Sukses

Waspada, Kanker Kepala dan Leher Sulit Dideteksi

Meskipun tidak sepopuler kanker lainnya, kanker kepala dan leher ini juga sama ganasnya.

Klikdokter.com, Jakarta Kanker kepala dan leher menempati ukuran ke-5 sebagai kanker yang paling banyak diderita. Meski demikian, kanker ini masih belum dikenal luas oleh masyarakat.

Salah satu alasannya, bisa jadi karena letak tumornya yang kadang tersembunyi sehingga sulit dideteksi pada stadium awal.

“Gejala awal tak mudah dikenali. Misalnya, kalau ada lesi di lidah hanya dikira sariawan biasa,” kata Dr. Marlinda Adham, SpTHT-KL(K), PhD, dokter spesialis THT, dalam acara “Bincang-Bincang Bersama Ahli Kanker Kepala Leher” di RSCM, Kamis (10/08/2017).

Suara serak juga dapat menjadi salah satu gejala kanker kepala dan leher, dan terkadang dianggap sepele.

“Hal ini membuat angka kematian kanker kepala dan leher tergolong besar, karena orang baru menyadarinya saat sudah stadium lanjut,” ujar Prof. DR. Dr. Soehartati Gondhowiardjo, Sp.Rad(K)OnkRad, ahli onkologi radiasi, pada kesempatan yang sama.

Padahal, jika ditemukan pada stadium awal, angka kesembuhan dapat mencapai 80–90 persen.

Sayangnya, akses informasi mengenai tanda dan gejala kanker masih tidak merata. Akibatnya masyarakat sering kali mendapatkan informasi yang salah dan terlambat mendapatkan pengobatan yang tepat.

“Banyak pasien yang lebih memilih pengobatan alternatif. Setelah penyakitnya makin parah, barulah mereka ke dokter,” kata Prof. Soehartati. Ini tentunya dapat membuat penderita lebih sulit sembuh.

Berdasarkan fakta, kanker kepala dan leher mengakibatkan kematian sebanyak 300 ribu di dunia setiap tahunnya. Sementara itu, kasus kejadian kanker ini mencapai 550 ribu setiap tahunnya.

Ada begitu banyak kanker yang berpeluang muncul pada daerah kepala dan leher, antara lain kanker nasofaring, kanker laring, kanker rongga mulut, kanker kelenjar liur, kanker rongga mata, serta kanker sinonasal.

Seperti kanker pada umumnya, kunci utama penanganan kanker kepala dan leher terletak pada pencegahan dan deteksi dini kanker. Bahkan, sebanyak 43% dari seluruh kasus kanker dapat dihindari dengan menjalankan pola hidup sehat.

“Kurangi makanan (dari hewan) yang dibudidayakan atau yang diolah karena tidak tahu kan makanannya dikasih apa. Makanan dengan pengawet, penyedap, perasa, dan tembakau juga perlu dihindari. Perbanyak makan sayur dan buah,” pungkas Prof. Soehartati.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar