Sukses

Hidrops Fetalis Dapat Mengancam Nyawa Bayi, Hati-hati!

Pernah mendengar atau membaca tentang penyakit hidrops fetalis? Hati-hati, kondisi ini dapat mengancam nyawa bayi, lho! Simak penjelasannya di sini.

Pernah mendengar kondisi janin dengan hydrops fetalis? Istilah ini mungkin masih terasa asing bagi masyarakat kebanyakan. Namun perlu diketahui, kondisi ini merupakan gangguan kesehatan yang serius.

Hidrops fetalis adalah kondisi penumpukan cairan yang menyebabkan tubuh janin membengkak. 

Janin dengan hydrops fetalis dapat mengalami pembengkakan di beberapa bagian tubuh, seperti kulit, rongga perut, selaput paru, atau selaput jantung.

1 dari 4 halaman

Tipe Hydrops Fetalis Sesuai Penyebab

Hidrops fetalis disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi cairan di ruang jaringan antar sel dengan pembuangannya. 

Nantinya, kondisi ini bisa menyebabkan penumpukan cairan tidak normal di ruang-ruang tubuh tertentu. Terdapat dua tipe hidrops fetalis berdasarkan penyebabnya: 

1. Tipe non imun 

Tipe non imun adalah penyebab hidrops fetalis paling umum. Hidrop fetalis non imun terjadi ketika ada kondisi lain yang mengganggu kemampuan janin untuk mengatur keseimbangan cairan. Berikut beberapa kondisi yang harus diwaspadai:

  • Anemia berat dan thalassemia.
  • Perdarahan janin.
  • Kelainan jantung atau paru-paru 
  • Kelainan genetik seperti Sindrom Turner.
  • Infeksi virus dan bakteri, misalnya penyakit Chagas, parvovirus, cytomegalovirus, toksoplasmosis, sifilis, dan herpes. 
  • Tumor.

2. Tipe imun

Hidrops fetalis tipe imun terjadi ketika rhesus darah ibu dan janin tidak kompatibel (sama atau serasi). 

Akhirnya, sistem kekebalan ibu akan menyerang dan menghancurkan sel darah merah bayi. Ketidakcocokan rhesus yang parah dapat menyebabkan hydrops fetalis. 

Artikel Lainnya: Tanda Perdarahan Saat Hamil yang Membahayakan Janin

2 dari 4 halaman

Tanda Bayi Mengalami Hidrops Fetalis

Saat diperiksa menggunakan alat ultrasonografi (USG), organ janin dapat dilihat mengalami pembesaran di bagian jantung, limpa, dan hati. 

Bayi yang lahir dengan hidrops fetalis memiliki gejala: 

  • Kulit pucat. 
  • Memar.
  • Pembengkakan di daerah perut.
  • Pembesaran hati dan limpa.
  • Sulit bernapas.
  • Kulit kuning

Artikel Lainnya: Ibu Sesak Napas Saat Hamil, Ini Efeknya pada Janin

3 dari 4 halaman

Penanganan Hidrops Fetalis

Meski hidrops fetalis dapat dideteksi sejak di dalam kandungan, tetapi penanganannya masih menjadi tantangan bagi dunia medis. Sebab, angka kematian bayi dengan hidrop fetalis terbilang tinggi dan pilihan pengobatannya terbatas.

Apabila saat pemeriksaan kehamilan janin didiagnosis mengalami kondisi ini, ibu dapat segera dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas memadai. 

Penyebab hydrops fetalis sebisa mungkin juga harus ditemukan agar dokter dapat menangani kondisi bayi saat ia lahir nanti. 

Penanganan medis bisa dilakukan saat janin masih berada di dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan. Selain itu, tindakan medis juga bergantung pada penyebab serta hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap ibu dan janin.

Bayi dengan hidrops fetalis seringkali menderita gangguan perkembangan paru-paru dan membutuhkan transfusi darah. 

Artikel Lainnya: Hipertensi Saat Hamil, Apa Bahayanya bagi Ibu dan Janin?

Oleh karena itu, penanganan saat proses kelahiran harus disiapkan secara maksimal. Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan dokter setelah bayi lahir:

  • Mengeluarkan kelebihan cairan di paru-paru, jantung, atau perut menggunakan jarum.
  • Pemberian alat bantu pernapasan seperti ventilator.
  • Membantu mengeluarkan cairan dengan pemberian obat diuretik.
  • Untuk tipe hidrops fetalis imun dapat diberikan transfusi darah sesuai golongan darah bayi. 
  • Apabila hydrops fetalis disebabkan oleh penyakit infeksi bakteri akan diberikan antibiotik.

Hidrops fetalis dapat mengancam nyawa bayi. Maka itu, jika ibu hendak merencanakan atau sedang mengalami kehamilan, pastikan untuk melakukan pemeriksaan dan vaksinasi sesuai anjuran dokter.

Ingin tahu lebih lanjut tentang kondisi hydrop fetalis? Baca terus artikel kesehatan di aplikasi Klikdokter.

Untuk konsultasi langsung dengan dokter, silakan ajukan pertanyaan lewat fitur LiveChat.

(OVI/AYU)

1 Komentar