Sukses

5 Penyakit Autoimun yang Sering Menyerang Perempuan

Sebagian besar penyakit autoimun lebih sering menyerang kaum perempuan. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit autoimun merupakan kondisi abnormal dengan tanda berupa ‘kesalahpahaman’ sistem imun dalam mengenali sel tubuh. Penyakit ini menganggap sel dalam tubuh sebagai benda asing yang perlu dilawan dan dihancurkan.

Penyebab penyakit autoimun belum diketahui pasti hingga kini. Karena itu, penyakit ini sukar ditangani, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk diobati. Bahkan, berbagai studi mencatat bahwa biaya pengobatan penyakit autoimun lebih besar daripada biaya pengobatan kanker.

Gejala penyakit autoimun sangat bervariasi, antara lain yaitu rambut mudah rontok, nyeri sendi, sariawan, berat badan turun, benjolan di kulit, mudah lelah, mudah mengantuk, dan sebagainya. Penyakit autoimun sering terlambat diketahui, karena gejalanya kerap kali tidak khas.

Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang dewasa muda dan berjenis kelamin perempuan. Agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat, Anda perlu mengenali lima penyakit autoimun yang paling sering terjadi pada perempuan berikut ini:

1 dari 6 halaman

1.  Lupus

Penyakit lupus (systemic lupus erythematosus/SLE) merupakan penyakit autoimun yang menyerang kulit, sendi, dan berbagai macam organ dalam. Gejalanya dapat berupa:

●   Ruam berwarna merah atau keunguan berbentuk mirip kupu-kupu, yang terdapat pada pipi dan hidung. Secara medis, ruam ini disebut sebagai ruam malar.

●   Ruam diskoid, yaitu terdapat bagian kulit yang meninggi, berwarna kemerahan, disertai dengan pengelupasan kulit. Ruam ini paling sering dijumpai di kulit pipi, hidung, sekitar bibir, dan cuping telinga.

●   Sariawan di mulut yang biasanya muncul lebih dari satu dan tidak nyeri.

●   Peradangan pada selaput pembungkus paru (pleuritis) atau peradangan pada selaput pembungkus jantung (perikarditis) yang ditandai dengan gejala sesak napas, batuk-batuk, atau nyeri dada.

●   Nyeri sendi di beberapa tempat, dapat disertai dengan kemerahan dan bengkak pada sendi.

●   Kulit mudah merah atau terbakar bila terpapar sinar matahari.

●   Kelainan darah, dapat berupa sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit yang jumlahnya lebih rendah dari normal.

●   Gangguan saraf, seperti gangguan kesadaran, gangguan memori, bicara tidak jelas, sulit menelan, dan sebagainya.

Bila terdapat gejala yang mengarah ke lupus, dokter akan menganjurkan pemeriksaan darah, yaitu Antinuclear antibody (ANA) dan anti-doublestranded DNA (anti DsDNA).

2 dari 6 halaman

2. Rematik

Rheumatoid arthritis (RA) atau rematik bukan sakit sendi biasa. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan sendi di banyak tempat dan terjadi selama lebih dari enam minggu.

Rematik ditandai dengan gangguan sendi berupa nyeri, bengkak, kemerahan, dan hangat bila diraba. Pada umumnya, sendi yang terkena adalah sendi kecil seperti sendi jari tangan, jari kaki, dan pergelangan tangan. Peradangan sendi sering kali dialami secara simetris pada tangan atau kaki kiri dan kanan.

Bila penyakit sudah berjalan kronik, dapat terjadi kerusakan bentuk sendi. Sendi jari tangan bisa terlihat seperti leher angsa (swan-neck deformity).

Dokter akan menyarankan pemeriksaan rheumatoid factor (RF), anti-citrullinated protein antibodies (ACPA), dan C-reactive protein (CRP), bila muncul dugaan penyakit rematik. Penyakit ini dapat diobati dengan obat NSAID (non-steroidal anti inflammatory drugs) atau dengan DMARD (disease modifying anti rheumatic drugs), tergantung pada tingkat keparahan penyakit.

3 dari 6 halaman

3. Penyakit Graves

Penyakit Graves merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid. Gangguan sistem imun menyebabkan kelenjar tiroid menjadi hiperaktif dalam memproduksi hormon tiroid, sehingga kadar hormon tiroid yang beredar di dalam darah terlalu tinggi dan menyebabkan gejala hipertiroid.

Hipertiroid yang terjadi pada penyakit Graves menyebabkan metabolisme tubuh berlebihan. Gejala yang muncul dapat berupa mudah kepanasan dan berkeringat, nafsu makan meningkat tetapi berat badan menurun, sulit tidur di malam hari, berdebar-debar, detak jantung lebih cepat dari normal, dan tremor.

Selain itu, ada gejala lain seperti lebih mudah mengalami emosi (marah, sedih, dan sebagainya), rambut rontok, haid tidak teratur, buang air besar lebih sering dari biasanya, dan mata menonjol (eksoftalmus).

Meski tidak selalu ditemui pada semua kasus, eksoftalmus merupakan tanda khas dari penyakit Graves. Kondisi mata yang menonjol membuat mata menjadi lebih sulit ditutup, sehingga rentan mengalami iritasi.

Bila terdapat gejala yang sesuai dengan penyakit Graves, penderita akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan hormon tiroid yaitu pemeriksaan free T4 (fT4) dan thyroid stimulating hormone (TSH). Penyakit Graves dapat diobati dengan obat antitiroid, pemberian zat radioaktif (I131), atau operasi pengangkatan kelenjar tiroid.

4 dari 6 halaman

4. Psoriasis

Psoriasis merupakan penyakit autoimun yang menyerang kulit. Gejala utamanya berupa timbul sisik tebal di kulit di berbagai tempat. Sisik ini berwarna putih perak dengan dasar kulit kemerahan. Jumlah sisik umumnya bertambah dalam keadaan stres, infeksi, atau ada luka di kulit.

Daerah kulit yang sering terkena adalah kulit kepala, siku, lutut, telapak tangan, dan kaki. Selain itu, kuku penderita psoriasis biasanya mengalami gangguan berupa kuku menjadi lebih tebal, berwarna kekuningan, dan permukaannya bergerigi.

Penyakit psoriasis ditangani oleh dokter spesialis kulit. Bila kulit yang mengalami psoriasis tidak terlalu luas, dokter akan memberikan pengobatan berupa krim steroid yang dioleskan pada area yang sakit. Bila kulit yang terkena cukup luas, pasien biasanya memerlukan pengobatan dengan DMARD (disease modifying anti rheumatic drugs).

5 dari 6 halaman

5. Sindrom Sjogren

Sindrom Sjogren merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar yang menghasilkan air mata dan air liur. Penyakit ini menyebabkan kelenjar tersebut rusak dan kesulitan menghasilkan air mata dan air liur.

Karena kondisi tersebut, penderita sindrom Sjogren mengalami kondisi mata kering (xeroftalmia). Gejalanya biasanya berupa rasa tidak nyaman atau mengganjal di mata, dan gatal atau perih. Lantas, mata bisa mengalami iritasi, sehingga menjadi merah dan dapat terjadi gangguan penglihatan.

Gangguan pada kelenjar air liur juga menyebabkan mulut menjadi kering dan mudah mengalami sariawan. Selain itu, sindrom Sjogren juga bisa menyerang organ tubuh lain dan menimbulkan gejala kulit kering, nyeri-nyeri sendi, diare, pembesaran kelenjar getah bening, gangguan ginjal, dan sebagainya.

Pengobatan penyakit ini tergantung pada gejala yang terjadi. Bila gejala yang dialami mata kering, maka pengobatannya dengan memberikan air mata buatan. Bila kulit kering, maka diberikan pelembap.

Itulah lima penyakit autoimun yang sering terjadi pada perempuan. Bila mengalami beberapa gejala seperti yang sudah dijelaskan, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Penanganan yang cepat dan tepat akan mencegah penyakit autoimun menjadi lebih berat.

[BA/ RVS]

5 Komentar

  • Erlien Lien

    saya harusnya konsultasi dokter apa ? dan rasanya badan jadi suka mengantuk . harus minum obatnya apa ?

  • Erlien Lien

    dokter mau tanya di kepala sebelah kiri sdh 1 bln ada benjolannya .

  • Thelma

    Tgl 5 Sept sy & team di kantor perusahaan 4 Life akan ada presentasinya. WA saya utk daftar kehadiran.