Sukses

Benarkah Penyakit Parkinson Bermula dari Usus?

Studi terbaru menunjukkan bahwa penyakit parkinson diduga bermula dari bakteri yang hidup di dalam usus manusia.

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini ditemukan bahwa penyakit parkinson kemungkinan bermula dari ketidakseimbangan komposisi bakteri usus. Hasil studi ini memberikan pandangan baru terhadap timbulnya penyakit dan pengobatan parkinson.

Memang, hingga kini belum diketahui mekanisme yang jelas mengapa parkinson bisa timbul. Yang jelas, otak mengalami kerusakan secara progresif, sehingga penderitanya akan mengalami tremor (gemetar) dan kesulitan bergerak.

Bakteri Usus vs Parkinson

Akhir 2016 silam, para peneliti dari Departemen Neurologi, University of Wisconsin-Madison meneliti tikus-tikus yang telah diprogram secara genetik untuk mengidap parkinson. Tikus-tikus ini memproduksi protein alpha-synuclein, berhubungan dengan kerusakan otak pada pasien parkinson, dalam kadar yang sangat tinggi.

Tikus-tikus tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok. Dua kelompok mengandung bakteri usus yang komposisinya mirip bakteri dalam usus manusia, dan satu kelompok bebas bakteri.

Pada tahap pertama percobaan didapatkan bahwa tikus yang mengandung bakteri usus menunjukkan gejala parkinson. Sedangkan tikus yang steril tetap sehat.

Berikutnya, tikus yang bebas bakteri diberikan sisa metabolisme bakteri usus dalam rupa asam lemak rantai pendek (short chain fatty acids/ SCFAs). Ditemukan bahwa gejala parkinson kemudian muncul pada tikus-tikus ini.

Di tahap akhir percobaan, tikus-tikus yang bebas bakteri menerima transplantasi bakteri usus dari pasien dengan atau tanpa penyakit parkinson. Tampak bahwa gejala parkinson menjadi lebih jelas dan memburuk pada tikus yang menerima transplantasi dari pasien parkinson.

Bermula dari Usus

Melihat hasil studi tersebut, para peneliti cukup yakin bahwa bakteri usus mengatur, atau bahkan dibutuhkan untuk memunculkan gejala parkinson.

Bagaimana caranya? Mekanisme persisnya memang belum diketahui. Akan tetapi teori yang berkembang berkaitan dengan ketidakseimbangan kadar zat-zat kimia yang dihasilkan oleh bakteri usus.

Dalam kondisi normal, bakteri usus akan memecah serat menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/ SCFA) dan memproduksi zat-zat kimia lain yang turut mengatur metabolisme tubuh. Ketidakseimbangan kadar zat-zat inilah yang kemudian memicu kerusakan otak.

Keseimbangan kadar zat-zat kimia tersebut erat kaitannya dengan jumlah dan komposisi jenis bakteri di dalam usus. Pada penderita Parkinson, ditemukan komposisi bakteri usus tertentu lebih banyak daripada orang sehat. Ditemukan pula jenis bakteri yang tidak dimiliki penderita parkinson, tetapi ada pada orang sehat.

Para peneliti masih belum yakin mana yang muncul terlebih dulu, apakah bakteri usus yang memicu parkinson atau sebaliknya. Yang jelas, gejala yang pertama kali muncul pada 75% pasien parkinson kerap berhubungan dengan gangguan pencernaan seperti peradangan atau konstipasi.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan dan uji pada manusia untuk bisa mendapatkan penjelasan yang lebih mendetail. Namun hasil studi ini telah memberikan paradigma baru dalam proses timbulnya penyakit parkinson. Hasil studi ini juga memunculkan alternatif terapi penyakit parkinson, yang mungkin berupa obat-obat saluran cerna atau bahkan probiotik.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar