Sukses

8 Tanda Anak Anda Kecanduan Gawai

Kecanduan gawai bukan hanya ‘penyakit’ orang dewasa. Kondisi ini juga bisa menyerang anak Anda. Ini tanda-tandanya.

Klikdokter.com, Jakarta Data statistik menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak memiliki kebiasaan menggunakan gawai sebelum ia mampu berbicara. Tak heran, kejadian anak kecanduan gawai pun makin meningkat.

Kecanduan gawai pada anak dapat menimbulkan dampak buruk, salah satunya terkait perkembangan otak yang terhambat.

Perkembangan otak anak di 5 tahun pertama kehidupannya akan optimal bila ia mendapat stimulasi bicara, visual, motorik kasar, dan motorik halus. Bila anak mengalami kecanduan gawai, keempat stimulasi tersebut tidak bisa didapatkan dengan cukup.

Selain itu, kecanduan gawai juga menyebabkan anak cenderung tidak banyak bergerak. Hal ini membuatnya berpotensi mengalami obesitas. Anak yang mengalami obesitas lebih rentan terkena diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke saat sudah dewasa.

Tak hanya sampai di situ. Studi menemukan bahwa anak yang kecanduan gawai cenderung memiliki perilaku agresif; lebih mudah marah dan melakukan tindak kekerasan. Bila masih balita, perilaku agresif ditunjukkan dengan mudah tantrum pada hal-hal sepele.

Karena dampaknya sangat serius, orangtua perlu mengenali tanda-tanda anak yang kecanduan menggunakan gawai sebagai berikut:

  1. Menggunakan gawai di setiap waktu luang
  2. Terlihat gelisah bila tidak sedang menggunakan gawai
  3. Tidak tertarik dengan aktivitas lain, selain bermain dengan gawai
  4. Enggan bepergian ke luar rumah
  5. Mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari
  6. Melanggar batas waktu menggunakan gawai yang diperbolehkan oleh orangtua
  7. Menggunakan gawai secara sembunyi-sembunyi
  8. Tidak mampu konsentrasi dengan baik di sekolah

Bila anak Anda melakukan 2 dari 8 hal di atas, kemungkinan besar ia sudah mengalami kecanduan gawai. Bila itu terjadi, Anda harus berdiskusi untuk menentukan cara yang tepat untuk mengatasinya. Bila tak dapat menyelesaikannya sendiri, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar