Sukses

Aritmia Penyebab Jantung Sering Berdebar

Anda sering mengalami jantung berdebar diikuti rasa sakit di dada? Jika ya, Anda mungkin mengalami penyakit aritmia.

Klikdokter.com, Jakarta Aritmia adalah penyakit sistem listrik jantung. Sistem listrik jantung terdiri dari generator listrik alamiah yang disebut nodus sinoatrial dan jaringan konduksi listrik dari atrium ke ventrikel. Gangguan pada pembentukan dan penjalaran impuls listrik inilah yang menimbulkan gangguan irama jantung.

Selain itu, irama jantung yang kurang dari 60 kali per menit atau lebih dari 100 kali per menit, serta terdapat hambatan impuls supra/intraventrikular adalah gejala lain dari penyakit aritmia.

Jantung berdebar-debar adalah gejala tersering yang dialami penderita aritmia, namun spektrum gejala aritmia cukup luas, mulai dari pusing, pingsan, stroke, bahkan kematian mendadak.

Banyak pasien yang mengeluh berdebar ketika denyut jantungnya tidak teratur, terasa lebih kuat, bahkan terasa sakit di dada. Jantung berdebar yang terjadi di luar keadaan fisiologis adalah debaran yang abnormal.

Bahkan, Prof. DR. dr. Yoga Yuniadi SpJP (K) mengungkapkan, gejala penyakit aritmia juga bisa menyebabkan seseorang menderita stroke.

“Bayangkan bahwa 20-40 persen penderita stroke itu disebabkan oleh atrial fibrilasi (salah satu jenis aritmia), dan orang (yang menderita) atrial fibrilasi 40 persennya gejala pertamanya stroke,” katanya saat konferensi pers dengan tema ‘Mengatasi Aritmia, Cegah Kematian Mendadak’ di Jakarta, Jumat (11/8/2016).

Kurangi konsumsi kopi, cokelat, atau teh

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kematian terbesar di Indonesia disebabkan oleh penyakit stroke. Karena itu, Yoga memprediksi, penyakit aritmia akan terus mengalami peningkatan.

“Sementara yang mengalami fibrilasi atrium akan lebih dari dua juta orang di Indonesia, Sebagian besar disumbang oleh atrial fibrilasi, kenapa? Karena orang Indonesia banyak yang hipertensi,” ungkapnya.

Ia menyarankan, bagi seseorang yang sudah terdiagnosis menderita aritmia, kebiasaan mengonsumsi kopi, cokelat, dan teh harus dihindari karena hal ini akan memicu meningkatnya irama jantung.

“Terlalu banyak pasien yang menunjukkan adanya peningkatan kejadian aritmia, paling tidak peningkatan laju jantungnya setelah minum kopi, setelah makan cokelat atau teh yang pekat. Sehingga saya sendiri menyarankan kepada pasien-pasien yang memang sudah terdiagnosis aritmia untuk menghindari itu,” kata Yoga yang juga menjadi profesor aritmia di RS Jantung dan Pembuluh Darah, Harapan Kita.

Ia mengungkapkan, banyak penderita aritmia yang tidak menyadari bahwa dirinya terdiagnosis aritmia karena menganggap gejala-gejala yang muncul adalah hal yang biasa terjadi. Karena itu, Yoga menyarankan untuk melakukan medical check up jantung satu tahun sekali.

“Pada dasarnya, kesehatan secara umum kita harus melakukan medical check up jika status kardiovaskular baik, ya setahun sekali cukup.

Tetapi jika pada medical check up didapatkan kelainan tertentu, maka interval pemeriksaan berikutnya menjadi lebih singkat atau memang orang yang sudah didiagnosis ada masalah kardiovaskular, biasanya membutuhkan cek rutin yang intervalnya lebih dekat, paling tidak enam bulan sekali,” ungkapnya.

Mengingat sedikitnya para spesialis jantung dan pembuluh darah yang tertarik belajar aritmia serta fasilitas yang diberikan pemerintah belum memadai, Yoga yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berharap, semua pihak dapat memberikan perhatian khusus mengatasi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia ini.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar