Sukses

Kapan Anak Anda Perlu Vaksinasi Ulang Difteri?

Pemerintah bergerak cepat menanggapi wabah difteri, termasuk menggalakkan vaksinasi ulang difteri.

Klikdokter.com, Jakarta Vaksinasi ulang difteri serentak dilakukan oleh pemerintah di tiga provinsi pada Desember tahun lalu, di sekolah, puskesmas, posyandu, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi DPT untuk vaksinasi difteri ulang ini dilakukan di area Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kenaikan kasus penyakit difteri pada 2017 disebabkan oleh berbagai alasan. Salah satu alasan yang mengemuka adalah penolakan vaksinasi oleh beberapa keluarga dan kurangnya kesadaran akan manfaat vaksinasi.

Ancaman difteri saat Asian Games

Jumlah kasus difteri di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia bersama dengan India dan negara-negara Afrika, walaupun vaksinasi telah dilakukan selama 30 tahun terakhir. Data dari WHO mencatat sekitar 7.000 kasus di seluruh dunia terjadi pada tahun 2016 dan angka ini sudah mengalami penurunan 100.000 kasus yang terjadi di 1980.

Oleh sebab itu Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek meluncurkan program imunisasi DPT untuk mencegah penularan lebih lanjut terhadap penyakit difteri. Apalagi, Indonesia tak lama lagi menyambut Asian Games yang akan menarik ratusan atlet dari belasan negara.

Seperti dilansir oleh Reuters, Dr. Vinod Bura sebagai perwakilan WHO di Jakarta mengatakan bahwa risiko penyakit difteri dapat menyebar di luar kendali saat terselenggara acara Asian Games.

“Acara ini merupakan pertemuan massal yang memudahkan penularan penyakit. Jadi, sangat penting untuk menyediakan cakupan imunisasi sebanyak mungkin,” ucapnya.

Difteri sendiri merupakan penyakit serius yang memengaruhi hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas.

Penyakit ini juga bisa menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak jika saluran pernapasan terhambat dan terjadi gagal jantung. Gejala difteri berupa demam tinggi di atas 38 derajat, sulit bernapas dan menelan, serta membengkaknya bagian leher.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Vaksinasi perlu diulang

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini saat memberi pernyataan pada Klik Dokter, pada saat melakukan imunisasi DPT, Anda akan diberikan vaksin 3-in-1 yang dapat melindungi Anda terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus.

“Vaksin DPT ini harus diulang jika sudah diberikan sebanyak 3 kali sebelumnya. Karena semakin bertambah umur, antibodi akan menurun,” jelas dokter yang akrab dipanggil dr. Vita ini.

Waktu imunisasi yang tepat hendaknya dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit difteri. Berikut ini adalah parameter waktu yang tepat dari dr. Vita untuk melakukan vaksinasi ulang difteri:

  • Vaksinasi DPT 1,2 dan 3

Vaksin DPT pertama sudah boleh diberikan pada saat anak Anda berusia 6 minggu. Jangka waktu pemberian vaksin pertama, kedua dan ketiga masing-masing adalah 4 minggu.

  • Vaksinasi DPT 4

Setelah vaksin ketiga, Anda boleh melakukan vaksinasi ulang difteri setelah 6 bulan kemudian. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh kembali dari risiko penyakit difteri.

  • ·Vaksinasi DPT 5

Vaksin kelima ini diberikan saat anak Anda berada pada rentang usia 4-6 tahun, jika vaksinasi DPT 4 Anda berikan pada saat anak berusia kurang dari 4 tahun.

Namun, apabila vaksin sebelumnya Anda berikan pada saat anak berusia lebih dari 4 tahun, maka vaksinasi DPT 5 baru boleh diberikan saat anak Anda berusia 7 tahun.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Tolak vaksinasi bisa akibatkan penyebaran difteri

Meskipun vaksinasi dapat menyebabkan demam, menurut dr. Vita cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi difteri sesuai jadwal, agar vaksin yang diberikan dapat bekerja secara optimal.

“Vaksin DPT merupakan vaksin mati, sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi di dalam tubuh anak tetap tinggi diperlukan pemberian vaksinasi ulang difteri sampai 5 kali,” ucap dr. Vita.

Saat ini banyak orang tua yang anti vaksinasi. Padahal, semakin banyaknya penolakan tersebut maka kemungkinan penyakit difteri menyebar luas di lingkungan akan semakin tinggi.

Jika anak Anda sedang demam tinggi atau dirawat, Anda boleh menunda pemberian imunisasi.

“Anda dapat menunda pemberian vaksinasi, namun harus tetap dikejar ketertinggalannya saat anak Anda sudah sehat kembali. Batuk dan pilek bukan hambatan anak untuk tidak diimunisasi,” pesan dr. Vita.

Dengan melakukan vaksinasi ulang difteri, artinya Anda telah memberikan perlindungan kepada anak dan keluarga. Lakukan imunisasi sesuai jadwal di atas dan berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Yuk, vaksinasi ulang difteri!

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar