Sukses

Fenomena Artis Meninggal di Usia 27 Tahun akibat Depresi?

Benarkah kelompok usia produktif rentan alami depresi hingga bunuh diri?

Klikdokter.com, Jakarta Meninggalnya artis K-Pop Jonghyun dari kelompol musik SHINee baru-baru ini, menambah deretan artis dunia yang meninggal di usia 27 tahun. Bahkan sejarah mencatat nama puluhan artis besar lainnya yang juga meninggal di rentang usia tersebut.  Media internasional bahkan melabeli kelompok ini dengan sebutan 27 Club. Sebagian dari mereka meninggal karena penyakit, kecelakaan, overdosis, hingga bunuh diri akibat depresi. Ironis memang, hidup mereka justru berakhir di puncak karir. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Menurut dr. Dharmawan Ardi Purnama SpKJ, ketika ditemui dalam acara Program Pfizer EduCare, Rabu (20/12/2017) lalu, usia 27 tahun adalah usia dimana seseorang mencapai titik balik dalam hidupnya. Pada tahap ini, seseorang akan banyak merekfleksikan perjalanan hidupnya.

“Mungkin ada hubungannya dengan tahapan eksistensi hidup. Jadi ketika Anda hidup sampai pada titik tertentu, Anda mulai melakukan refleksi ada sesuatu dalam hidup,” paparnya, saat diwawancara KlikDokter.

Pada tahap tersebut, muncul sejumlah pertanyaan dalam diri. ‘Apa makna hidup saya?’ ‘Apa yang harus saya lakukan dalam hidup?’.

Selain itu, menurut dokter Dharmawan, kompleksitas kehidupan artis dapat membuat seseorang menjadi gamang dalam menjalani hidup. Tambahnya lagi, dunia artis kerap membuat seseorang tidak bisa membedakan siapa kawan dan siapa lawan.

Kegamangan generasi milenial

Tidak hanya itu, kegamangan juga dapat melanda generasi milenial yang sering terpapar media sosial. Menurutnya, media sosial bisa membuat seseorang seringkali tidak percaya diri.

“Banyak pasien-pasien saya yang kemudian gamang dengan media sosial, karena semua (yang ditampilan di media sosial) glamor. Hal-hal seperti ini buat anak milenial menjadi tantangan tersendiri yang menyebabkan mereka menghadapi hidup penuh dengan ketidakpastian,” tuturnya.

Ia menegaskan, jika menemukan teman atau anggota keluarga yang mulai menarik diri dari lingkungan, berbicara melantur dan sering membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan bunuh diri, segera bawa ke dokter. Semakin cepat orang tersebut diperiksakan, akan semakin cepat pula penanganannya.

Untuk mengetahui apakah ada seseorang mengalami depresi dan punya kecenderungan bunuh diri, dokter Dharmawan menyarankan agar terus membina hubungan baik dengan semua orang, baik dalam lingkungan keluarga besar, pekerjaan maupun masyarakat. Tujuannya untuk membantu mencegah terjadinya tindakan seseorang bunuh diri akibat depresi.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar