Sukses

7 Mitos Kesehatan Gigi yang Boleh Anda Abaikan

Banyak mitos seputar kesehatan gigi yang ternyata benar-benar menyesatkan. Ini fakta yang sebenarnya.

Klikdokter.com, Jakarta Kemudahan mencari informasi di internet membuat banyak masyarakat terjebak dalam mitos yang menyesatkan. Di antara sekian yang beredar, mitos kesehatan gigi menjadi salah satu yang populer.

Inilah 7 mitos kesehatan gigi yang sebaiknya benar-benar Anda abaikan:

Mitos #1. Gigi susu yang berlubang tidak perlu dirawat

Sejak tumbuh gigi pertama, anak sudah berpotensi untuk terkena penyakit karies gigi. Bila tidak dibiasakan menjaga kebersihan rongga mulut, lama-kelamaan gigi susu akan mengalami karies dan berlubang.

Gigi susu yang berlubang tetap harus dilakukan penambalan, meski nantinya akan digantikan oleh gigi tetap. Sebab jika tidak ditambal, kuman dari gigi berlubang akan terus menjalar ke bagian saraf gigi dan ke jaringan pendukung gigi.

Hal tersebut bisa menimbulkan rasa sakit atau bahkan bengkak, yang pada akhirnya membuat anak enggan makan, cenderung rewel, malas belajar, bermain ataupun bersosialisasi. Tidak hanya itu, gigi susu rusak yang tidak ditambal juga akan memengaruhi pertumbuhan gigi permanen.

Mitos #2. Sakit gigi bisa diatasi hanya dengan obat-obatan

Kini banyak beredar obat-obatan yang mengklaim dapat membantu mengatasi sakit gigi, misalnya minyak cengkeh. Minyak jenis ini memang memiliki kandungan eugenol yang dapat meredakan rasa sakit gigi, tapi tidak menyembuhkannya.

Tindakan mengoleskan minyak cengkeh pada gigi berlubang juga sebenarnya tidak benar-benar efektif mengatasi keluhan. Ini karena minyak tersebut hanya membuat saraf gigi kebal sementara.

Perlu Anda ketahui, mengoleskan minyak cengkeh pada gigi yang berlubang secara terus-menerus justru dapat mengikis mahkota gigi. Hal ini membuat mahkota gigi menghilang, dan menyisakan akar gigi saja. Bila sudah begini, tak hanya rasa sakit yang menghilang, tetapi juga gigi Anda.

Mitos #3. Membersihkan karang gigi bisa dilakukan di rumah

Sebenarnya, yang dapat dibersihkan sendiri di rumah adalah plak gigi, bukan karang gigi. Ini karena plak gigi masih bersifat lunak, sehingga masih bisa dibersihkan menggunakan sikat dan pasta gigi biasa.

Sedangkan karang gigi hanya dapat dibersihkan oleh dokter gigi menggunakan ultrasonic scaler. Oleh karena itu, informasi yang menyebutkan bahwa karang gigi bisa dibersihkan di rumah menggunakan bahan seperti hidrogen peroksida adalah bohong belaka.

Menurut Australian Dental Journal, penggunaan hidrogen peroksida dalam jumlah yang tidak sesuai dapat menyebabkan iritasi gusi dan luka seperti sariawan.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

Mitos #4. Bau mulut bisa hilang hanya dengan berkumur cairan khusus

Sebesar 90% kasus bau mulut berasal dari faktor dalam mulut (lokal), dan 10%-nya berasal dari dalam tubuh (sistemik). Oleh karena itu, untuk menghilangkan bau mulut tidak bisa hanya dengan menggunakan cairan kumur saja.

Cairan kumur memang bisa mengurangi bau mulut, namun efeknya hanya sekadar mengharumkan napas sementara. Ini berarti cairan kumur hanya mampu menutupi bau mulut, tidak benar-benar memusnahkan penyebab bau mulut.

Mitos #5. Pasta gigi yang dicampur bahan tertentu dapat memutihkan gigi

Banyak informasi yang menyebutkan bahwa mencampurkan pasta gigi dengan soda kue atau perasan stroberi dapat membantu memutihkan gigi. Tahukah Anda bahwa ini hanyalah mitos belaka?

Menurut American Dental Association, soda kue dan stroberi tidak mengandung bahan utama yang diperlukan untuk memutihkan gigi. Kedua bahan tersebut justru dapat meningkatkan risiko gigi sensitif, keropos, atau bahkan patah. Ini karena soda kue dan stoberi bersifat mengikis lapisan mineral alami gigi.

Mitos #6. Cabut gigi atas dapat merusak saraf mata

Sebenarnya, mencabut gigi atas dengan mencabut gigi bagian lain memiliki efek samping yang sama. Namun Anda tidak perlu khawatir jika melakukan tindakan pencabutan di dokter gigi. Ini karena dokter gigi memiliki prosedur tertentu sebelum melakukan tindakan mencabut gigi. Mulai dari wawancara medis untuk mengetahui kondisi pasien, hingga penggunaan bius (anestesi) untuk mengurangi kemungkinan terjadinya efek samping.

Mitos #7. Sikat gigi berlabel “bristle” sudah pasti mengandung babi

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa kuas atau sikat gigi berlabel “bristle” tidak selalu mengacu pada penggunaan bulu babi.

Arti dari “bristle” itu sendiri adalah semua rambut, alias serat yang kaku. Jadi, kuas, sikat gigi, sapu ijuk, atau daun pinus yang kaku pun dapat disebut sebagai “bristle”.

Jadi, sebelum Anda membeli sikat gigi, sebaiknya periksa terlebih dahulu labelnya. Biasanya, produk sikat gigi yang menggunakan bulu babi memiliki label bertuliskan “Boar Bristle Brush”.

Bagaimana jika hanya bertuliskan “bristle” dan tidak ada logo halal dari MUI? Tidak perlu khawatir, untuk memastikan sikat gigi tersebut berbahan bulu babi atau tidak, Anda bisa membakarnya. Jika baunya seperti rambut atau tanduk terbakar, lebih baik tinggalkan. Bahan sintetis seperti nilon, silikon, atau sabut kelapa tidak akan mengeluarkan bau khas seperti itu jika dibakar.

Sekarang Anda sudah mengetahui fakta di balik mitos kesehatan gigi yang banyak beredar. Semoga Anda bisa lebih bijak dalam menanggapi segala informasi yang beredar, apalagi bila itu menyangkut kesehatan. Salam sehat!

[NB/ RVS]

1 Komentar