Sukses

Kenali Fakta dan Mitos Gusi Berdarah

Banyak fakta dan mitos yang beredar tentang gusi berdarah. Namun, jangan anggap sepele kondisi tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Gusi berdarah adalah gejala yang paling sering terjadi saat gusi meradang. Kondisi ini paling mudah diketahui saat Anda membuang busa pasta gigi saat menyikat gigi. Namun, kebanyakan orang menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Apakah memang wajar, atau sebaliknya?

Untuk mengetahui dengan jelas, simak fakta dan mitos seputar gusi berdarah berikut ini:

  1. Fakta: Gusi yang sehat dan normal tidak mengeluarkan darah

    Gusi yang normal berwarna merah muda, menempel kencang pada gigi dan tulang. Gusi yang normal tidak akan berdarah saat disikat, disentuh, dan ditelusuri oleh dokter gigi menggunakan alat probe.

    Jika Anda mendapati kondisi gusi berdarah setelah menyikat gigi dan terjadi secara terus-menerus lebih dari seminggu, segeralah pergi ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi (scaling). Jangan tunggu sampai timbul rasa nyeri di gigi. Dengan segera periksa ke dokter gigi, kerusakan gigi bisa segera ditangani dan diharapkan tidak bertambah parah.

  2. Fakta: Gusi berdarah disebabkan karena penumpukan plak gigi

    Plak gigi adalah lapisan tipis transparan yang langsung terbentuk segera setelah Anda makan. Plak gigi masih dapat dibersihkan dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari, pada pagi dan malam hari sebelum tidur.

    Namun bila sudah lebih dari 2x24 jam, plak gigi akan mengeras menjadi karang gigi. Karang gigi yang menumpuk dapat menyebabkan gusi meradang, bengkak, dan mudah berdarah.

  3. Mitos: Gusi berdarah akan sembuh sendiri tanpa perawatan

    Jangan mengabaikan gejala seperti gusi berdarah, hawa mulut terasa tidak enak, tercium bau mulut, gusi bengkak, atau gusi yang turun. Bila dibiarkan, gejala-gejala tersebut akan semakin parah. Mengganti pasta gigi, obat kumur, dan obat-obatan hanya akan meredakan gejala, tapi proses perjalanan penyakit masih tetap berjalan. Cara terbaik agar gejala tidak memburuk yaitu Anda harus menjaga kebersihan rongga mulut.

  4. Fakta: Gusi yang terlanjur turun, tidak bisa naik lagi

    Gusi yang turun tidak dapat naik kembali secara alami, tanpa tindakan bedah. Hal ini disebabkan oleh terlepasnya jaringan epitel pelekat antara gusi dan gigi. Akibatnya, sebagian akar gigi terekspos dan sering menyebabkan gigi menjadi sensitif.

 

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

5. Mitos: Penyakit gusi bukanlah penyakit yang serius

Bila gejala gusi berdarah saat menyikat gigi diabaikan, maka penyakit akan bertambah parah, mengarah ke periodontitis. Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal. Periodontitis yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan jaringan permanen, seperti penurunan gusi dan gigi goyang.

6. Mitos: Periksa ke dokter gigi hanya saat sakit gigi saja

Menurut survei, 46 persen orang baru akan ke dokter gigi bila menemukan darah pada sikat giginya. Padahal, idealnya, Anda harus periksa ke dokter gigi secara rutin yaitu enam bulan sekali. Ini penting agar dokter gigi dapat mencegah kerusakan yang terjadi di sekitar gigi. Dengan pemeriksaan teratur, gigi Anda pun dapat sehat kembali seperti semula.

7. Mitos: Gusi berdarah hanya terjadi pada orang usia tua

Memang, penyakit gusi lebih umum terjadi pada orang usia tua. Namun ada beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi terjadinya gusi berdarah pada Anda. Faktor risiko tersebut yaitu merokok, riwayat penyakit di keluarga, diabetes, dan stres.

8. Fakta: Menyikat gigi terlalu kencang bisa sebabkan gusi berdarah

Sikatlah gigi dengan cara yang tepat dan akurat, bukan dengan tenaga yang kencang. Tenaga yang kencang bisa mendorong gusi terbuka sehingga berdarah. Anda juga perlu mengganti sikat gigi dengan yang berbulu sikat lembut dan memperhatikan teknik sikat gigi yang benar.

9. Fakta: Bau mulut gejala penyakit gusi

Ada dua kemungkinan penyebab bau mulut, yaitu pertama, sisa makanan yang diproses oleh bakteri menghasilkan VSCs (Volatile Sulfur Compounds). Kedua, ada bau darah akibat gejala gusi berdarah (gingivitis) dan periodontitis, sehingga menyebabkan bau mulut.

Nah, dengan memahami keadaan wajar dan tak wajar yang terjadi di sekitar gigi dan gusi, Anda semestinya dapat lebih memperhatikan tanda-tanda yang diberikan tubuh. Pastikan juga untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut agar terhindar dari bau mulut dan gusi berdarah.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar