Sukses

Dampak Buruk Perceraian pada Kesehatan

Perceraian tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis seseorang, tetapi juga pada kesehatan fisiknya.

Klikdokter.com, Jakarta Bercerai bukanlah tujuan dari sebuah pernikahan. Namun, sebagian pasangan suami-istri memilih untuk bercerai dengan alasan demi kebaikan bersama. Namun, apapun alasannya, yang jelas perceraian akan berdampak pada kondisi kejiwaan dan kesehatan kedua belah pihak.

Penceraian akan memunculkan emosi-emosi negatif, seperti kesedihan, rasa cemas, kekhawatiran, dan merasa tak mampu bertahan hidup. Semua perasaan ini memberikan stres terhadap tubuh.

Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, terjadi peningkatan tekanan darah, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan reaksi peradangan yang berlebihan. Kombinasi dari semuanya ini akan memicu berbagai gangguan kesehatan seperti:

  • Gangguan cemas dan depresi

    Perceraian kerap membuat seseorang merasa gagal dalam kehidupan rumah tangganya. Ia juga merasa tidak “aman” karena kehilangan dukungan ekonomi, pekerjaan, atau karena harus pindah ke lingkungan baru.

    Kondisi ini akan memicu stres dan trauma jangka panjang yang berujung pada gangguan cemas dan depresi.

  • Insomnia

    Insomnia umum terjadi pada orang yang mengalami depresi, termasuk depresi akibat perceraian. Gangguan tidur ini muncul tanpa disadari, akibat tubuh dan pikiran Anda tidak tenang dengan ketidakhadiran pasangan.

    Stres secara langsung meningkatkan kadar hormon kortisol. Akibatnya, seseorang sulit untuk masuk tidur atau mempertahankan tidur. Kurang tidur pun akhirnya membuat stres semakin bertambah.

  • Infeksi

    Secara langsung, stres akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga Anda rentan mengalami infeksi. Infeksi ini dapat berupa flu, batuk, dan pilek.

  • Gangguan pencernaan

    Asam lambung akan meningkat sebagai respons dari stres. Bila stres ini terjadi berkepanjangan, penyakit mag dapat sering kambuh. Masalah-masalah pencernaan gangguan penyerapan dan sindrom iritasi usus juga dapat semakin memburuk.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  • Berat badan berubah drastis

    Seseorang yang sedang stres cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam, yang dapat memperbaiki mood dan emosi untuk sementara waktu.

    Jika berlebihan, ini akan meningkatkan berat badan. Namun, ada pula yang berespons sebaliknya, menjadi tidak nafsu makan sehingga berat badannya menurun drastis.

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah

    Sebuah studi menunjukkan, risiko serangan jantung pada wanita yang telah bercerai lebih tinggi 24% daripada yang tidak bercerai. Risiko ini jauh lebih tinggi, yaitu 77% pada wanita yang telah bercerai lebih dari satu kali.

    Mengapa wanita lebih berisiko? Pada wanita, stres akibat perceraian menimbulkan respons peradangan yang lebih hebat dan lebih lama. Ini sejalan karena wanita biasanya mengalami dampak perceraian yang lebih bermakna akibat beban emosional dan beban sosial (misalnya stigma “janda”).

  • Penyakit kronik dan gangguan mobilitas

    Sebuah studi dalam Journal of Health and Social Behavior menemukan, orang yang telah menduda/ menjanda lebih banyak 20% yang mengalami penyakit kronik—seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker—dibandingkan dengan yang menikah.

    Mereka juga cenderung memiliki gangguan mobilitas—keterbatasan gerak—seperti tidak mampu berjalan jauh atau naik tangga.

  • Ketergantungan zat tertentu

    Sebagian orang yang bercerai dapat mengalami ketergantungan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang untuk mengatasi kesendirian, rasa cemas atau depresi. 

    The Journal of Men’s Health pada tahun 2012 menyebutkan bahwa angka ketergantungan terhadap zat-zat tertentu, angka kematian, dan depresi pada pria yang bercerai lebih tinggi daripada pria yang menikah.

    Tidak semua orang akan mengalami gangguan-gangguan kesehatan seperti yang telah dijelaskan. Namun demikian, harus diakui bahwa perceraian merupakan pengalaman menyakitkan, yang sedikit banyak akan memengaruhi kondisi psikis dan fisik Anda. 

Oleh karena itu, Anda perlu menyediakan waktu untuk merawat diri sendiri agar dapat tetap positif.

Langkah pertama, segera cari dukungan moral dan sosial melalui keluarga dan sahabat dekat. Perhatikan pula gaya hidup Anda, usahakan konsumsi makanan sehat yang bergizi, cukup tidur, dan luangkan waktu untuk berolahraga. Aktivitas seperti yoga dan meditasi juga sangat baik untuk menurunkan stres yang sedang dialami.

Pada akhirnya, Anda harus bisa mengelola emosi negatif akibat perceraian. Belajar menerima perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan akan jauh lebih baik daripada menekan atau mengabaikannya. Ini penting untuk mengurangi dampak psikologis dan gangguan kesehatan akibat perceraian.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar