Sukses

Turunkan Obesitas, Perlukah Melakukan Detoks Gula?

Detoks gula dianggap solusi jitu untuk menurunkan angka obesitas. Benarkah hal itu?

Klikdokter.com, Jakarta Bagi yang sudah terbiasa dalam 1 hari tidak mengonsumsi makanan atau minuman manis pasti rasanya ada yang janggal di lidah. Padahal gula berlebih bisa menyebabkan obesitas dan berbagai penyakit. Sebab itu, detoks gula dianggap cara yang ampuh untuk mengatasinya.

Gula merupakan bentuk karbohidrat dan memiliki beberapa bentuk molekul antara lain glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, maltosa dan sukralosa. Makanan atau minuman yang mengandung gula, setelah masuk ke dalam tubuh akan mengalami pemecahan untuk kemudian digunakan sebagai sumber energi.

Konsumsi gula yang berlebih dapat menyebabkan obesitas dan berbagai penyakit seperti karies gigi, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Selain itu, gula yang berlebih juga dapat menyebabkan terjadinya tanda penuaan dini pada kulit.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan jurnal Current Opinion on Clinical Nutrition and Metabolic Care melaporkan anak obesitas yang melakukan detoks gula atau mengeliminasi gula tambahan selama 9 hari, mengalami perbaikan metabolisme tubuh. Sementara pada orang dewasa, mengurangi atau mengeliminasi gula tambahan dapat memangkas kalori, menurunkan berat badan dan kesehatan kulit lebih terjaga.

Namun, seseorang yang sudah adiksi terhadap gula, apabila tiba–tiba dikurangi atau dihilangkan sama sekali, maka bisa mengalami gejala withdrawal seperti sulit konsentrasi, gelisah dan mudah lelah. Pada penelitian tersebut, dalam 5 hari pertama anak yang melakukan detoks gula berubah menjadi mudah rewel dan cemas.

Gula juga tidak selalu ada pada makanan yang manis seperti kue, es krim dan makanan penutup lainnya. Gula juga dapat tersembunyi pada minuman Anda salah satunya minuman bersoda atau minuman kaleng.

Sebetulnya tidak perlu melakukan detoks gula secara ekstrim serta menghilangkan gula dari menu makanan dan minuman harian. Anda cukup menghilangkan gula tambahan secara perlahan agar terbiasa, misalnya biasa minum teh manis diganti dengan teh tawar serta mengganti nasi putih dengan nasi merah yang memiliki indeks glikemik (kemampuan suatu zat dalam meningkatkan kadar gula darah di dalam tubuh) lebih rendah agar terhindar dari obesitas dan penyakit berbahaya lainnya.

[DA/ RVS]

 

0 Komentar

Belum ada komentar