Sukses

Dampak Metode Baby Led Weaning pada Bayi

Tren baby led weaning sedang marak di Indonesia. Bagaimana dampaknya bagi pertumbuhan bayi?

Klikdokter.com, Jakarta Fenonema baby led weaning (BLW) masih ramai dibicarakan di kalangan ibu-ibu. Salah satu selebritas Indonesia yang dikenal menerapkan metode ini adalah penyanyi Andien Aisyah. Meski tak sedikit para orang tua yang menentangnya.  

BLW adalah pemberian MPASI secara langsung tanpa melalui tahapan tekstur makanan. BLW awalnya diperkenalkan oleh Gill Rapley dan Tracey Murkett sebagai upaya pencegahan obesitas pada bayi. Karena metode ini menerapkan otonomi sepenuhnya kepada bayi untuk menentukan apa yang mau mereka makan.

BLW dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pertumbuhan bayi. Berikut penjelasannya:

Kelebihan metode BLW

  • Bayi dapat mengenal berbagai macam variasi makanan sejak dini.
  • Bayi menjadi lebih mandiri karena terbiasa menentukan makanan yang ingin dikonsumsinya.
  • Bayi menjadi lebih dekat dengan keluarga karena waktu makan dapat bersama dengan keluarga lainnya dan memiliki menu makanan yang hampir sama.
  • Perkembangan motorik bayi menjadi lebih cepat terstimulasi karena saat makan, koordinasi mata dan tangan dapat bekerja lebih baik.

Kekurangan metode BLW

  • Asupan nutrisi bayi tidak mencukupi. Jumlah nutrisi yang dikonsumsi bayi tidak diketahui secara pasti, karena merekalah yang menentukan sendiri jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh.
  • Risiko tersedak. Pada metode ini, bayi memasukkan sendiri makanannya ke dalam mulut sehingga risiko tersedak bisa saja terjadi.
  • Kekurangan asupan zat besi. Bayi BLW berpotensi memiliki kadar besi yang rendah karena asupan makannya sesuai kemauan mereka sendiri tanpa dikontrol orang tua. Saat usia 6 bulan, kadar besi di dalam tubuh bayi akan menurun sehingga diperlukan asupan besi dari MPASI.

Di Indonesia sendiri, metode baby led weaning (BLW) tidak direkomendasikan. Sampai saat ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), potensi kematian bayi dan balita di Indonesia sangat tinggi ditambah menjulangnya angka anak yang mengalami defisiensi zat besi.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar