Sukses

Pengaruh Meme terhadap Kesehatan Mental Anda

Anda merasa terhibur dengan meme di media sosial? Ini dia pengaruhnya terhadap kesehatan mental.

Klikdokter.com, Jakarta Kaum milenial kini senang mengunggah dan mengunduh meme untuk membagikan apa yang tengah dirasakannya, lewat media sosial. Nyatanya, menurut beberapa ahli, meme yang merupakan produk kekinian ini memang cukup memengaruhi kesehatan mental Anda, baik dalam kondisi sedih ataupun bahagia.

Bagi Anda yang belum mengenal tentang produk kekinian ini, menurut Wikipedia, meme merupakan akronim dari istilah Mimema yang berasal dari bahasa Yunani dan berarti sesuatu yang menyerupai atau menirukan dan terdengar serupa. Dalam bahasa Inggris, mimema sama artinya dengan tiruan.

Istilah meme sendiri diciptakan oleh Richard Dawkins, seorang profesor di Universitas Oxford. Dawkins memakai istilah ini untuk mendefinisikan lahirnya budaya replikator atau membuat sesuatu yang serupa.

Meme mampu mengurangi derita?

Terlepas dari sejarah kata dan kemunculannya, ternyata meme muncul sebagai bahasa unik untuk berdialog soal kesehatan mental.

Menurut Vikki Ryall, Kepala Praktik di National Youth Mental Health Foundation, meme yang sesuai dengan kondisi mental orang yang melihatnya akan menangkap perasaan orang tersebut. Terkadang, meme yang kocak akan menghilangkan rasa khawatir yang ada.

Selain itu, seorang komedian, penulis bernama Deirdge Fidge menyatakan kecintaannya pada meme, “Saya menderita depresi kronis dan harus membayar $200 dolar untuk menjalani terapi. Namun melihat meme dapat membuat saya bahagia dan beresonansi lebih dari sesi terapi saya,”

Tak hanya itu, Fidge juga merasa meme yang bertema kesedihan cukup efektif untuk membuat ia merasa tak sendiri. Karena dengan menemukan meme tersebut ia menyadari bahwa bukan hanya ia yang mengalami hal menyedihkan tersebut.

Belakangan ini mulai bermunculan meme dari film yang tengah tayang di bioskop atau meme dari kejadian tertentu. Gambar meme yang lucu dapat membuat kesehatan mental Anda lebih sehat, karena memicu hormon endorfin yang merupakan hormon kebahagiaan.

1 dari 2 halaman

Meme bisa menjadi penyaluran emosi

Melihat fenomena meme yang bertebaran di media sosial, dr. Sepriani Timurtini Limbong mengatakan pada Klik Dokter bahwa meme merupakan salah satu bentuk psiko ventilasi, yakni psikoterapi yang juga merupakan jendela perasaan untuk membuat pasien merasa lebih lega dan keluhannya berkurang.

“Sebenarnya, setiap orang yang sedang dalam keadaan bahagia atau sedih butuh ventilasi dan biasanya datang ke psikiater. Dengan meme ini, orang akan merasa terbantu untuk mengeluarkan segala kekhawatirannya,” ucap dr. Sepriani.

Menurutnya, orang yang tumbuh di kalangan keluarga yang biasa menerapkan keterbukaan masih tergolong aman dalam menjaga kesehatan mental. Namun, jika tidak, maka orang bisa memanfaatkan musik, film, curhat atau juga meme.

“Terkadang orang butuh faktor eksternal untuk membuat dirinya bahagia. Jadi, tak ada salahnya saat stres Anda membuka akun humor atau meme, seperti 9GAG misalnya,” tambahnya.

Namun, meme juga tak selalu menghibur. Pada kasus tertentu, konten pada meme dapat membuat orang depresi. “Meme yang mengandung konten bullying bisa berdampak negatif. Contohnya tentang seorang tokoh yang sedang terkena kasus lalu dibuat meme yang berisi mengejek,” ucap dr. Sepriani.

Jadi meme memang dapat membuat kesehatan mental Anda lebih baik, sebab meme berkonten sedih dapat membuat Anda terhindar dari perasaan kesepian, sehingga lebih termotivasi. Konten humor pun membuat Anda dapat merasa bahagia.

Namun, jika kesedihan yang Anda rasakan tak dapat terobati dengan meme, ada baiknya Anda mendatangi psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga kesehatan mental Anda tetap terjaga.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar