Sukses

Diet Ketogenik dan Diet Ketofastosis, Apa Bedanya?

Diet ketogenik dan diet ketofastosis semakin populer dikalangan orang yang ingin menurunkan berat badan. Tapia pa perbedaan keduanya?

Klikdokter.com, Jakarta Tak sedikit orang yang memimpikan badan langsing bak model terkenal. Jadi, tak heran kalau banyak yang berlomba-lomba untuk mencoba berbagai jenis diet –seperti yang sedang naik daun saat ini, yaitu diet ketogenik dan diet ketofastosis.

Diet ketogenik maupun ketofastosis sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki riwayat epilepsi. Namun kini telah di adopsi untuk program pemangkasan lemak dan penurunan berat badan.

Istilah keto diambil dari kata ketosis yang merupakan kondisi di mana hati (liver) manusia akan memproduksi keton untuk digunakan sebagai energi tubuh terutama otak. Jika tidak terdapat asupan karbohidrat atau glukosa sebagai sumber makanan, maka proses ketosis akan terjadi.

Meski memiliki nama yang mirip, diet ketogenik dan ketofastosis memiliki perbedaan yang signifikan.

Diet Ketogenik

Ini merupakan pola makan rendah karbohidrat, tinggi lemak, dan protein sedang. Tujuan utama dari diet ketogenik adalah mengurangi jumlah karbohidrat, sehingga kadar glukosa di dalam tubuh menyusut. Dengan ini, tubuh akan membakar lemak untuk menghasilkan energi.

Meski terdengar bermanfaat, diet ketogenik memberikan efek samping berupa:

  1. Peningkatan trigliserida

    Karena tubuh tidak memiliki kadar karbohidrat yang cukup untuk bahan bakar, lemak akan digunakan sebagai penggantinya. Jika lemak ini digunakan secara berlebihan, kolesterol atau trigliserida dapat meningkat.

  2. Mudah lemas dan mengantuk

    Jika asupan karbohidrat dibatasi secara sembarangan, efek buruk yang terjadi adalah rasa lapar terus-menerus, pusing, lemas dan mudah mengantuk.

Diet Ketofastosis

Perpaduan antara diet ketogenik dan fastosis. Diet ini mengharuskan Anda menjalankan pola diet ketogenik sambil berpuasa sekitar 6–12 jam.

Diet ketofastosis memiliki efek samping berupa:

  1. Healing crisis

    Ini adalah kondisi dimana Anda akan mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti jerawat, kulit gatal-gatal, kulit kering, ketombe, mual, atau bahkan lemas.

  2. Butuh komitmen seumur hidup

    Tujuan diet ketofastosis adalah mengatur kembali pola makan seseorang. Dibutuhkan niat dan komitmen yang kuat, karena berdampak penuh pada pola metabolisme tubuh. Jika tidak dilakukan berkelanjutan (seumur hidup), hal-hal yang sangat buruk mungkin saja terjadi.

Sebelum menjalankan diet ketogenik atau diet ketofastosis, pastikan Anda memiliki riwayat kesehatan yang baik. Diskusikan dengan dokter Anda, karena beberapa ahli gizi menyebutkan bahwa metode diet tersebut dapat merusak otot, termasuk otot jantung.

Apa pun metode yang dipilih, baik diet ketogenik maupun diet ketofastosis, Anda harus tetap berolahraga secara rutin dan teratur. Ini karena tidak ada cara instan untuk menurunkan berat badan. Salam sehat!

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar