Sukses

7 Mitos tentang Skizofrenia yang Anda Perlu Tahu

Tak banyak orang menaruh perhatian terhadap penderita skizofrenia, lantaran masih percaya akan beberapa mitos berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Skizofrenia adalah salah satu gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa setengah dari orang-orang yang mengalami skizofrenia tidak mendapatkan perawatan apapun.

Padahal, skizofrenia merupakan kondisi kronis yang memerlukan perawatan seumur hidup. Tak banyak pula yang menaruh perhatian terhadap penderita gangguan mental ini, lantaran masih percaya akan beberapa mitos tentang skizofrenia seperti di bawah ini.

1. Skizofrenia sangat jarang terjadi

Faktanya, skizofrenia memengaruhi sekitar satu dari setiap 100 orang. Skizofrenia lebih sering terjadi pada orang dewasa, namun bisa memengaruhi orang pada usia berapapun. Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan skizofrenia, namun hal ini diperkirakan sering terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Ada faktor stres seperti berkabung, faktor sosial, genetika, atau proses kimiawi di otak.

2. Skizofrenia hanya tentang gangguan mendengar

Banyak orang mengasosiasikan skizofrenia dengan masalah pendengaran. Padahal, halusinasi pendengaran adalah salah satu gejala yang paling umum. Sebenarnya ada delapan jenis skizofrenia dengan karakteristik yang berbeda. Gejala yang umumnya terkait dengan skizofrenia termasuk halusinasi, delusi, pemikiran yang tidak terorganisir – di mana orang dapat berbicara dengan kecepatan tinggi dan apa yang dikatakan mungkin tidak masuk akal bagi orang lain. Beberapa gejala skizofrenia yang kurang dikenal termasuk kehilangan minat untuk bersosialisasi, perubahan pola tidur, atau kurangnya motivasi.

3. Orang dengan skizofrenia memiliki kepribadian yang terpisah

Ini adalah salah satu kesalahpahaman paling umum tentang skizofrenia. Salah kaprah akan hal ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa kata skizofrenia berasal bahasa Yunani: split dan mind.

Padahal, penderita skizofrenia dapat mengalami gejala yang memengaruhi proses berpikir dan persepsi mereka terhadap dunia di sekitar mereka, seperti delusi dan halusinasi. Jadi, penderita skizofrenia tidak memiliki dua kepribadian yang terpisah.

4. Orang dengan skizofrenia tidak dapat pulih

Meskipun tidak ada obatnya, sekitar satu dari lima orang penderita skizofrenia akan mengalami peningkatan perbaikan gangguan mental. Sementara sebagian penderita lainnya akan terus menjalani pemulihan seumur hidup. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesembuhan pada setiap individu berbeda-beda, bisa tidak pulih atau justru membaik.

5. Orang dengan skizofrenia berbahaya

Kekerasan bukanlah gejala skizofrenia. Sayangnya, media turut andil memainkan peran besar dalam melanggengkan kesalahpahaman ini. Orang dengan skizofrenia sebenarnya jauh lebih mungkin menjadi korban kekerasan dan kejahatan, bukan pelaku.

6. Skizofrenia hanya memengaruhi pikiran

Faktanya, skizofrenia juga memiliki dampak terhadap kesehatan fisik seseorang. Orang dengan skizofrenia memiliki harapan hidup 20 tahun lebih pendek daripada orang normal pada umumnya. Tentunya, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti gaya hidup, kurang pemeriksaan kesehatan fisik (terutama penderita yang menderita penyakit tertentu), dan efek samping obat antipsikotik. Penderita skizofrenia bisa mengalami kenaikan berat badan yang ekstrem, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko terkena jantung dan diabetes.

7. Orang dengan skizofrenia perlu dimonitor setiap saat

Orang dengan skizofrenia mungkin memerlukan bentuk dukungan yang berbeda, entah itu pengobatan, terapi bicara, atau fasilitas pendukung. Ketika mendapatkan akses perawatan dan dukungan yang mereka butuhkan, penderita skizofrenia sangat mungkin untuk memiliki kualitas hidup yang baik.

Demikian tadi beberapa mitos tentang skizofrenia. Hingga kini, para ahli belum mengetahui secara pasti mengenai apa yang menjadi penyebab skizofrenia. Akan tetapi, penanganan dini dapat membantu mengontrol gejala sebelum kondisinya semakin memburuk. Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh psikiater.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar