Sukses

Sapi Bisa Membantu Pengobatan Virus HIV pada Manusia?

Sapi mampu menghasilkan antibodi penetralisir yang dapat mempertahankan sel melawan virus HIV

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu tugas terbesar yang dihadapi dunia kesehatan saat ini adalah mengembangkan vaksin yang mampu melawan virus HIV.

Sejumlah ilmuwan menemukan fakta bahwa sapi mampu menghasilkan antibodi penetralisir yang dapat mempertahankan sel untuk melawan virus HIV.

HIV adalah sebuah virus yang jahat. Virus ini mudah bermutasi, sehingga setiap kali sistem kekebalan pasien melawan virus ini, HIV selalu bergeser dan mengubah bentuknya.

Sementara itu, seorang peneliti di International Aids Vaccine Initiative and the Scripps Research Institute (IAVI), mencoba melakukan imunasi pada sapi. Hasilnya, antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan sapi berkembang dalam hitungan minggu.

“Pada manusia dibutuhkan tiga sampai lima tahun untuk mengembangkan antibodi. Siapa sangka sistem biologis sapi memberi kontribusi signifikan terhadap HIV,” kata Devin Sok, Direktur Penelitian dan Pengembangan di IAVI , seperti dikutip dari bbc.com.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature itu menunjukan, antibodi pada sapi dapat membantu menetralkan virus HIV hingga 20% dalam 42 hari. Dalam 381 hari, antibodi sapi dapat menetralkan hingga 96% virus.

Sementara itu, teori lain mengungkapkan, sistem antibodi yang kuat pada sapi dihasilkan karena sistem pencernaannya yang besar dan dihuni oleh bakteri yang melimpah.

“HIV adalah virus manusia, namun peneliti pasti bisa belajar dari respon kekebalan tubuh hewan,” kata Devin Sok.

Dari temuan ini, Devin berharap para periset bisa mengeksplorasi untuk meniru efek antibodi pada sapi, atau memodifikasi untuk mengembangkan vaksin dan perawatan bagi penderita HIV.

Senada dengan temuan ini, Anthony Fauci, M.D., Direktur National Institute of Allegry and Infectious Diseases (NIAID) mengatakan, penelitian ini menuntun untuk memahami bagaimana sistem kekebalan tubuh dapat mengembangkan antibodi secara efektif terhadap HIV, sekalipun itu berasal dari seekor sapi.

Penelitian ini juga dapat dijadikan informasi berharga untuk bekal di kemudian hari, terlebih apabila para peneliti bisa menciptakan semacam replikasi dalam tubuh manusia untuk melakukan hal serupa.

“Sejatinya, antibodi penetralisir ditemukan pertama kali di tahun 1990an. Sejak masa itu, kami telah mencoba mendapatkan antibodi yang sama melalui proses imunisasi dan lainnya. Hasilnya nihil. Kami belum pernah dapat melakukannya sampai sekarang. Sampai akhirnya keberadaan seekor sapi ini telah memberikan beberapa informasi penting, sehingga kelak kita bisa menerapkannya pada manusia,” kata Devin.

Semoga di masa depan, temuan ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan untuk mencegah berkembangnya virus HIV. Selain itu, kelak dapat membantu mengembangkan vaksin yang lebih kuat untuk mendorong sistem kekebalan tubuh manusia.

baca artikel serupa di sini

[BA/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar