Sukses

Munchausen Syndrome, Cari Perhatian dengan Pura-pura Sakit

Pernahkah Anda pura-pura sakit? Hati-hati, bisa jadi itu pertanda dari Munchausen Syndrome.

 

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang di dunia ingin selalu dikaruniai kesehatan. Tapi pada kondisi tertentu, tak jarang seseorang pura-pura sakit agar mendapatkan perhatian. Anda pernah melakukannya? Awas, mungkin Anda mengidap Munchausen Syndrome!

Munchausen syndrome merupakan istilah penyakit mental, dimana seseorang pura-pura sakit atau sengaja menyakiti diri sendiri demi mendapatkan perhatian maupun simpati dari orang lain.

Seseorang dengan Munchausen Syndrome seringkali memberikan tanda dan gejala sebagai berikut:

  • Berpura-pura sedang mengalami gejala penyakit tertentu. Tak jarang, mereka yang mengalami Munchausen Syndrome tega untuk menyakiti diri sendiri atau memanipulasi hasil pemeriksaan medis, agar orang lain percaya bahwa ia benar-benar sakit.
  • Memberikan riwayat medis yang tidak konsisten atau berbeda-beda. Terkadang didramatisir.
  • Terjadi ‘kekambuhan’ gejala secara berulang.
  • Gejala yang tidak jelas, dan justru bertambah ‘parah’ setelah diberikan terapi.
  • Memiliki pengetahuan yang ‘luas’ seputar terminologi atau kata-kata kedokteran, dan dapat menjelaskan penyakit secara detail.
  • Mempunyai keinginan kuat untuk menjalani prosedur medis atau tindakan lainnya.
  • Memiliki masalah identitas dan kepercayaan diri.
  • Timbul gejala baru, padahal pemeriksaan menunjukkan hasil yang negatif.
  • Gejala hanya timbul ketika pasien diperiksa.
  • Memiliki riwayat mencari ‘kesembuhan’ di sejumlah rumah sakit, klinik, atau tempat praktek dokter
  • Pasien sering menolak dokter untuk menemui keluarga, teman, atau kerabatnya.

Munchausen Syndrome merupakan kondisi yang kompleks dan sulit dipahami. Orang yang mengalaminya kerap menolak untuk mendapatkan terapi secara psikologis.

Berdasarkan beberapa riset dan studi kasus, faktor yang diduga menjadi penyebab Munchausen Syndrome adalah:

  • Trauma psikis atau riwayat penyakit saat anak-anak.

Pasien sering mencoba mencari perhatian, karena sering diabaikan oleh orangtua atau memiliki trauma masa kecil.

Anak yang banyak menjalani pemeriksaan atau penanganan medis semasa kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami Munchausen Syndrome saat dewasa.

  • Gangguan kepribadian

Beberapa gangguan kepribadian yang sering dikaitkan dengan Munchausen Syndrome, misalnya gangguan kepribadian anti-sosial atau gangguan kepribadian narsisistik.

  • Kekecewaan terhadap figur tertentu atau petugas medis

Seseorang yang kecewa, memiliki dendam terhadap orang lain atau petugas medis yang pernah menangani kondisinya cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami Munchausen Syndrome.

Diagnosis Munchausen Syndrome

Diagnosis Munchausen Syndrome tergolong sulit untuk ditegakkan. Sebab seseorang dengan kondisi ini terlihat sangat meyakinkan dan memiliki kemampuan memanipulasi tingkat tinggi. Mereka juga memiliki kemampuan dalam mengeksploitasi dokter.

Sebenarnya, Munchausen Syndrome merupakan gangguan mental murni dan memerlukan penanganan oleh psikiater. Penyebabnya pun perlu digali lebih dalam agar tidak terjadi berulang kali.

Demikianlah sedikit gambaran tentang Munchausen Syndrome. Jika Anda menemukan seseorang dengan kondisi ini, jangan ragu untuk mengajaknya ke psikiater agar ia bisa segera bebas dari kondisinya tersebut.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar