Sukses

Waspada, Anak Juga Bisa Terkena Demensia

Wahai orangtua, waspadalah! Anak juga bisa mengalami demensia.

Klikdokter.com, Jakarta Demensia kerap dihubungkan dengan orang lanjut usia (lansia). Namun ternyata, kondisi ini juga dapat dialami oleh anak-anak. Secara fisik, anak bisa saja terlihat sehat, akan tetapi pikiran dan kemampuan kognitifnya tidak berfungsi dengan normal.

Demensia merupakan sekumpulan gejala yang menunjukkan penurunan kemampuan kognitif secara bertahap. Dalam kondisi tersebut, seseorang mengalami gangguan pada daya ingat, kemampuan berpikir, berlogika, dan merencanakan sesuatu. Keadaan ini pun semakin lama semakin memburuk dengan berjalannya waktu. Pada akhirnya, seseorang menjadi tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Kasus demensia pada anak tergolong sangat jarang, dan biasanya terkait kelainan bawaan (genetik) yang memengaruhi metabolisme otak. Karena bersifat bawaan, kondisi ini bisa mulai muncul sejak lahir.

Penyebab demensia pada anak sangat beragam. Berikut beberapa penyebab yang paling sering ditemukan:

  1. Infeksi otak atau ensefalitis
  2. Keracunan timbal
  3. Tumor atau cedera otak
  4. Hipotiroidisme kongenital (rendahnya kadar hormon tiroid sejak lahir)
  5. Penyakit Batten
  6. Penyakit Niemann-Pick
  7. Penyakit badan Lafora
  8. Neuronal Ceroid Lipofuscinosis (NCL).

Gejala demensia bervariasi pada tiap anak, tergantung penyebabnya. Akan tetapi, secara umum anak yang mengalami demensia akan menunjukkan gejala-gejala berikut ini:

  • Kehilangan daya ingat seperti sering lupa, serta berulang kali menceritakan atau menanyakan hal yang sama.
  • Mengalami disorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang.
  • Mengalami gangguan berbahasa seperti sulit berbicara, menggabungkan kata-kata, atau memahami pembicaraan. Kelainan bisa terjadi baik dalam bahasa verbal maupun non-verbal.
  • Kehilangan keterampilan intelektual seperti kemampuan untuk memecahkan masalah. Gangguan ini semakin lama semakin berat, sehingga anak tidak mampu mempelajari hal-hal baru.
  • Gangguan perilaku seperti berhalusinasi atau memiliki keyakinan tertentu, sering menangis, cemas atau takut tanpa alasan yang jelas, perubahan suasana hati, tidak bisa mengontrol emosi, kebersihan pribadi buruk, dan ceroboh.

Perlu diketahui, kehilangan daya ingat tanpa disertai gangguan lain tidak serta-merta menjadi pertanda bahwa anak mengalami demensia. Untuk bisa dikatakan demensia, paling sedikit ada dua gangguan fungsi kognitif yang jelas, tanpa disertai hilangnya kesadaran.

Jika betul anak mengalami demensia, pengobatannya akan tergantung pada akar penyebabnya. Hingga kini, kasus demensia pada anak yang bersifat progresif—memburuk dengan cepat—belum bisa disembuhkan, dan sulit diperlambat perburukannya. Akan tetapi, beberapa jenis terapi dapat mengurangi gejala demensia, sehingga kualitas hidup anak dapat meningkat.

Meski jarang, kasus demensia pada anak perlu diwaspadai. Orangtua diharapkan mampu mengenali gejalanya sedini mungkin, agar anak memperoleh perawatan dan dukungan yang tepat.

(NB)

1 Komentar