Sukses

Awas, Perubahan Iklim Bisa Picu Gangguan Jiwa

Perubahan iklim dapat menimbulkan depresi, gangguan cemas, hingga bunuh diri. Bagaimana bisa?

Klikdokter.com, Jakarta Perubahan iklim kerap dihubungkan dengan efek buruk terhadap lingkungan dan kesehatan fisik masyarakat. Ternyata, tak hanya sampai di situ. Laporan terkini dari American Psychological Association, Climate for Health, dan ecoAmerica menyebutkan bahwa perubahan iklim berimbas besar terhadap kondisi kejiwaan seseorang.

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan jiwa bisa terjadi secara langsung maupun bertahap.

Dampak langsung lebih terkait dengan bencana alam—seperti badai dan banjir— yang membuat orang terluka, kehilangan harta benda, serta orang-orang yang dicintai. Kondisi ini dapat menyebabkan depresi, gangguan cemas, dan post-traumatic stress disorder (PTSD/ gangguan stres pascatrauma).

Sementara itu, dampak perubahan iklim yang terjadi bertahap berhubungan dengan kemarau panjang dan peningkatan batas permukaan laut.

Kemarau panjang atau kekeringan menyebabkan petani mengalami kesulitan ekonomi. Permukaan laut yang semakin meningkat lama-kelamaan memaksa orang untuk berpindah tempat tinggal.

Akibatnya mereka mengalami gegar budaya, isolasi, serta kehilangan kontak sosial, pekerjaan, dan pendapatan. Semua hal ini dapat memicu depresi, penggunaan obat-obat terlarang, dan bahkan bunuh diri.

Penelitian Soal Perubahan Iklim & Gangguan Jiwa
Psikolog James Rubin dari King’s College London meneliti dampak psikologis banjir sebagai salah satu efek perubahan iklim, yang kini juga banyak terjadi di negara maju.

Ia menyebarkan survei kepada 8.000 orang yang tinggal di area yang mengalami banjir pada tahun 2013–2014 untuk mencari tanda-tanda depresi dan gangguan cemas.

Lebih dari 2.000 orang menjawab survei tersebut. Berdasarkan jawaban-jawabannya, mereka kemudian dikelompokkan sesuai tingkat paparan terhadap banjir—apakah langsung, tidak langsung, atau tidak sama sekali—dan jenis kondisi gangguan jiwa yang mungkin dialami.

Didapatkan bahwa kelompok yang terkena banjir secara langsung memiliki masalah kejiwaan terbesar. Sebanyak 20% mengalami depresi, 28,3% gangguan cemas, dan 36% PTSD.

Pada kelompok yang tidak terkena banjir secara langsung (hanya terjadi di lingkungan tetapi tidak di dalam rumah), 10% mengalami depresi dan 15% PTSD. Yang tidak terkena banjir sama sekali, hanya 6% yang mengalami depresi dan 8% PTSD.

Efek perubahan iklim seperti banjir, kemarau panjang, meningkatnya permukaan laut, dan suhu lingkungan dapat meningkatkan stres psikologis melalui berbagai cara. Kesulitan ekonomi, hilangnya kontak sosial, dan trauma adalah beberapa di antaranya.

Karena itu, untuk mengurangi stres dan mencegah gangguan jiwa yang lebih berat akibat perubahan iklim, diperlukan komunitas masyarakat yang tangguh dan mampu memberikan dukungan sosial.

Intip artikel serupa di sini 

[RS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar