Sukses

Benarkah Orang Introver Rentan Depresi?

Memiliki kepribadian tertutup alias introver sering dikaitkan dengan depresi. Benarkah ini?

Klikdokter.com, Jakarta Seseorang dengan kepribadian tertutup alias introver sering dikaitkan dengan kondisi kejiwaan, seperti depresi. Sebab seseorang dengan kepribadian tersebut sering terlihat menyendiri dan tidak banyak melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar. Namun benarkah seorang introver sering mengalami depresi?

Tidak dimungkiri, karena ‘hobi’ menyendiri, introver memang sering dituding sebagai sikap seseorang yang depresi. Padahal, introver dan depresi adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Mengutip psychologytoday, sesungguhnya perilaku yang ditunjukkan oleh orang introver dan penderita depresi tidaklah sama. Hanya saja, orang di sekitar orang introver kurang memahami dan sulit membedakan antar keduanya.

Depresi, pada umumnya, menunjukkan tanda-tanda seperti tak bergairah pada hal yang sebelumnya disukai, selalu merasa sedih dan putus asa, sulit tidur atau bahkan tidur terlalu lama. Selain itu, masalah pernapasan, hilang nafsu makan, selalu berpikir negatif, gelisah dan sulit berkonsentrasi juga menjadi tanda seseorang yang mengalami depresi. 

Sedangkan, sebagian besar kondisi tersebut tidak ditunjukkan oleh seorang introver. Ini karena seorang introver hanya lebih senang untuk menghindari situasi sosial yang tidak cocok dengan minatnya, menghindari keramaian, dan lebih menikmati untuk menghabiskan waktu sendiri.

Berbeda dengan orang depresi yang menyendiri dengan pikiran-pikiran negatif, seorang introver justru menyendiri untuk berpikir secara mendalam dan menganalisis sesuatu. Di situlah salah satu perbedaan antara introver dan depresi.

Introver vs Depresi

Kendati introver dan depresi adalah hal yang berbeda, bukan berarti mereka tidak berhubungan. Nyatanya, seorang introver tidak serta-merta menjadi orang yang kebal terhadap rasa sedih, tertekan, atau bahkan depresi.

Beberapa penelitian menunjukkan, seorang introver memiliki peluang cukup tinggi untuk mengalami depresi dan rasa cemas.

Menurut seorang ahli dari Pusat Psikologi, Robert McPeek, hal itu dapat terjadi karena fakta bahwa introver adalah orang yang lebih kritis dan memiliki pemikiran mendalam. Dan kebiasaan berpikir seperti inilah yang membuka peluang seorang introver untuk mengalami depresi. Apalagi jika ditambah kenyataan bahwa seorang introver cenderung tidak punya teman yang cukup berarti untuk berbagi.

Namun, meski memiliki kemungkinan yang cukup tinggi, depresi tidak hanya dapat dialami oleh orang dengan kepribadian introver saja. Ini karena depresi dapat dialami oleh siapa saja, termasuk orang dengan kepribadian ekstrover maupun ambiver.

Sekarang Anda sudah tahu faktanya, bukan? Mulai saat ini, sebaiknya Anda tidak ‘melabeli’ seorang introver sebagai orang yang depresi. Karena pada dasarnya, depresi merupakan suatu kondisi kejiwaan yang dapat dialami oleh orang dengan jenis kepribadian apa pun.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar