Sukses

10 Kiat Mengajari Anak untuk Berbagi

Bagaimana membentuk anak menjadi pribadi yang mau berbagi?

Klikdokter.com, Jakarta Tak jarang anak-anak berebut mainan dengan temannya, yang kemudian menimbulkan pertengkaran atau tangisan. Anak, khususnya batita, memang cenderung sulit untuk berbagi karena itu merupakan bagian normal dari proses perkembangannya. Kemampuan anak untuk berbagi tidak didapat begitu saja dan ini perlu diajarkan. Bagaimana caranya?

  • Ketahui bahwa rasa egois muncul sebelum anak bisa berbagi

Sadarkah Anda, anak yang berusia satu tahun sulit berbagi ibunya, dan anak yang sudah mencapai usia dua tahun kerap sulit untuk berbagi mainan atau benda-benda favoritnya?

Fase ini perlu dilalui seorang anak agar ia tumbuh menjadi pribadi dengan emosi yang sehat. Anak membentuk ikatan pada benda-benda dan orang-orang untuk membangun identitasnya. Ucapan-ucapan seperti “Aku bisa!” dan “Ini punyaku!” pun sering mewarnai hari-hari seorang batita.

  • Tahu kapan dan bagaimana anak belajar berbagi

Kemampuan berbagi yang sesungguhnya akan melibatkan empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan melihat dari perspektif mereka.

Anak-anak di bawah usia enam tahun masih sulit untuk berempati dan karenanya sulit untuk berbagi. Sebelum usia tersebut, mereka berbagi karena Anda mendorong dan mengondisikannya. Dengan bimbingan dan kesabaran, anak dua tahun bisa menjadi anak tiga atau empat tahun yang mau berbagi.

  • Mulailah sedini mungkin

Sejak si kecil mulai bisa memegang benda-benda, Anda dapat mengajar konsep berbagi dengan memindah-mindahkan benda tersebut sambil berkata “Giliran mama, giliran kamu.” Belajar untuk mengetahui kapan gilirannya merupakan langkah pertama dalam berbagi.

  • Berikan contoh

Anak belajar dan meniru apa yang Anda lakukan. Jika Anda menunjukkan sikap berbagi, anak pun akan mengikutinya. Anda bisa memulai dengan hal-hal sederhana dan menyenangkan, seperti “Mau es krim mama? Sini, yuk duduk sama-sama.”

1 dari 3 halaman

Tips Lainnya

  • Gunakan alarm saat bermain bersama teman sebayanya

Ketika alarm berbunyi, anak harus memberikan mainan kepada temannya. Ia akan mendapatkannya lagi ketika alarm kembali berbunyi dan begitu seterusnya. Melalui cara ini, anak akan belajar bahwa memberikan sesuatu tidak berarti untuk selamanya.

Pastikan bahwa sesama orang tua mengetahui dan menyetujui cara ini. Jika metode ini tidak berhasil, singkirkan atau simpan mainan di tempat yang tidak bisa dijangkau anak. Jelaskan bahwa mainan tersebut akan tetap berada di sana sampai mereka belajar untuk berbagi.

  • Latih konsep berbagi melalui permainan

Permainan merupakan cara efektif untuk mengajar konsep berbagi. Melalui permainan, anak belajar konsep adil, jujur, murah hati, dan ketaatan pada aturan dalam suasana yang menyenangkan.

Anak juga belajar konsep negatif seperti egoisme, cemburu, berbohong, atau curang, serta bagaimana hal-hal itu memengaruhi dirinya dan orang lain. Permainan membuat anak lebih ingat dan fokus dengan apa yang dipelajari dibandingkan jika diceramahi.

  • Tahu kapan harus terlibat

Batita memang tidak diharapkan bisa cepat menguasai kemampuan untuk berbagi. Akan tetapi, orang tua dapat menggunakan setiap kesempatan untuk mendorong anak mau berbagi dan bergiliran. Ajarkan anak cara menyampaikan keinginannya kepada orang lain, seperti “Jika Romi sudah selesai main mobil-mobilan, kamu bisa meminjamnya. Tanyakan padanya kapan dia selesai bermain.” atau “Tunggu, dia akan meminjamkan mainannya kalau sudah selesai.”

Jika kemudian anak berebut mainan, tahan diri Anda untuk tidak segera ikut campur. Berikan mereka waktu dan ruang untuk menyelesaikannya sendiri. Jika situasi semakin memburuk, barulah ikut campur. Pembelajaran secara mandiri—dengan atau tanpa bantuan orang tua—akan lebih diingat oleh anak dan bertahan lama.

Amati pula bagaimana posisi anak Anda saat bermain di dalam suatu kelompok. Apakah ia anak yang cenderung mengambil milik orang lain atau malah yang menjadi korban? Jika ia suka mengambil milik orang lain, ia akan belajar bahwa anak lain tidak akan mau bermain bersamanya. Jika ia menjadi korban, ia perlu belajar berkata tidak.

2 dari 3 halaman

Peran Orang Tua

  • Gunakan pujian yang jelas ketika anak menunjukkan perilaku berbagi

Daripada sekadar mengucapkan “Anak baik” atau “Anak pintar”, katakan “Lihat tidak kalau Mario tersenyum sewaktu kamu memberikan mobil itu kepadanya? Ia senang sekali.” Penjelasan di dalam pujian membuat anak tahu secara konkret apa yang dilakukan dan efeknya terhadap orang lain.

  • Hormati minat dan rasa memiliki anak saat Anda mengajarnya berbagi

Bagi Anda, mainan hanyalah mainan. Bagi anak, mainan adalah barang yang amat berharga. Hormati hal ini dan tunjukkan sikap Anda dengan menjaga mainan tersebut atau mengambilnya ketika anak lain mencoba merebutnya.

Bantu anak untuk memilih mainan mana yang akan dibagi dengan temannya dan mana yang ingin disimpan untuk dirinya sendiri sebelum bermain. Jelaskan pula bahwa ada benda-benda yang bisa ia miliki sendiri dan ada yang harus dibagi dengan orang lain.

  • Beri anak kesempatan untuk berbagi

Untuk mendorong anak berbagi, Anda dapat meminta, “Nak, sebagian kuemu berikan ke Mario ya.” Jika anak lebih dari satu, Anda dapat menggunakan anak yang lebih besar sebagai model bagi anak yang lebih kecil.

Anak tidak lahir dengan kemampuan untuk berbagi, oleh sebab itu perlu diajar dan dilatih. Anak yang tahu bagaimana harus berbagi akan belajar berbagai keterampilan sosial penting, seperti bagaimana menjalin pertemanan, berempati, bersedia menunggu, bersabar, dan bernegosiasi. Memang, emosi Anda akan sangat diuji saat mengajar anak untuk berbagi.Tetapi percayalah, pengalaman ini sangat berharga bagi si kecil dan manfaatnya akan dirasakan seumur hidup.

Mendidik anak untuk mau berbagi membutuhkan kesabaran dan waktu. Oleh karena itu, jangan khawatir bila kiat-kiat tersebut belum juga berhasil. Ulangi dan latihlah anak terus-menerus.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar