Sukses

Kanker Rahim dan Kanker Serviks, Samakah?

Kanker rahim dan kanker serviks bukan penyakit yang sama. Baca lebih lanjut untuk mengetahui penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Menurut WHO, ada sembilan puluh ribu kasus kematian pada wanita yang disebabkan oleh penyakit kanker. Salah satu jenis kanker yang sering diderita wanita adalah kanker serviks dan kanker rahim.

Kedua kanker ini sama-sama menyerang organ reproduksi wanita, tetapi lokasi organ yang terkena sel-sel kanker berbeda. Kanker rahim adalah pertumbuhan sel yang tak terkendali yang menyerang organ rahim, dinding rahim, dan sekitarnya.

Sedangkan kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang tak terkendali yang terjadi pada leher rahim. Leher rahim merupakan saluran yang menghubungkan antara vagina dan rahim.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai kanker rahim dan kanker serviks:

Kanker rahim
Kanker rahim termasuk jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita, faktor penyebab kanker rahim sampai saat ini belum dapat diketahui. Namun terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim seperti:

  • Umur

    Peningkatan risiko kanker rahim berkaitan dengan bertambahnya usia seorang wanita. Sebagian besar kanker rahim menyerang wanita yang sudah mengalami menopause di usia 63 tahun ke atas.

  • Riwayat kehamilan

    Wanita yang memiliki riwayat hamil di atas usia 35 tahun dan wanita yang belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker rahim.

  • Obesitas

    Keterkaitan wanita obesitas dengan kanker rahim dikemukakan oleh beberapa penelitan. Beberapa penelitian tersebut mengungkapkan, wanita yang memiliki indeks massa tubuh di atas 30 memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.

  • Terapi hormon

    Wanita yang memiliki riwayat terapi hormon estrogen, yang biasanya terjadi pada wanita yang telah menopause, memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.

  • Riwayat keluarga

    Sebanyak 10% penderita kanker rahim disebabkan faktor genetika.

Selain mengetahui faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim, Anda juga perlu mengenali lebih jauh tentang gejala kanker rahim. Beberapa gejala kanker rahim yaitu, perdarahan vagina, nyeri di perut bagian bawah, siklus menstruasi yang tidak teratur, penurunan berat badan secara tiba-tiba, dan rasa tidak nyaman di bagian panggul.

Jika Anda memiliki salah satu gejala di atas, segera konsultasi lebih lanjut dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul, atau pemeriksaan biopsi.

Kanker serviks

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling sering menyebabkan kematian wanita Indonesia. Pada tahap awal, kanker serviks tidak menimbulkan gejala. Hal ini yang menyebabkan penderita kanker serviks di Indonesia meningkat, karena keterlambatan diagnosis. Saat sudah diperiksa, stadium kanker serviks sudah lanjut.

Beberapa gejala kanker serviks yaitu perdarahan vagina di luar masa menstruasi, perdarahan setelah masa menopause, keputihan bercampur darah, nyeri di daerah panggul, nyeri saat berhubungan seksual, dan penurunan berat badan.

Untuk mencegah terjadinya kanker serviks, Anda sebaiknya memeriksakan kesehatan organ kewanitaan secara rutin, setahun sekali. Anda perlu memeriksakan diri sejak umur 21 tahun atau saat Anda mulai aktif dalam aktivitas seksual.

Semakin dini kanker serviks ditemukan, angka kesempatan hidup akan semakin besar. Beberapa tes yang dapat Anda lakukan adalah tes inspeksi visual asam asetat di puskesmas atau pemeriksaan lanjutan dengan pap smear.

Yuk, mulai perhatikan kesehatan organ kewanitaan Anda dengan pemeriksaan rutin organ reproduksi setahun sekali. Pemeriksaan ini dapat membantu Anda mendeteksi adanya lesi (luka) prakanker yang apabila ditemukan sejak dini dapat meningkatkan angka harapan hidup lebih baik.

[BA/RVS]

1 Komentar

  • mar5haf

    mungkin maksud kanker rahim adalah ca endometrium. endometrium adalah dinding rahim lapisan paling dalam. ca endometrium ada dua tipe, estrogen dependent dan non estrogen dependent. estrogen dependent biasanya pada wanita obes, DM, yg mendapat terapi hormon. pada obesitas, lemak mengalami aromatase sehingga diubah menjadi estrogen yang efek kepada endometrium menjadi penebalan endometrium yang lama2 menjadi kanker. penyebab non esteogen dependent biasa terjadi pada wanita yang sudah menopause.