Sukses

Kabar Baik, Vaksin Gonore Mulai Dikembangkan

Beberapa ilmuwan di Selandia Baru menemukan vaksin gonore. Seperti apa perkembangan vaksin ini?

Klikdokter.com, Jakarta Angka kejadian penyakit gonore terus meningkat dari waktu ke waktu. Diperkirakan sekitar 78 juta orang di dunia terinfeksi penyakit ini, karena vaksin gonore belum ditemukan.

Gonore tergolong sebagai penyakit menular seksual, karena dapat menyebar melalui hubungan intim. Bentuk penularan yang lain adalah dari ibu ke anak saat proses persalinan, yang menyebabkan infeksi mata pada bayi baru lahir.

Salah satu komplikasi yang ditakutkan dari penyakit gonore adalah radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease/ PID) yang bisa mengakibatkan kemandulan.

Saat ini, pengobatan untuk penyakit gonore semakin sulit. Pasalnya, kuman penyebab penyakit ini, yaitu N.gonorrhoeae, diketahui semakin kebal terhadap hampir seluruh jenis antibiotik. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan kuman ini ke dalam daftar bakteri pengancam terbesar (greatest threat bugs).

Vaksin Gonore

Kabar baik datang dari Selandia Baru. Beberapa ilmuwan di negara tersebut menemukan bahwa vaksin terhadap meningitis diperkirakan dapat mencegah penyakit gonore juga.

Penemuan ini sebenarnya dapat dikatakan tidak sengaja. Saat itu sedang dilakukan vaksin meningitis (radang otak) besar-besaran untuk masyarakat di Selandia Baru, karena kejadian penyakit ini meningkat tajam. Namun ternyata tak hanya meningitis yang dicegah, vaksin tersebut juga turut menekan kejadian penyakit gonore hingga 30%.

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi masih belum diketahui secara pasti. Namun diperkirakan struktur genetik antara kuman gonore dan kuman meningitis memiliki kemiripan, sehingga vaksin meningitis dapat menyerang kuman gonore juga.

Penemuan ini menjadi titik terang dalam pencarian solusi untuk masalah kekebalan antibiotik. Karena berbagai penelitian yang dilakukan beberapa tahun belakangan untuk mencari vaksin gonore masih belum membuahkan hasil.

Dukung kemajuan vaksin gonore dengan tidak mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter!

(NB/ RH)

1 Komentar