Sukses

Bunda, Ini Penyebab Anak Perempuan Jadi Tomboi!

Berbeda dari yang lain, anak perempuan Anda justru lebih gemar bermain mobil-mobilan ketimbang boneka. Apa penyebab anak jadi tomboi?

Sebagai seorang ibu yang punya anak perempuan, pasti ingin mendandani anaknya dengan pakaian yang cantik nan imut, lengkap dengan aksesori, seperti topi, bandana, gelang, dan sebagainya.

Belum lagi bila ibu gemar membelikan anak perempuannya berbagai macam jenis boneka untuk bermain.

Bagaimana jadinya kalau anak perempuan Anda justru tidak tertarik dengan semua hal tersebut dan memilih bermain mobil-mobilan atau kegiatan lainnya yang biasa dilakukan anak laki-laki?

Apa Penyebab Anak Perempuan Jadi Tomboi?

Orang tua mungkin sering bertanya-tanya mengapa anak gadisnya bisa berubah menjadi tomboi.

Menjawab pertanyaan ini, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan ada beberapa penyebab seorang anak perempuan jadi tomboi, yaitu:

1. Melihat Ayah sebagai Role Model

Karena sangat kagum dan mengidolakan ayahnya, seorang anak perempuan bisa saja mengikuti gaya maupun sikap yang ditunjukan oleh sang ayah.

“Tomboi adalah suatu bentuk perilaku yang cenderung menunjukkan sisi maskulin. Misalnya ketika seorang anak melihat sosok ayah yang keren dan sangat diidolakan, ia jadi punya impian untuk menjadi seperti ayahnya,” ujar Ikhsan.

“Dengan cara seperti apa? Dari cara berpakaian, bersikap, maupun berbicara. Makanya banyak anak tomboi yang mungkin punya suara seperti laki-laki,” lanjutnya.

2. Faktor Lingkungan

Berada di lingkungan yang banyak anak laki-laki juga bisa jadi alasan lainnya mengapa seorang anak perempuan berubah menjadi tomboi.

Seorang wanita bernama Sarah (bukan nama sebenarnya) mengaku dirinya bisa menjadi pribadi yang tomboi dikarenakan lingkungan sekitarnya didominasi oleh anak laki-laki.

“Waktu sekolah memang banyak teman laki-laki. Main sama mereka setiap hari, jadinya ikut kebawa sampai sekarang. Mulanya memang karena nyaman juga bermain dengan anak laki-laki. Itu yang mungkin membuat aku jadi seperti sekarang,” ujar Sarah kepada Klikdokter.

3. Pola Asuh Orang Tua

“Pola asuh orang tua juga turut memengaruhi. Jadi, kalo anaknya memang dari dulu terbiasa diberikan pakaian yang maskulin atau diajak ikut kegiatan yang lebih maskulin dibanding feminim, bisa membuat anak perempuan akhirnya terbentuk sifat maskulinnya,” kata Ikhsan.

Artikel Lainnya: Di Usia Berapa Pertumbuhan Wanita Terhenti?

1 dari 3 halaman

Efek dari Anak Perempuan yang Tomboi Sejak Kecil

Sebenarnya tidak ada yang salah bila anak perempuan berubah menjadi tomboy. Ikhsan mengatakan, menjadi seorang yang tomboi tidak selamanya negatif.

Hanya saja, wajar bila orang tua merasa khawatir dengan sikap maupun tampilan anak. Hal ini bisa membuat perspektif “negatif” dari orang luar.

“Anak tomboi biasanya punya jiwa kompetitif, mengambil risiko, dan tidak mudah menyerah. Jadi, sebenarnya tidak ada yang negatif dari anak perempuan tomboi. Setiap anak pasti punya kekurangan dan kelebihan. Tapi, jangan sampai orang tua maupun orang luar mengotak-ngotakkan gender hanya dari tampilan fisik,” lanjut Ikhsan.

Artikel Lainnya: Bangun Hubungan Baik antara Ibu dan Anak Perempuan Dewasa

2 dari 3 halaman

Bagaimana Orang Tua Menyikapi Anak Perempuan yang Tomboi?

Apabila anak mendapatkan tekanan dari lingkungan luar, dijauhi, dan sebagainya, mungkin orang tua bisa mengambil peran dalam hal ini.

Ikhsan mengatakan, “Jika memang akhirnya membuat anak tidak nyaman, maka boleh diubah pelan-pelan. Cara mengubahnya, buatlah anak nyaman dulu dengan sosok perempuan, dalam hal ini peran ibunya. Tapi, tetap ayah juga memberikan kenyamanan, biar seimbang.”

Orang tua bisa memberikan contoh kepada anak dan melibatkannya dalam kegiatan nurturing (mengasuh atau memberi kasih sayang). Orang tua juga bisa melibatkan dalam kegiatan-kegiatan feminim lainnya.

“Hal yang tidak kalah penting, orang tua tetap perlu mendukung apapun yang dilakukan anak selama positif. Beri apresiasi pada anak pada setiap perubahan yang dilakukan. Bila nantinya anak memang tidak bisa berubah, cobalah untuk menerima dan tetap support anak,” tutup Ikhsan.

Ingin tahu informasi seputar kepribadian anak lebih lengkap dari psikolog? Download aplikasi Klikdokter!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar