengan dampak yang dapat terjadi pada para pasien autoimun. Apabila di anggota keluarga Anda ada yang mengidap autoimun, berikanlah perhatian penuh untuk mendukung perjuangannya melawan penyakit autoimun.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar