Sukses

Hati-hati, Sering Main Gawai Bisa Picu Depresi!

Gawai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan siapa pun di zaman ini. Namun, penggunaannya ternyata dapat memicu depresi.

Klikdokter.com, Jakarta Perkembangan gawai yang pesat juga diikuti oleh sejumlah fakta negatif. Berbagai studi mengungkapkan bahwa penggunaan gawai rentan memicu depresi.

Penelitian pada hewan—dalam hal ini hamster—menunjukkan bahwa paparan rutin dari cahaya yang dipancarkan oleh gawai selama 8 jam sehari dapat menimbulkan gejala depresi. Meski demikian, gejala depresi akan menghilang setelah paparan terhadap gawai tersebut ditiadakan.

Tak hanya pada hewan, manusia pengguna gawai pun rentan mengalami depresi. Hal ini dipaparkan oleh dua studi yang berbeda.

Alejandro Lleras, profesor bidang psikologi dari University of Illinois, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa penggunaan gawai dan internet yang berlebihan dapat menimbulkan perasaan depresi dan gelisah. Ia meneliti 300 mahasiswa untuk mendapatkan kesimpulan tersebut.

Namun, gejala depresi dan gelisah tersebut tidak ditemukan pada mahasiswa yang hanya menggunakan gawai seperlunya.

Senada dengan studi yang dipublikasikan di jurnal Computers in Human Behaviour, para peneliti dari University of Pittsburgh School of Medicine juga mendapatkan hasil yang serupa.

Mereka meninjau 1.787 orang dewasa yang berusia 19–32 tahun yang sehari-harinya biasa menggunakan gawai untuk mengakses media sosial.

Dari studi tersebut, didapati bahwa subjek penelitian rata-rata mengakses media sosial selama satu jam per hari. Sementara itu, sekitar 450 subjek penelitian lainnya mengakses media sosial secara berlebihan.

Para peneliti juga melihat adanya peningkatan risiko depresi—hampir tiga kali lipat lebih besar—pada mereka yang terlalu banyak mengakses media social, ketimbang mereka yang masih bisa “menahan diri”.

Menurut mereka, munculnya depresi pada orang yang terlalu sering memantengi media sosial adalah karena paparan kehidupan yang terlalu ideal yang kerap kali ditunjukkan di media sosial. Gambaran keluarga bahagia, sering jalan-jalan ke luar negeri, memiliki mobil dan tubuh yang ideal, dan sebagainya.

Hal tersebut disinyalir menimbulkan perasaan iri hati, yang kemudian membuat mereka tidak puas diri dan berujung pada depresi.

Menanggapi hubungan antara gawai dengan depresi, bukan berarti Anda tidak boleh mengakses media sosial lagi. Boleh saja untuk hiburan, tetapi ingat, seperlunya saja karena segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar