Sukses

Pengungsi Gunung Agung di Bali Mulai Terserang Penyakit

Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali membuat para pengunggsi mulai terserang penyakit.

Klikdokter.com, Jakarta Aktivitas vulkanik dan guncangan gunung Agung di Bali semakin meningkat. Situasi ini menyebabkan ribuan warga sekitar gunung masih terisolasi di kamp pengungsian. Kini, ribuan pengungsi yang berjejal itu mulai diserang penyakit, terutama masalah pernapasan.

Dikutip dari Liputan6.com, hingga Selasa (26/9/2017), di salah satu posko pengungsi di GOR Sewaca Pura, Klungkung, Bali, terdapat ribuan warga yang telah melapor sakit. Sebagian besar dari mereka mengeluhkan masalah infeksi saluran pernapasan.Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, setelah mengunjungi posko pengungsian tersebut menyebutkan bahwa pengungsi yang sakit mencapai lima ribu orang.

Menurut Nila, ada banyak jenis penyakit yang dikeluhkan para pengungsi. "Setiap hari ada sekitar 5.000 pengungsi yang daftar di posko-posko kesehatan. Keluhan mereka macam-macam," ucap Menkes di GOR Swecapura, Klungkung, seperti dikutip dari Liputan6.com. Tak berhenti di jumlah keluhan yang tinggi, beberapa pengungsi yang sakit bahkan terpaksa dilarikan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai. Namun, menurut Nila, posko kesehatan adalah garda pertama yang paling mudah diakses pengungsi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Berdasarkan data posko siaga Gunung Agung, sejauh ini terdapat 5.321 pengungsi yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan umum. Di antaranya, 86 bayi, 355 balita, 43 ibu hamil, 779 lanjut usia atau lansia.

Sedangkan sisanya adalah pasien anak-anak, remaja, dan dewasa.Batuk dan pilek menyerang anak pengungsi Gunung AgungPada anak, penyakit yang paling banyak dikeluhkan adalah batuk dan pilek. Penyebabnya adalah perubahan cuaca dan lingkungan secara drastis.

Salah satu dokter relawan yang ditugaskan di posko, Arini, mengatakan bahwa kondisi di pengungsian memang rentan membuat tubuh anak-anak menjadi lemah dan mudah diserang penyakit. Sejauh ini, Menkes menyebut bahwa tenaga medis dan stok obat-obatan yang tersedia bagi pengungsi Gunung Agung sudah cukup memadai.

Sehingga tak ada alasan bagi pengungsi untuk tidak memeriksakan kondisi kesehatannya. Bila dibutuhkan, kata Nila, pengungsi yang sakit pasti akan dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu, jumlah pengungsi Gunung Agung masih terus meningkat.

Data yang tercatat BNPB hingga Rabu (27/9), jumlah pengungsi yang sebelumnya 75.673 jiwa bertambah menjadi 96.086 jiwa. Pengungsi tersebar di 430 titik pengungsian, di 9 lokasi di Bali. Jumlah pengungsi tersebut lebih besar daripada penduduk yang tinggal dalam radius berbahaya, yang direkomendasikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk dikosongkan.

Radius area ini adalah 9 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung, ditambah 12 kilometer di sektor utara-timur laut, dan 12 kilometer di sektor tenggara-selatan-barat daya.

Meski hingga kini Gunung Agung masih belum meletus, namun statusnya telah dinaikkan menjadi Awas dan mulai menunjukkan fase kritis. Para pengungsi diminta untuk tetap waspada dan memerhatikan kondisi kesehatan masing-masing, agar kondisi tidak semakin buruk.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar