Sukses

Kenali Gejala Psikopat dalam Diri Anak sejak Dini

Benarkah gejala psikopat bisa terjadi pada anak? Bagaimana cara mengenalinya?

Klikdokter.com, Jakarta Banyak orang menganggap bahwa gejala psikopat hanya dapat terjadi pada orang dewasa. Namun bagaimana jika ternyata seorang anak - bahkan yang masih balita – menunjukkan gejala psikopat? Mungkinkah hal itu terjadi?

Mengutip situs Independent, sifat tak berperasaan dan tanpa emosi, yang dikenal sebagai sifat callous and unemotional (CU) merupakan ciri psikopat. Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Abnormal Child Psychology, sifat tersebut ternyata juga dapat dideteksi pada bayi dan balita.

Gejala psikopat pada anak

Penelitian itu menyebutkan, sifat psikopat pada anak-anak dapat mulai diamati saat memasuki usia tiga tahun. Semakin cepat orang tua menyadari sifat tersebut, semakin besar kemungkinan untuk menyelamatkan anak. Pasalnya jika sifat tersebut dibiarkan berkembang, anak mungkin akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak berperasaan dan menjadi antisosial.

Penelitian tersebut dilakukan dengan bantuan orang-orang yang berada di sekitar anak, seperti orang tua dan guru. Para peneliti menggunakan sejumlah metode dan pertanyaan untuk mengamati sekitar 200 anak berusia 3-6 tahun.

Hasilnya, penelitian menunjukkan ada sekitar sepuluh persen anak yang menunjukkan tanda psikopat. Anak-anak tersebut menunjukkan gejala seperti kurang rasa empati, tak memiliki belas kasih, dan tidak menunjukkan emosi atau rasa penyesalan.

Kembangkan keterampilan emosional

Psikolog dari Universitas New South Wales, Australia, Eva Kimonis, mengatakan bahwa tes demikian sudah digunakan untuk mengecek gejala psikopat pada remaja dan orang dewasa. Namun peneliti telah menambahkan metode baru dan merancangnya sedemikian rupa, hingga cukup valid untuk digunakan pada objek yang berusia lebih muda.

Eva yang juga pemimpin tim peneliti tersebut mengatakan, anak-anak prasekolah yang menunjukkan gangguan perkembangan empati, mengalami masalah dalam memproses emosi. Hal itu mirip dengan yang ditemukan peneliti pada populasi remaja dan orang dewasa yang lebih tua dengan masalah yang sama.

Menurut Eva, hasil dari penelitian ini bukanlah ditujukan untuk mengobati anak yang mengalami psikopat. Namun lebih kepada merangsang anak dan orang di sekitarnya untuk mengembangkan keterampilan emosional, sehingga anak akan meninggalkan gejala psikopat seiring berjalannya waktu.

Peran penting orangtua

Pada akhirnya, peneliti melatih orang tua untuk bersikap hangat dan penuh kasih kepada anak-anak guna melihat apakah sifat tersebut bisa mengurangi sifat tak berperasaan (psikopat) dari waktu ke waktu.

Penelitian lain bahkan mengamati anak dengan usia yang jauh lebih muda. Para peneliti mencoba mengamati perkembangan anak melalui perilaku dan minatnya.

Dalam penelitian ini, para orang tua diberi pertanyaan, apakah anak merasa khawatir dan peduli tentang perasaan orang lain. Atau apakah anak terlalu egois, kejam terhadap hewan, dan merasa bersalah ketika mereka melakukan hal yang salah, serta pertanyaan lain.

Hasilnya, anak yang menunjukkan kecenderungan untuk berinteraksi dengan objek selain manusia lebih mungkin menunjukkan ciri psikopat di usia dini. Hal ini berpotensi menimbulkan perilaku antisosial di masa depan.

Nyatanya, para peneliti beranggapan bahwa kasih sayang dan kehangatan dari orang tua dapat mencegah anak menjadi seorang psikopat. Untuk itu, orang tua perlu lebih sering berinteraksi dan mendengarkan setiap keluh kesah anak.

Jika anak menunjukkan gejala kelainan perilaku yang merujuk ke ciri-ciri psikopat, cobalah untuk lebih dulu mengajarinya hal yang benar. Namun jika gejala terlihat semakin tak terkendali, Anda perlu segera menemui ahli untuk membicarakan masalah tersebut.

[BA/ RVS]

1 Komentar