Sukses

Kiat Deteksi Dini Kanker Usus Besar

Apa saja yang bisa Anda lakukan untuk deteksi dini kanker usus besar? Ini caranya.

Klikdokter.com, Jakarta Pada Sabtu (4/11/2017) lalu di Jakarta, Klikdokter berkesempatan untuk menghadiri simposium internasional Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series 2017 bertajuk “Cancer Immunotherapy Has Arrived using Cells, Genes, and Viruses”. Di salah satu sesi, dipaparkan kiat untuk deteksi dini kanker usus besar di Indonesia.

Dalam acara tersebut, Prof. Dr. Roy Soetikno, MD, MS, MSM dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, Amerika Serikat, yang juga merupakan Adjunct Professor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan National University of Singapore, menyebutkan deteksi dini kanker usus besar dimulai sejak usia 50 tahun.

Beberapa faktor risiko yang dianggap penting yaitu jenis kelamin pria, riwayat keluarga dengan kanker usus besar (orang tua atau saudara kandung), dan riwayat merokok (saat ini masih merokok atau pernah merokok). Faktor risiko lain yang juga berperan yaitu riwayat polip usus, obesitas, pola makan tidak sehat (tinggi lemak, rendah serat dan protein), dan kurang aktivitas fisik.

Deteksi dini paling akurat dilakukan melalui tes yang bersifat invasif seperti kolonoskopi dan sigmoidoskopi. Tes yang dilakukan setiap 10 tahun sekali ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi struktur anatomi di dalam usus besar.

Jika ditemukan kelainan, seperti polip usus, maka bisa langsung dilakukan reseksi atau pengangkatan dalam satu waktu.

Berdasarkan kasus yang terjadi Indonesia, tes tersebut tidak memungkinkan dilakukan secara rutin karena membutuhkan biaya yang besar, peralatan medis khusus serta tenaga ahli yang terlatih.

Cara untuk deteksi dini yang lebih memungkinkan ialah tes non-invasif, seperti uji imunokimia feses (FIT test). Tes ini dilakukan untuk melihat darah samar di dalam feses, yang bisa menjadi tanda awal dari kanker.

FIT test tergolong murah dan tidak membutuhkan tenaga ahli khusus untuk melakukan dan menginterpretasi hasilnya.

Akan tetapi, tes ini perlu dilakukan setiap tahun karena tingkat akurasinya lebih rendah, serta tidak dapat mendeteksi adanya polip usus atau kelainan lainnya. Jika hasilnya abnormal, maka diperlukan kolonoskopi untuk evaluasi lebih lanjut.

“Adenoma atau tumor jinak usus, polip maupun kelainan lainnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berubah menjadi kanker usus besar. Kalau dilakukan screening dan penanganan dini, kanker yang sebenar-benarnya bisa dicegah”, tambah Roy.

Hasil penelitian di tahun 2012 yang dimuat dalam jurnal New England Journal of Medicine bahkan menyebutkan bahwa pengangkatan polip dapat menurunkan peluang kematian akibat kanker usus besar hingga 53%.

Saat ini, kanker usus besar menempati peringkat ketiga penyakit kanker dengan jumlah penderita terbanyak, baik di dunia maupun di Indonesia. Meski kanker jenis ini umumnya ditemukan pada usia 50-60 tahun, di Indonesia, sekitar 30% kasus dialami oleh kelompok usia produktif di bawah 40 tahun.

Salah satunya akibat rendahnya konsumsi serat, serta tingginya konsumsi makanan berlemak dan berpengawet. Melihat fakta ini, deteksi dini kanker usus besar tak perlu ditunda hingga usia 50 tahun.

Jika Anda mengalami perubahan pada pola buang air besar dan konsistensi feses, segeralah berkonsultasi dengan dokter, apakah Anda memerlukan deteksi dini kanker usus besar. Selain itu, upayakan gaya hidup sehat dengan memperhatikan apa yang Anda makan, rutin berolahraga dan berhenti merokok.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar