Sukses

Kenali Lebih Jauh Soal Body Dysmorphic Disorder

Hati-hati, merasa tidak puas atas penampilan bisa jadi tanda gangguan mental body dysmorphic disorder.

Klikdokter.com, Jakarta Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah sebuah gangguan mental yang menyebabkan seseorang terobsesi pada kekurangan tubuhnya. Padahal, kekurangan tersebut bisa saja tidak berdampak banyak pada penampilan, bahkan tidak disadari oleh orang di sekitar.

Jika Anda pernah mendengar keluhan ‘Duh, badan saya besar sekali’ atau ‘Ini mata kenapa sipit banget ya’, bisa jadi itu adalah gejala awal BDD. Apalagi jika hal itu diucapkan oleh orang yang menurut Anda, dan menurut orang lain, hampir tidak memiliki kekurangan. Lalu, apa itu body dysmorphic disorder?

Mengutip mayoclinic, BDD adalah satu gangguan mental yang menyebabkan penderitanya tidak bisa berhenti memikirkan satu bagian tubuh yang dianggap kurang sempurna. Bahkan pengidap BDD berpotensi menjadi seseorang yang minder dan enggan untuk melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar. Hal itu terjadi karena dia merasa rendah diri dan takut tidak diterima oleh pergaulan.

BDD biasanya akan diikuti dengan sejumlah gangguan lainnya, seperti gangguan makan dan gangguan obsesif kompulsif. Sebab saat seseorang merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, bukan tidak mungkin dia akan menerapkan pola makan sembarangan. Seperti sering melewatkan makan hanya untuk mendapatkan tubuh seperti yang diimpikan.

Selain itu, orang dengan BDD juga akan terbiasa melabeli dirinya dengan kata “jelek”. Sehingga dia akan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kekurangan yang sedikit, hingga membuatnya kurang mensyukuri kelebihan diri lainnya.

Gejala seseorang terkena BDD

Baik pada wanita maupun pria, risiko BDD sama besarnya. Namun umumnya gangguan ini akan mulai dirasakan pada masa remaja dan awal masa dewasa. Gejala awal yang ditunjukkan adalah adanya rasa tidak puas terhadap kondisi tubuh.

Selain itu, orang dengan BDD biasanya akan menanyakan hal-hal yang sama secara berulang kali. Seperti apakah kulitnya sudah cukup putih, atau apakah kakinya sudah jenjang? Hal itu semata hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain bahwa dirinya “sempurna”. Namun pada dasarnya, jawaban tersebut sama sekali tak memuaskannya. Dan sering kali mereka akan membandingkan penampilannya dengan orang lain.

Pengidap BDD juga sering melakukan tindakan berulang yang ditujukan untuk menyembunyikan kekurangannya. Misalnya: berkali-kali menggaruk tangan, menyisir rambut, menatap cermin lekat-lekat, atau malah menghindari cermin sama sekali.

Tak jarang, terlalu asyik memikirkan penampilan, membuat seorang BDD akan menjauh dari pergaulannya. Kemudian mulai mencari perlarian dengan perawatan-perawatan tertentu, bahkan operasi plastik untuk memperbaiki penampilan yang sama sekali tidak buruk tersebut.

Umumnya gejala yang ditunjukkan tidak terlalu mencolok, dan Anda mungkin menganggapnya sebagai candaan belaka. Namun jika perasaan untuk “memperbaiki” tubuh semakin kuat, segeralah lakukan pemeriksaan untuk menghentikannya.

Sebab jika dibiarkan, kebiasaan ini akan berdampak pada kondisi mental Anda. Pasalnya Anda mungkin akan merasa depresi dan tak lagi bersemangat untuk hidup. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menemui psikolog atau psikiater jika Anda merasa memiliki gangguan mental body dysmorphic disorder.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar